Rekan Kerja Kiki Maria Diduga Flu Burung

Pasien yang diduga terjangkit flu burung ini dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jakut. Belum diketahui bahwa virus yang menulari rekan kerja Kiki Maria sama dengan virus yang merenggut nyawa Kiki.

Diterbitkan 10 Februari 2006, 19:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Wabah flu burung masih mengancam Indonesia. Jumat (10/2) siang, seorang lagi yang diduga terjangkit virus H5N1 dilarikan ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Pasien bernama Nur Santina itu adalah rekan kerja Kiki Maria, perempuan yang meninggal dunia tadi malam karena positif flu burung. Nur Santina dirawat di Ruang Isolasi Cempaka. Belum diketahui sumber virus H5N1 perempuan ini sama dengan yang menulari Kiki Maria [baca: Flu Burung Kembali Merenggut Nyawa].

Sementara itu, kondisi Dewi Sartika yang dirawat di Intensive Care Unit rumah sakit yang sama juga makin buruk. Menurut dokter Ilham Patu, Kepala Bagian Informasi RSPI Sulianti Saroso, musim hujan dan lembab sekarang ini harus diwaspadai. Sebab, penyebaran virus maut ini sangat cepat. "Kita lihat virus H5N1 lebih lama bertahan pada musim dingin atau lembab. Bisa sampai 20 atau 24 hari," kata Ilham Patu saat berbincang dengan reporter SCTV Bayu Sutiyono dalam Liputan 6 Petang.

Ilham menepis kemungkinan flu burung sudah terjangkit antarmanusia atau cluster. "Pertama, penyebaran antarmanusia itu belum ada sampai sekarang," dia mengingatkan. Kemudian yang kedua, tambah Ilham, cluster adalah dua atau lebih orang yang positif flu burung dengan varian H5N1 dalam satu ruangan atau tempat tinggal.

Tapi Kiki Maria yang meninggal semalam dan kini rekan kerjanya juga terjangkit. Keduanya begitu jauh dari peternakan ayam atau unggas. Hal ini memang perlu dipikirkan serius. Namun, menurut Ilham, dari 24 kasus flu burung yang sudah dipastikan di Tanah Air, sekitar 10 atau 11 positif flu burung. "Itu masih strained H5N1, belum ada perubahan strained," dia menjelaskan.

Menyangkut Nur Santina, Ilham Patu juga menjelaskan bahwa rekan sekerja Kiki sempat kontak dengan ayam yang mati mendadak. Peristiwa itu terjadi dua hari sebelum Nur Santina masuk ke salah satu klinik di Bekasi Timur, Jawa Barat. Jadi, "Hubungan pekerjaan itu (antara Nur Santina dengan Kiki Maria) saya kira sangat jauh kemungkinan menular antarmanusia, " kata dia.

"Bagaimana menyikapi sebuah cluster atau sumber penyakit flu burung yang tak diketahui sumbernya dari mana?" tanya Bayu. "Saya kira langkah pertama, kalo sudah ada gejala seperti demam tinggi, ada batuk, ada kontak atau tak ada kontak, masyarakat sebaiknya cepat-cepat mendatangi rumah sakit terdekat," Ilham mewanti-wanti.

Persoalannya, di musim hujan seperti sekarang, gejala yang disebut di atas sering dialami masyarakat. Dengan demikian tidak mudah bagi masyarakat untuk membedakan flu biasa atau flu burung. "Saya kira untuk membedakan pertama harus ada kontak," jawab Ilham. Soalnya, sumber penularan H5N1 adalah dari unggas. Tapi Ilham mengakui itu tak bisa jadi indikator bahwa sumber penularan itu harus ada. "Dari kasus ternyata ada 21 yang ternyata tak diketahui sumber penularannya," Ilham mengakui.

Ilham menganjurkan masyarakat agar hidup sehat. Di samping itu, lingkungan, pekarangan, dan tempat tinggal harus bersih. Dia juga menganjurkan untuk mencuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun cair. Pasalnya, media transmisi antara H5N1 ke tubuh penderita umumnya melalui tangan.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6