Duka Mendalam Mengiringi Pemakaman Sejumlah Korban

Fislam, salah seorang korban Mandala Airlines, dimakamkan di Banyumas, Jateng. Sementara Ardinal Amir dikuburkan di Padang Panjang, Sumbar. Adapun Irawadi dikebumikan di Air Joman, Kabupaten Asahan, Sumut.

Diterbitkan 07 September 2005, 19:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Banyumas: Satu per satu jenazah korban jatuhnya pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines tiba di kampung halaman dan dimakamkan. Jasad Fislam, korban asal Desa Binangun, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dikuburkan siang tadi.

Suasana duka mendalam menyelimuti keluarganya saat jenazah Fislam dimasukkan ke liang lahat. Ratusan pelayat turut mengantarkan jenazah Fislam ke pemakaman. Kalimat salawat terus-menerus dikumandangkan.

Keberadaan Fislam di Medan, Sumatra Utara adalah sebagai perantau. Ia bekerja di sebuah pabrik pengolahan roti selama dua tahun. Kecelakaan terjadi saat almarhum berencana pulang kampung [baca: Jenazah Kopilot Mandala Tiba di Surabaya]. Dua jam sebelum pesawat bernomor penerbangan RI-091 itu jatuh, Fislam berpesan ke keluarganya untuk mendoakan dirinya agar selamat tiba di rumah.

Korban lainnya yaitu Ardinal Amir. Pria asal Padang Panjang, Sumatra Barat ini dikebumikan di pemakaman keluarganya. Ardinal semasa hidupnya bekerja sebagai kepala kargo PT Andika Lines sejak dua setengah tahun silam. Ia menetap di Medan bersama istri dan dua anaknya. Kepergiannya ke Jakarta bertujuan untuk menempuh ujian tingkat Master Marine.

Kepergian almarhum Ardinal membawa duka mendalam bagi sang istri. Sebab, ia menyaksikan langsung pesawat yang ditumpangi suami tercinta jatuh sesaat ketika mencoba lepas landas.

Adapun jenazah Irawadi, ajudan Gubernur Sumut Tengku Rizal Nurdin, dimakamkan di Air Joman, Kabupaten Asahan, Sumut. Anggota Kepolisian RI itu baru empat bulan menjabat sebagai ajudan. Sebelum kecelakaan, Irawadi sempat meminta izin kepada Rizal untuk menengok Hernida, istrinya yang baru dinikahinya empat bulan silam. Namun izin baru akan diberikan oleh Rizal setelah korban ikut bersamanya ke Jakarta.

Hari ini, jenazah Surya Miga juga tiba di Desa Lamgugop, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Ketika itu almarhum hendak pergi ke Jakarta untuk menjemput istrinya pulang ke Tanah Rencong.

Sebelumnya, Surya berangkat dari Banda Aceh menggunakan bus menuju Medan. Padahal sebenarnya almarhum berniat meneruskan perjalanan dari Medan ke Jakarta menumpangi bus. Alasannya, untuk menghemat biaya. Akan tetapi untuk mempersingkat waktu perjalanan, sang istri menganjurkan suaminya naik pesawat.

Seiring dengan dimakamkannya para korban, 21 penumpang pesawat Mandala Airlines yang selamat sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Gleneagles, Jalan Listrik, Medan. Data dari rumah sakit menyebutkan, lima dari seluruh korban yang menjalani perawatan adalah warga di sekitar lokasi kecelakaan. Sedangkan sisanya adalah penumpang pesawat yang selamat. Tiga di antaranya kritis dan harus menjalani operasi akibat luka bakar di bagian tubuhnya. Mereka adalah Berman Tarigan, Iskandar Karo Karo, dan Andreas [baca: Tujuh Penumpang Pesawat Mandala Selamat].

Kondisi mengkhawatirkan juga dialami Togar Panjaitan dan anaknya, Pento Panjaitan, penumpang pesawat Mandala Airlines. Selain masih trauma, keduanya juga mengalami luka bakar yang serius. Meski demikian, soal biaya perawatan, mereka tak perlu khawatir. Sebab, rencananya, biaya perawatan ditanggung manajemen Mandala Airlines.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6