Suku Kamoro, dan Kebudayaan yang Tersisa

Budaya kehidupan air melekat pada Suku Kamoro, Mimika, Irianjaya. Mereka berupaya memperjuangkan budaya animisme yang terkikis, setelah kedatangan Hindia Belanda dan agama Katolik pada 1925.

Diterbitkan 17 Agustus 2001, 12:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Mimika: Air adalah sumber kehidupan suku Kamoro, di bumi Mimika, Irianjaya. Karena itu pula budaya Kamoro lebih didominasi kehidupan air. Mulai dari berburu buaya sebagai mata pencaharian, transportasi untuk berinteraksi dengan suku lain, hingga seni membuat perahu yang melambangkan status sosial pembuat dan pemiliknya.

Tradisi berburu buaya yang sempat disaksikan SCTV baru-baru ini, memperlihatkan cara-cara yang unik. Ternyata, mereka sangat memperhatikan kelestarian dan keseimbangan ekosistem. Bahkan pada suatu waktu, perburuan tak bisa dilakukan karena ada sashi, larangan berburu karena buaya masih kecil. Sashi dikeluarkan oleh Paitua, pemangku adat setempat. Namun, demikian sashi juga dapat dilanggar bila si pemburu dapat menyediakan sebungkus tembakau dan sejumlah uang sebagai sesaji untuk meminta izin leluhur.

Tradisi lain yang berhubungan erat dengan kehidupan air adalah budaya membuat perahu. Beberapa tahun silam, orang Kamoro membuat perahu dari batu [baca: Air Mengitari Kehidupan Kamoro]. Tapi, seiring dengan kemajuan zaman, mereka mulai mengenal peralatan yang terbuat dari logam. Perahu dibuat dari gelondongan kayu utuh yang menjadi ciri dari perahu jenis Torpa atau Kole-Kole dan perahu Jhonson. Kole-Kole adalah perahu dengan ukuran kecil yang dimiliki keluarga inti. Sedangkan Jhonson adalah perahu yang lebih besar, yang ditempeli sebuah mesin berkekuatan 30 PK (tenaga kuda). Biasanya, kendaraan air ini menjadi milik sebuah klan keluarga. Nama Jhonson diambil dari jenis mesin yang digunakan untuk mendorong perahu.

Di massa perang antarsuku dan kampung, perahu menjadi sarana utama buat bertempur. Tapi, ketika perang antarsuku sudah dilarang, semangat bertarung dilampiaskan dalam bentuk lomba dayung. Sekali setahun mereka berkumpul dalam pesta Kakuru untuk saling menunjukkan kekuatan dan kecepatan mendayung sebuah Kole-Kole [baca: Kamoro Kakuru]. Dalam pesta Kakuru itu juga digelar lelang barang-barang ukiran dan karya seni.

Sebenarnya, inti dari pesta adalah untuk melestarikan budaya leluhur dan memperkuat kekerabatan di antara suku yang satu dengan lainnya. Penghormatan kepada leluhur tersebut disebut Totem Mbitoro. Ritual dibuka dengan pemancangan Patung Mbitoro, simbol pemujaan terhadap roh leluhur. Hal tersebut melambangkan tekad warga suku Kamoro untuk menjaga tradisi nenek moyang yang tersisa, setelah budaya animisme mereka terkikis pascakedatangan Hindia Belanda pada 1925 yang diikuti kehadiran penyebaran agama Katolik.

Wilayah suku Kamoro membentang sepanjang 300 kilometer, mulai dari Teluk Etna di bagian barat, hingga Sungai Otakwa di belahan timur. Hamparan wilayah itu terdiri dari rawa-rawa dan hutan. Berdasarkan catatan sejarah, suku Kamoro telah mengenal dunia luar sejak 1911. Bersama sub-kelompoknya yaitu Nawaripi, Kaperapoka, dan Tipuka, suku ini cenderung lebih mudah berkomunikasi dengan pendatang.(YYT)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6