Sukses

Sensasi Bajaj Roda Empat, Tanpa Getar

Liputan6.com, Jakarta - Ada yang lain di salah sudut Kota, Jakarta Pusat, tepatnya tidak jauh dari Stasiun Kota. Bila biasanya Anda menjumpai antreanBajaj biru dan bemo, kini perlahan pemandangan tersebut langka ditemui. Moda transportasi tersebut bertransformasi ke roda empat, Bajaj Qute.

Sejak Dinas Perhubungan DKI Jakarta menguji coba kendaraan roda empat yang merupakan program Angkutan Pengganti Bemo (APB), pada Rabu 19 Juli 2017, respons baik ditunjukkan para penggunanya. Sebagian dari mereka menganggap moda transportasi ini cukup nyaman dibanding jenis Bajaj sebelumnya.

Sarti, salah satu penumpang Bajaj mengatakan, selain nyaman, dia tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Bisa dibilang, ongkos yang dikeluarkan sama dengan Bajaj roda tiga.

"Sekarang lebih suka naik ini dibanding angkutan lain, karena ini juga sekarang lebih nyaman dan aman, ya. Harganya juga murah jadi enak," ujar Sarti kepada Liputan6.com, Selasa (25/7/2017).

Lain halnya dengan Buyung, penumpang satu ini berharap pemerintah memperbanyak jumlah Bajaj Qute yang dioperasikan.

"Semoga saja pemerintah makin banyakin kendaraan kayak gini. Selain murah juga nyaman. Enggak kayak yang dulu berisik dan asap di mana-mana," tutur Buyung.

Berbeda dari Bajaj roda tiga, desain Bajaj Qute mirip dengan mobil pada umumnya. Rupanya pun cukup imut karena perawakannya yang mungil.

Meski mungil, siapa sangka kendaraan ini dilengkapi empat kursi. Kursi di belakang mampu menampung tiga penumpang dan dua kursi di depan.

Kecepatan kendaraan ini hanya mencapai 70 kilometer per jam. Bensin yang dihabiskan cukup irit, yaitu 1 liter per 36 kilometer.

Kendaraan ini pun dilengkapi dengan piranti audio yang dapat diputar dengan USB. Jadi, penumpang tidak terlalu suntuk bila terjebak kemacetan ketika di dalam Bajaj Qute.

Ongkos yang dikeluarkan per orang untuk trayek Stasiun Kota - Pademangan cuma Rp 5 ribu. Jadi, bila Bajaj Qute mengangkut dua orang untuk satu perjalanan dikenai ongkos Rp 10 ribu.

Sama halnya seperti Bemo, Bajaj Qute ini akan menunggu penumpangnya hingga tempat duduk terisi penuh dengan tiga penumpang di belakang dan satu penumpang di depan. Jika penumpang belum mencapai empat orang maka sopir enggan beranjak.

"Biasanya yang ramai jam 8 sampe jam 10 pagi, atau jam 4 sore sampai 7 malam. Kalau siang gini sepi," ucap salah satu pengemudi Bajaj Qute, Pardi.

Selain tidak berisik, emisi yang dikeluarkan Bajaj Qute tidak seperti bemo. Tidak ada asap yang mengebul dari kendaraan tersebut. Saat berjalan pun tidak ada getaran berlebihan di dalam Bajaj Qute ini.

Pardi mengatakan, ada perubahan pendapatan setelah mengubah Bemo roda tiga yang sebelumnya dia kendarai dengan Bajaj Qute. Hal ini dikarenakan bahan bakarnya lebih irit.

"Dulu Bemo aja sehari abis Rp 120.000, kalau sekarang ada ginian bensin sehari cuma Rp 50.000, 8 liter. Ini mah ya lumayan ya penghasilannya dibanding dengan yang dulu mah," kata Pardi.

Namun lain hal dengan pengemudi lainnya, Simbolon, yang mengaku dengan adanya Bajaj Qute ini malah membuat utang setiap bulannya.

"Cuma kita jadi punya utang sekarang nih. Yang tadinya kita enggak punya utang jadi punya utang bulanan, karena masih kredit ini Bajaj," ujar Simbolon.

Untuk memiliki armada baru ini, setiap mantan pengemudi bemo harus menukarkan bemo lamanya dan membayar Rp 10 juta. Angsuran yang dikenakan setiap bulan Rp 2,8 juta selama tiga tahun.

Meski begitu, armada baru ini dari segi sumber daya manusianya, belum ada perubahan. Pengemudi masih harus diedukasi untuk mematuhi peraturan lalu lintas.

Sementara itu, pengemudi Bajaj roda tiga, Iwan, mengatakan bahwa dia masih kerasan dengan Bajaj lamanya. Menurutnya, tidak ada pro-kontra di antara sesama pengemudi Bajaj Qute dengan Bajaj roda tiga.

"Rezeki udah ada yang ngatur, lagian kalau Bajaj Qute itu kan arahnya sesuai rute jadi enggak terganggu sama Bajaj-Bajaj yang biasanya cari penumpangnya keliling," tutur Iwan. (Liputan6.com/Apriani Nurul Aridha)

 

Saksikan video di bawah ini: