Pertikaian di Mimika Berhenti Sesaat

Perang panah dan tombak berhenti dengan sendirinya karena mereka yang bertikai menganggap waktu berperang hari ini sudah berakhir. Ada kemungkinan perang akan berlanjut besok.

Diterbitkan 06 September 2006, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Mimika: Tawuran antarkelompok warga di Kampung Kwamki Lama, Mimika, Papua kembali pecah, Rabu (6/9). Bentrokan berlangsung sepanjang hari, sejak pukul 04.30 pagi waktu setempat hingga pukul 17.00 WIT. Perang panah dan tombak berhenti dengan sendirinya karena mereka yang bertikai menganggap waktu berperang hari ini sudah berakhir [baca: Pertikaian di Mimika Sulit Diredam].

Ada kemungkinan perang akan berlanjut besok. Sementara puluhan polisi dan tentara yang ditugaskan di lokasi pertikaian layaknya seperti pajangan saja. Mereka sama sekali tak mampu menghentikan bentrokan.

Tawuran awalnya terkonsentrasi di Jalan Kanguru yang menjadi kawasan netral yang membatasi Kampung Kwamki Atas dan Kampung Kwamki Tengah. Tak lama wilayah tawuran meluas hingga ke hutan. Sebanyak 13 warga terkena anak panah beracun dalam insiden ini dan kini dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika. Sementara puluhan warga lain yang terluka menolak dibawa ke rumah sakit.

Ketua Panitia Khusus Penyelesaian Konflik Majelis Rakyat Papua Alfius Murib saat berdialog dengan reporter SCTV Bayu Sutiyono melalui sambungan telepon, mengatakan perdamaian bukan hal yang tak mungkin di Kwamki Lama. Negosiasi ke arah sana hingga kini terus diupayakan dengan melibatkan sejumlah pihak terkait. "Besok, Wakil Gubernur [Alex Hasegem] juga akan ke Mimika," kata Alfius.

Tim negosiasi kemungkinan besar juga akan mengabulkan permintaan salah satu kubu yang meminta uang ganti rugi Rp 400 juta sebagai syarat perdamaian. Tapi, menurut Alfius, kini dialog masih difokuskan pada upaya perdamaian. "Masalah uang akan dibahas belakangan," kata Alfius.

Menurut Alfius, sebenarnya perdamaian sudah hampir tercipta di Kwamki Lama. Namun, memang masih ada pihak-pihak yang menginginkan warga terus bertikai. Di samping itu kebanyakan yang bertikai masih dalam pengaruh minuman keras sehingga mereka berani berbuat kurang ajar. "Mereka mau saja disuruh membunuh," terang Alfius.

Lelaki bertubuh subur itu menolak bila dikatakan bentrok di Kwamki Lama telah disusupi pihak ketiga. Ini murni perang saudara. Dia menegaskan, hanya provokator yang mengatakan bentrok di Kwamki Lama telah ditunggangi. "Itu omong kosong. Provokator yang omong begitu," kata Alfius agak sengit.

Alfius menyesalkan aparat keamanan kurang responsif mengatasi keadaan. Dia mengaku, sore tadi, telah mendesak Kepala Polres Timika agar memerintahkan anak buahnya untuk lebih tegas di lapangan. "Saya tidak ingin mereka hanya menonton. Saya tidak ingin rakyat saya terus dikorbankan," tegas Alfius.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6