Sukses

INS Kayutanam, Sekolah Unggulan di Zaman Kolonial

Liputan6.com, Padang: Tak banyak yang mengetahui jika di masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dulu kita sudah memiliki sekolah unggulan seperti Indonesisch Nederlandsche School (INS) Kayutanam. Dari sekolah inilah muncul nama-nama besar dalam sejarah politik dan seni nasional. Misalnya saja Tarmizi Taher, Ali Akbar Navis, Mochtar Lubis, Hasnan Habib dan Kaharuddin Nasution.

Sekolah ini terletak di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, atau sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Padang. Didirikan pada 31 Oktober 1926 oleh Muhammad Sjafei, sekolah ini dicita-citakan dapat menjadi tempat mendidik calon penerus bangsa. Menurut salah seorang alumni INS Kayutanam, Anas Navis, salah satu ciri khas pendidikannya adalah dijunjungnya kebebasan berpikir setiap murid, khususnya dalam mengeluarkan buah pikiran.

Langkah ini terbilang berani, karena pada masa itu tengah terjadi persaingan antara sistem pendidikan kolonial Belanda dengan sistem pendidikan Islam. Sementara INS mengambil alternatif lain yang memberi penekanan pada kebebasan. "Dengan pola itu setiap murid dirangsang untuk berkreativitas," ujar Gusti Asnan, sejarawan dari Universitas Andalas, Padang.

Kini, 80 tahun setelah pendiriannya, ada yang berubah dari INS Kayutanam. Meski sebagian bangunan masih dipertahankan, sebagian besar gedung yang ada sekarang adalah bangunan baru. Tak hanya itu, kurikulum dan cara belajar juga berubah. Dulu lama pendidikan enam tahun, kini INS Kayutanam disejajarkan dengan sekolah menengah atas yang lama pendidikannya lima tahun.

Menurut Kepala Sekolah Pariadi, INS Kayutanam yang kini disebut SMA Plus INS Kayutanam tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang dipegang M. Sjafei. "Tapi diakui kita juga melakukan penyesuaian-penyesuaian, misalnya dalam muatan akademik," jelas Pariadi. Langkah ini ditempuh agar nantinya pelajar yang lulus dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)