Pemerintah Meminta Tambahan Utang ke Bank Dunia

Pemerintah tengah mengusahakan alokasi pinjaman baru sekitar US$ 700 juta kepada Bank Dunia. Sementara komitmen sebelumnya, Bank Dunia akan menggelontorkan utang sebesar US$ 400 juta sebelum Juni mendatang.

Diterbitkan 12 April 2006, 08:52 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia tengah mengusahakan alokasi pinjaman baru sekitar US$ 700 juta kepada Bank Dunia untuk tahun ini. Sebagian besar pinjaman itu akan digunakan untuk pembiayaan sejumlah proyek pembangunan infrastruktur dan menutup defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2006.

"Pinjaman sebelumnya untuk dua proyek sekitar 400 juta hingga 500 juta dolar. Sementara pinjaman baru sebesar 700 juta dolar ini untuk lima atau enam proyek," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta usai menghadiri pertemuan dengan Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz bersama sejumlah menteri di Jakarta, Selasa (12/4).

Paskah menambahkan, komitmen Bank Dunia untuk menggelontorkan utang kepada Indonesia sebesar US$ 400 juta itu akan dinegosiasikan sebelum Juni mendatang. Jadi, kalau permintaan utang baru ini disetujui maka pemerintah akan berutang ke Bank Dunia sekitar US$ 1,2 miliar. Sementara pinjaman ini sendiri terdiri dari pinjaman sejumlah program dan proyek infrastruktur. Di antaranya akan digunakan untuk proyek pengadaan air bersih, perbaikan jalan dan perbaikan infrastruktur lainnya.

Adapun total utang luar negeri Indonesia saat ini mencapai US$ 134 miliar. Dari jumlah itu, pemerintah mengalokasikan pembayaran utang senilai Rp 139 triliun dari APBN 2006. Sedangkan untuk dana pendidikan hanya dialokasikan Rp 36 miliar dan dana kesehatan sekitar Rp 13 miliar.

Sementara itu, rencana pengajuan utang baru ini langsung mendapat kecaman dari Gerakan Aliansi Rakyat untuk Penghapusan Utang (Garpu). Menurut Binny Buchorie, aktivis Garpu, pemerintah dinilai tidak konsisten dalam mengatur beban keuangan negara. Sebab, kedatangan Wolfowitz seharusnya dimanfaatkan untuk mengurangi beban utang luar negeri.(ZIZ/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6