Kasus Poso Mendapat Reaksi Keras

Pemerintah didesak membubarkan Densus 88 Antiteror Polri serta meninjau kembali penanganan kasus Poso. Hari ini 200 personel Brimob tiba di Palu untuk membantu upaya pemulihan keamanan di Poso.

Diterbitkan 23 Januari 2007, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Kontak senjata antara polisi dan warga sipil bersenjata yang menewaskan 14 orang di Poso, Sulawesi Tengah, mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Amir Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Ba`asyir dan sejumlah tokoh Forum Umat Islam, misalnya, Selasa (23/1) siang menemui Wakil Ketua MPR dan DPR. Mereka mendesak Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dibubarkan dan pemerintah harus meninjau kembali penanganan kasus Poso.

Sedangkan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Kontras) serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat mendesak polisi menghentikan pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Menurut mereka, Polri harus memiliki cara kerja yang lebih sistematis.

Menanggapi hal itu, Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Makbul Padmanegara menegaskan, polisi tetap akan mengedepankan pendekatan persuasif dalam menangani para tersangka kasus Poso. Namun, polisi akan menindak tegas warga yang melakukan perlawanan. Polri sendiri memperkirakan jumlah tersangka akan bertambah, karena beberapa orang yang terlibat kontak tembak tidak masuk dalam daftar pencarian orang yang pernah dikeluarkan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan, TNI belum mau mencampuri pekerjaan polisi mengejar buronan kasus Poso. Namun, Dephan mendukung usaha polisi menangkap warga sipil bersenjata. TNI sendiri menurut Sjafrie sudah mendekati wilayah Poso dan siap menerima tugas jika diminta membantu polisi.

Dari Poso dilaporkan, sebanyak 200 personel Brigade Mobil dari Satuan Pelopor Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, siang tadi tiba di Bandar Udara Mutiara, Palu, Sulteng, menggunakan dua buah pesawat Hercules. Kedatangan pasukan tambahan ini dimaksudkan untuk membantu upaya pemulihan keamanan pascakontak senjata kemarin pagi [baca: Seorang Polisi Tewas dalam Baku Tembak di Poso].

Insiden kemarin juga mendapat tanggapan serius dari pihak pejabat Kota Poso, yang segera melakukan pertemuan dengan pejabat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Dalam pertemuan selama satu jam di rumah jabatan Bupati Poso, dibahas masalah pemulihan keamanan serta perbaikan rumah warga yang rusak saat penyergapan oleh polisi. Situasi Kota Poso sendiri hingga siang tadi belum kondusif. Bahkan, sekolah diliburkan hingga Jumat mendatang [baca: Poso Belum Pulih].

Sementara itu, jenazah anggota Brimob Brigadir Polisi Dua Roni Iskandar yang tewas dalam penggerebekan di Poso, siang tadi tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Jenazah Roni disambut dengan upacara militer yang dipimpin Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara. Sesaat setelah jenazah dimasukkan ke ambulans, ibu almarhum tak sadarkan diri sehingga harus dibopong ke luar tempat upacara.

Sesudah disemayamkan di Markas Brimob, jenazah Roni akhirnya dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Polri, Cikeas, Bogor, Jabar. Pemakaman juga dilaksanakan secara militer meski di bawah guyuran hujan deras. Atas jasanya, korban diberi kenaikan pangkat satu tingkat menjadi brigadir polisi satu anumerta.

Almarhum bergabung dengan kesatuan Brimob sejak tahun 1999. Selama rentang waktu itu hingga kematiannya, Roni sudah ditugaskan di sejumlah daerah konflik seperti Timor Leste, Maluku, Nanggroe Aceh Darussalam dan Sampit, Kalimantan Tengah.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6