Sukses

Masjid di Jakarta Disebut Media Australia Rekrut Anggota ISIS

Liputan6.com, Jakarta - Masjid Al Fataa di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, disebut-sebut sebagai tempat perekrutan anggota kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Penularan kelompok ISIS juga disebutkan terus berkembang di Indonesia.

Hal itu diungkapkan dan diulas Media Australia, The Sydney Morning Herald dalam sebuah laporan panjang tentang keberadaan sebuah masjid di Jakarta dan fenomena terus berkembangnya ISIS di Indonesia, Sabtu (8/8/2015).

Di awal laporan itu, ditulis bahwa masjid itu dulunya bekas bangunan kolonial Belanda. Namun, bangunan itu diubah menjadi tempat ibadah pada tahun 1950-an. Tak jauh dari sana, berdiri Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS).

Media itu mengungkapkan, selain berlokasi di jantung Ibukota dan kawasan elite pemerintahan Indonesia, masjid itu juga jadi pusat rekrutmen untuk kelompok ISIS.

Fairfax Media bahkan memperoleh rekaman video eksklusif dari analis terorisme Indonesia dan pembuat film dokumenter Noor Huda Ismail. Video itu menunjukkan sekelompok anak muda Indonesia di Al-Fataa yang bersumpah setia kepada pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.

Sumpah setia tersebut dipimpin mantan pemuja Abu Bakar Baasyir, Fauzan al-Anshori. Para pemuda itu bersumpah setia kepada Sheikh Ibrahim bin Awad bin Ibrahim al-Husseini al-Quraisy, nama resmi dari Baghdadi.

Bantahan Pengurus Masjid

Namun, seorang pengurus masjid, Farihin, mengatakan kepada Fairfax Media bahwa pihaknya tidak mendukung ISIS. Tapi, dia mengakui bahwa spanduk pro-ISIS pernah dipajang di luar masjid sebelum akhirnya pemerintah memaksa pengurus masjid menurunkannya.

"Siapa pun bisa datang ke sini selama ritual mereka sesuai dengan syariah," kata dia ketika ditanya apakah orang-orang pro-ISIS dibiarkan masuk ke masjid itu.

"Kegiatan mereka hanya respons terhadap apa yang terjadi di Timur Tengah," imbuh Farihin.

Dia juga menyangkal bahwa perekrutan ISIS terjadi di Al-Fataa.

Sedangkan relawan Indonesia yang pernah mendukung ISIS, Budi Waluyo, menjelaskan soal fenomena ketertarikan orang-orang dengan ISIS.

"Begitu banyak orang yang tertarik ISIS sejak ‘kekhalifahan’ diproklamirkan oleh Sheikh al-Baghdadi," kata dia.

"Mereka ingin tahu dan datang untuk mendengarkan. Mereka memiliki berbagai tingkat pemahaman dan pengetahuan tentang Alquran," imbuh Budi. (Ado/Nda)

Loading