Negara-negara Ini Sering Langgar Wilayah Udara Indonesia

Pelanggaran tersebut berpotensi memicu konflik antar-negara.

Diterbitkan 10 November 2015, 08:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pekanbaru - Wilayah teritorial udara Indonesia rupanya sering dilanggar pesawat tempur negara lain. Terpantau paling banyak dilakukan oleh Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) lainnya.

Hal ini terungkap dari perbincangan Liputan6.com dengan Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru Marsma Henri Alfiandi. Karena itu, menurut dia, pelanggaran tersebut berpotensi memicu konflik antar-negara.

"Potensi konflik yang paling besar itu datang dari negeri tetangga. Ibarat sebuah rumah tangga, potensi konflik itu datang tetangga sendiri, ya dari kanan-kiri," ucap Henri di kantornya, Pekanbaru, Riau, Selasa (10/11/2015).

"Ya negeri tetangga itu seperti Malaysia, Brunei dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Negara inilah yang sering melanggar teritorial udara untuk kawasan Sumatera," tambah Hendri.

Baca Juga

  • TNI Paksa Turun Pesawat AS yang Terbang dari Hawaii di Tarakan
  • 2 Jurnalis Inggris Divonis Bersalah Langgar Imigrasi di Batam
  • TNI Masih Periksa Pilot AS yang Lintasi Tarakan Tanpa Izin

Meski demikian, tutur Henri, negara tetangga yang melanggar batas itu tak bisa langsung dinyatakan musuh. Sebab, pelanggaran itu belum memberikan ancaman serius terhadap Indonesia.

Menurut dia, dalam rumus militer, potensi konflik itu selalu dilakukan tetangga. Daerah yang berdekatan menjadi faktor utama.

Untuk menghindari maraknya pelanggaran itu, TNI AU menyiagakan beberapa pesawat tempur yang ada di lapangan udara untuk meningkatkan patroli perbatasan.

"Operasi ini dinamakan Baruna Nusantara. Patroli dilakukan rutin disetiap perbatasan yang ada di Indonesia," ungkap Marsma Henri.

Operasi Baruna Nusantara ini dilakukan seiring dengan status siaga I yang ditetapkan Panglima TNI. Status ini untuk meningkatkan kesiagaan dan kewaspadaan Indonesia dalam menghadapi berbagai ancaman.

"Status saat ini sudah siaga I. Status ini merupakan kesiapsiagaan personel TNI atas perintah Panglima TNI," pungkas Henri. (Ndy/Mut)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6