Sukses

Mesir Dukung Indonesia Jadi Kiblat Pendidikan Islam Dunia

Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan sudah saatnya Indonesia menjadi kiblat pendidikan Islam dunia. Niat ini juga didukung oleh Duta Besar Mesir untuk Indonesia Bahaa Dessouki.

"Jadi kami mendukung kalau Indonesia mencanangkan ide tersebut. Apalagi Indonesia merupakan populasi Muslim terbesar di Indonesia. Kami, Mesir, akan terus mendukung Indonesia dan segala kebijakan Indonesia akan kami dukung," terang Dessouki, di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (12/1/2015).

Mesir, lanjut Dessouki, siap berpartisipasi dengan menyediakan tenaga pengajar yang kompeten. Negara yang dialiri Sungai Nil itu memiliki lembaga pendidikan yang terpercaya dan tersebar di seluruh dunia.

"Kami punya sekolah Islam terbesar di dunia, namanya Universitas Al-Azhar, dan banyak orang Indonesia yang kerja di sana, ratusan jumlahnya. Ada banyak lulusan di sana jadi guru agama di Indonesia," kata Dessouki.

Mmenurut Menteri Agama Lukman Hakim, selama ini ada kesan kiblat dan pusat pendidikan Islam berada di negara-negara Timur Tengah yang menggunakan Bahasa Arab. Kini sudah saatnya Indonesia menjadi kiblat pendidikan Islam bagi warga dunia.

"Hal yang dapat mendukung keinginan tersebut karena  Indonesia merupakan negara demokratis terbesar di dunia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada saat negara-negara di Timur Tengah, terutama negara yang sempat dilanda gelombang Arab Spring, bangsa Indonesia dengan penduduk Muslim mayoritas bisa menjadi magnet baru bagi bangsa-bangsa lain," jelas Lukman.

Lukman memberi contoh pelaksanaan demokrasi, hubungan antaragama yang harmonis, pluralisme, kemajuan ekonomi dan kompatibalitas Islam dan hak-hak asasi manusia adalah hal yang dapat mendukung perwujudan Indonesia menjadi kiblat pendidikan Islam dunia. Dasar lainnya, Indonesia dipercaya negara-negara Islam untuk menyelenggarakan kegiatan internasional tentang Islam.

"Terakhir, performa jamaah haji Indonesia di mata dunia juga sangat positif," demikian Lukman. (Ger/Sss)

Loading