Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini Kecam Aksi Penculikan Aktivis Kemanusiaan untuk Gaza

Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini mengecam keras aksi militer Israel yang menculik aktivis kemanusiaan dan lingkungan yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza pada Senin 9 Juni 2025.

Diperbarui 11 Juni 2025, 22:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini mengecam keras aksi militer Israel yang menculik aktivis kemanusiaan dan lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, bersama 11 aktivis lainnya di kapal Madleen yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza pada Senin 9 Juni 2025.

Kapal yang merupakan bagian dari Koalisi Armada Kebebasan (Freedom Flotilla Coalition/FFC) itu diketahui berada di perairan internasional saat disergap paksa oleh pasukan Israel.

Tindakan ini bukan hanya agresif dan provokatif, tetapi juga merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan.

"Tindakan Israel ini tidak bisa ditoleransi. Ini adalah bentuk arogansi penjajah yang melanggar hukum laut internasional dan mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia," ujar Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini yang juga merupakan Anggota Komisi I DPR, melalui keterangan tertulis, Selasa (10/6/2025).

Dia mengatakan, Fraksi PKS mendesak pemerintah Indonesia untuk menyuarakan protes keras melalui jalur diplomatik, sekaligus menuntut Dewan Keamanan PBB dan lembaga internasional terkait agar yang pertama segera menekan Israel untuk membebaskan seluruh aktivis yang ditahan secara ilegal.

"Kedua, menjatuhkan sanksi tegas atas pelanggaran terhadap hukum internasional ini. Lalu ketiga, menjamin perlindungan dan keselamatan bagi seluruh misi kemanusiaan yang membantu rakyat Palestina," terang Jazuli.

"Mereka yang membawa bantuan kemanusiaan, termasuk Greta Thunberg, adalah simbol keberanian dan solidaritas dunia terhadap penderitaan rakyat Gaza. Dunia internasional tidak boleh diam. Diam adalah bentuk pembiaran terhadap kejahatan," sambung Anggota DPR Dapil Banten ini.

Menurut Jazuli, Fraksi PKS menegaskan kembali komitmennya untuk membela perjuangan rakyat Palestina dan mendukung segala upaya kemanusiaan yang memperjuangkan keadilan dan hak hidup yang layak bagi warga Gaza serta lepas dari penjajahan Israel.

 

Israel: Greta Thunberg dan Aktivis di Kapal Freedom Flotilla dalam Kondisi Aman dan Tak Terluka

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, para aktivis di Kapal Freedom Flotilla -- termasuk Greta Thunberg -- dalam kondisi aman dan tidak terluka.

Kemlu Israel menerbitkan sebuah video yang memperlihatkan para aktivis yang semula hendak menuju Gaza kini dikawal oleh Angkatan Laut Israel ke Pelabuhan Ashdod, dikutip dari laman Times of Israel, Senin 9 Juni 2025.

"Semua penumpang aman dan tidak terluka. Mereka diberi roti lapis dan air. Pertunjukan sudah berakhir," kata kementerian tersebut di X.

Kapal Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang mencoba menerobos blokade Israel atas Gaza dilaporkan diserang di perairan internasional.

"Kapal Madleen saat ini diserang di perairan internasional. Sejumlah quadcopter (drone) mengelilingi kapal, menyemprotnya dengan zat berwarna putih seperti cat. Komunikasi terganggu dan suara-suara mengganggu diputar melalui radio," demikian unggahan dari akun Instagram @gazafreedomflotilla pada Senin 9 Juni 2025 pukul 06.50 WIB.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Minggu 8 Juni 2025 memerintahkan militer untuk menghentikan kapal yang turut mengangkut aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg.

"Saya telah menginstruksikan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk bertindak agar Madleen … tidak mencapai Gaza," kata Katz seperti dilansir CNA.

"Kepada Greta yang antisemitisme dan teman-temannya yang menyuarakan propaganda Hamas, saya katakan dengan tegas: Lebih baik kalian berbalik arah karena kalian tidak akan sampai ke Gaza."

Greta mengatakan bahwa dirinya bergabung dalam pelayaran Madleen untuk menantang pengepungan ilegal Israel dan kejahatan perang yang semakin meningkat di Gaza, serta menyoroti kebutuhan mendesak akan bantuan kemanusiaan. Dia menolak tuduhan antisemitisme yang sebelumnya juga dilontarkan oleh pihak Israel.

 

Israel: Aktivis di Kapal Freedom Flotilla Akan Dipulangkan ke Negara Masing-masing

Sebelumnya, Israel mengonfirmasi telah menarik kapal aktivis pro-Palestina yang berlayar menuju Gaza, Madleen, ke wilayahnya setelah pasukan menaiki kapal tersebut pada Selasa.

Tidak ada laporan korban dalam insiden ini. Kapal itu diketahui membawa 12 aktivis, termasuk tokoh-tokoh publik yang disebut oleh pemerintah Israel sebagai “selebriti”.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Israel menyebut bahwa kapal tersebut kini dalam perjalanan menuju pantai Israel.

"Kapal itu dengan selamat menuju pantai Israel. Para penumpang diharapkan kembali ke negara asal mereka," tulis pernyataan tersebut, dikutip dari laman Times of Israel, Senin 9 Juni 2025.

Belum jelas di mana para aktivis ditahan saat ini. Namun, Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa mereka akan dipulangkan ke negara masing-masing setelah proses pemeriksaan selesai.

Kapal Madleen diorganisasi oleh Koalisi Armada Kebebasan dan bertujuan mengirim bantuan serta meningkatkan kesadaran atas krisis kemanusiaan di Gaza. Namun, menurut otoritas Israel, muatan bantuan di kapal itu sangat minim -- "kurang dari satu truk penuh," ungkap pernyataan tersebut.

Israel juga menyindir aksi tersebut sebagai "provokasi media" yang lebih bertujuan untuk mendapatkan sorotan ketimbang memberikan bantuan yang berarti.

"Ada cara untuk mengirimkan bantuan ke Jalur Gaza -- tidak melibatkan swafoto Instagram," tambah kementerian, menyebut bahwa bantuan yang tidak dikonsumsi akan dialihkan ke Gaza melalui jalur resmi.

Koalisi penyelenggara kapal mengatakan pihaknya telah kehilangan kontak dengan kapal. Mereka membagikan sejumlah video prarekam di Telegram yang memperlihatkan para aktivis meminta bantuan dari negara-negara asal mereka.

Dalam dua minggu terakhir, Israel mengklaim telah mengizinkan lebih dari 1.200 truk bantuan masuk ke Gaza. Selain itu, Yayasan Kemanusiaan Gaza disebut telah mendistribusikan hampir 11 juta makanan kepada warga sipil di wilayah tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi mengenai operasi penangkapan kapal Madleen dan masih merujuk pertanyaan media kepada Kementerian Luar Negeri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6