Sukses

Salam Perpisahan dari SBY

Liputan6.com, Jakarta - Agenda tahunan kenegaraan itu kembali digelar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Presiden RI menyampaikan Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) di hadapan anggota DPR dan anggota DPD RI menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Semuanya memang nyaris sama. Pengamanan ketat di lingkungan Gedung Parlemen di Senayan sejak pagi adalah pemandangan biasa setiap kali Presiden RI menyambangi kantor wakil rakyat ini.

Jumat 15 Agustus pagi, 4 kendaraan tempur (panser) Anoa buatan perusahaan pelat merah, Pindad, lengkap bersama Tim Evakuasi Kendaraan Taktis terlihat mencolok. Selain itu, 2 helikopter milik TNI Angkatan Udara pun hadir di depan Gedung Nusantara II.

Kesamaan lainnya, tidak semua anggota DPR menyempatkan hadir di acara yang cukup penting ini. Jarang-jarang Presiden RI berpidato di Gedung DPR, namun tak semua wakil rakyat menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib dihadiri.

Terhitung 198 anggota DPR belum menandatangani daftar hadir ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memulai pidatonya. Angka itu lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR dan hanya 362 orang yang hadir. Beberapa anggota DPR juga terlambat tiba di ruang rapat.

Yang tidak sama adalah jadwal Pidato Kenegaraan yang biasanya setiap tanggal 16 Agustus, khusus untuk tahun ini dimajukan ke tanggal 15 Agustus karena tanggal 16 Agustus bertepatan dengan hari libur. Sama dengan Pidato Kenegaraan 2009 yang dilangsungkan pada 14 Agustus lantaran tanggal 16 Agustus jatuh di hari Minggu.

Namun, dari semuanya itu, Pidato Kenegaraan kali ini menjadi sangat istimewa karena menjadi pidato perpisahan untuk Presiden SBY yang akan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada presiden terpilih nantinya pada 20 Oktober mendatang.

Wajar kalau pidato ini banyak ditunggu berbagai kalangan karena diyakini bakal banyak merefleksikan 10 tahun pemerintahan SBY serta pandangannya terhadap pemerintahan baru nantinya.

Benar saja, dalam pidatonya SBY banyak menyebutkan pencapaian dan keberhasilan pemerintah selama 10 tahun terakhir. Pidato kali ini juga terasa sangat pribadi dengan banyaknya penyebutan kata ganti 'saya' di sepanjang kalimat.

Mengenakan jas hitam dengan dasi berwarna ungu, SBY memuji jasa perintis kemerdekaan dan mereka yang telah berjuang dari waktu ke waktu hingga saat ini. Tak lupa SBY memberikan pengandaian saat Indonesia baru berdiri dengan capaian yang diraih saat ini:

Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari purchasing power parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah yang tercepat di Asia.

Dari bangsa yang kerap jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengkonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia.

Pendek kata, setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis.

Dalam lanjutan pidatonya, SBY menyoroti banyak hal. Mulai dari kemiskinan, pendidikan, ekonomi, utang luar negeri, demokrasi, hukum, kejahatan korupsi, Palestina, pemilu serta transisi pemerintahan secara damai. Dalam setiap membahas topik tersebut, SBY selalu menyampaikan capaian pemerintahannya serta harapan kepada pemerintahan mendatang.

Di bagian akhir pidato, SBY menuntaskan dengan mengucapkan salam perpisahan. Mantan Kepala Staf Teritorial ABRI ini menegaskan bahwa sepanjang menjabat sebagai presiden dirinya selalu berbuat yang terbaik dan tak pernah melanggar sumpah jabatan:

Hari ini, saya berdiri di mimbar yang mulia ini dengan seribu perasaan yang sulit saya lukiskan. Sudah dapat dipastikan, inilah terakhir kalinya saya berpidato di tempat yang terhormat ini sebagai Presiden Republik Indonesia.

Walaupun ini adalah pidato yang ke-10, perasaan saya sebenarnya sama dengan sewaktu pertama kali berdiri di sini tahun 2005: penuh semangat dan tekad, untuk berbuat yang terbaik dan memberikan segalanya kepada bangsa dan negara.

Dalam 10 tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat kepada saya sebagai Presiden.

Tanggung jawab saya pada akhirnya bukanlah kepada partai politik, bukanlah kepada parlemen atau pemerintah atau suatu kelompok, namun kepada Republik, kepada rakyat Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya, kepada sejarah, dan tentunya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tak lupa, dengan semua cerita sukses yang terukir selama 10 tahun pemerintahannya, SBY menyadari ada tugas yang belum selesai dan janji yang belum terpenuhi. Pada kesempatan ini pula dengan terbuka dirinya meminta maaf kepada publik atas khilaf yang ada:

Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menjadi Presiden Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Menjadi Presiden dalam landskap politik di mana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya.

Tentunya dalam 10 tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan itu. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa.

Meski akan segera melepas jabatan, SBY menegaskan tetap membuka diri serta mengulurkan tangan bagi presiden setelahnya yang membutuhkan bantuan. Bahkan, SBY juga menyerukan kepada publik untuk mendukung siapa pun nantinya presiden yang menggantikan dirinya.

Di mimbar yang mulia ini, saya, Susilo Bambang Yudhoyono, juga berjanji untuk membantu siapa pun yang akan menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019, jika hal itu dikehendaki: 

Ini adalah kewajiban moral saya sebagai mantan Presiden nantinya, dan sebagai warga negara yang ingin terus berbakti kepada negaranya. Melalui mimbar ini pula, saya mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih yang nanti akan disahkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Tahun depan, Presiden kita yang baru akan memberikan pidato kenegaraannya di mimbar ini. Saya mengajak segenap bangsa Indonesia, marilah kita bersama-sama mendengarkannya, dan mendukung beliau untuk kebaikan dan kemajuan negeri ini.

Pidato itu pun diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada jajaran birokrasi yang telah mendukung lajunya pemerintahan. Tak terkecuali bagi mereka yang terlupakan karena mengabdi di daerah terpencil  dan jauh dari pusat kekuasaan:

Akhirnya, saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada jajaran pemerintahan dan seluruh rakyat Indonesia atas dukungan dan partisipasi saudara-saudara, dalam mewujudkan agenda-agenda pembangunan dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Secara khusus kepada saudara-saudara yang mengabdi di daerah-daerah terpencil, pulau-pulau terdepan, pegunungan, dan perbatasan negara, terima kasih atas pengabdian saudara-saudara yang melebihi panggilan tugas.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, melimpahkan rahmat, karunia, dan ridho-Nya kepada kita semua, dalam membangun bangsa dan negara kita, menjadi bangsa yang besar, maju, adil, sejahtera, dan bermartabat.

Maka, berakhirlah cerita selama 10 tahun itu. Sebuah pidato yang di awal begitu tegas dan menjadi emosional di bagian akhir. Ini kali pertama seorang presiden di Indonesia mengucapkan salam perpisahan dalam kondisi damai dan ingin melepas jabatannya dengan santun.

Banyak kalangan yang memuji pidato SBY kali ini sebagai pidato yang menggugah dan menginspirasi. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang hadir di Gedung Parlemen mendengarkan pidato itu mengaku terharu, bahkan hingga berlinang air mata.

"Saya tadi terus terang lebih banyak terharu, pidato yang bagus dengan memaparkan prestasi yang luar biasa, tetapi ditutup dengan rendah hati. Saya tadi berlinang air mata," kata Dahlan saat ditemui di kompleks Gedung DPR.

Sejatinya SBY tetaplah seorang presiden hingga tanggal 20 Oktober mendatang. Namun, dirinya telah menyiapkan mental dan emosi sejak dini agar bisa terbiasa untuk kembali menjadi warga biasa ketika presiden yang baru berkuasa.

Sebuah pelajaran berharga bagi sejarah demokrasi bangsa ini telah ditorehkan di Gedung Parlemen. Dan, memang begitulah harusnya seorang pemimpin melihat kekuasaan yang tak abadi, karena yang abadi hanyalah perubahan.


Loading