Arti Kerbau bagi Orang Toraja

Masyarakat adat Tana Toraja sangat menghormati kerbau, terutama yang berwarna belang seperti sapi. Sejak kecil, kerbau belang ini dikebiri hingga dianggap suci sebagai hewan kurban pada upacara Rambu Solo`.

Diterbitkan 21 Mei 2005, 17:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tana Toraja: Keseharian masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tak bisa dipisahkan dengan hewan ternak kerbau. Ini berlangsung hingga sekarang. Bahkan, sebelum uang dijadikan alat penukaran transaksi modern, hewan bertanduk ini sudah kerap ditukar dengan benda lain. Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, hewan bertubuh tambun ini juga melambangkan kesejahteraan sekaligus menandakan tingkat kekayaan dan status sosial pemiliknya di mata masyarakat. Kerbau Tana Toraja memiliki ciri fisik yang khas ketimbang daerah lain, terutama pada warna kulitnya yang belang menyerupai sapi. Orang Toraja biasa menyebut jenis kerbau ini Tedong Bonga. Lantaran kulitnya yang aneh, maka kerbau belang memiliki arti penting dalam setiap ritual pesta kematian atau Rambu Solo`. Kerbau ini diperlakukan secara khusus. Semenjak kecil sudah dikebiri oleh pemiliknya sehingga dianggap suci sebagai hewan kurban pada upacara Rambu Solo`. Tak salah jika harga kerbau setengah albino ini menjadi mahal. Harga seekor hewan yang masuk golongan kerbau lumpur (Bubalus bubalis) itu kira-kira Rp 50 juta hingga Rp 80 juta. Jumlah yang cukup besar memang. Selain kerbau belang, kerbau biasa pun juga akan dikurbankan dalam ritual Rambu Solo`. Salah satunya bernama Bantu Pako. Kerbau berbobot 200 kilogram ini baru dua bulan dipelihara oleh Jafar, harganya bisa mencapai Rp 20 juta. Namun, hewan tersebut nasibnya hanya untuk diadu dan dikurbankan dalam ritual esok hari. Hari ini, terik matahari menyengat. Kendati demikian, keadaan ini tak mengurangi antusias warga untuk berkumpul di lokasi pondok yang telah disediakan. Seperti halnya sanak saudara mendiang Ne Ne Lai Sumule ini, mereka seolah tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan pertunjukan adu kerbau. Saat yang ditunggu pun tiba. Jafar dan kerbaunya, Bantu Pako, maju ke tengah arena pertarungan. Sorak-sorai penonton yang menandakan pertarungan kerbau pun semakin seru. Binatang yang semula terlihat jinak itu, kini berubah menjadi liar. Inilah yang diperlihatkan si Bantu Pako ketika menghantam lawannya di pertarungan itu. Tradisi adu kerbau atau Mapasilaga Tedong adalah rangkaian panjang sebuah prosesi pesta kematian kaum bangsawan Tana Toraja. Kematian tak harus diwujudkan dalam kesedihan mendalam. Namun, kematian dimaknai pula sebagai kegembiraan oleh keluarga maupun warga desa sebelum almarhum menuju alam kekal. Selain bagian dari prosesi pesta kematian, adu kerbau juga sebagai hiburan masyarakat desa. Bahkan tak sedikit yang menggunakan kesempatan tersebut sebagai ajang perjudian. Dan, seolah tak menghiraukan hiruk-pikuk penonton, dua ekor kerbau ini terus bertarung. Masing-masing berusaha mengalahkan lawannya. Teriakan penonton kian gemuruh begitu menyaksikan kerbau andalan mereka mampu melukai tubuh lawannya. Suatu tontonan yang menarik, tentunya. Bak sihir, adu kerbau itu mampu membius para penonton dan sejenak melupakan duka. Adu kerbau pun berakhir. Esok, ritual Rambu Solo` mendiang Ne Ne Lai Sumule harus dilanjutkan [baca: Rambu Solo`: Gerbang Menuju Alam Baka]. Yakni, mengarak peti jenazah sebagai penghormatan terakhir kepada mendiang. Suasana dukacita kembali merasuk di lubuk hati keluarga maupun handai taulan mendiang Ne Ne Lai Sumule. Jenazah yang sudah tiga malam berada di lumbung akan segera diarak menuju Desa Bala. Sebuah perkampungan di kaki Gunung Kandora, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel. Para tetua dan warga desa hadir dengan mengenakan pakaian kedukaan masing-masing. Sementara, tepat di bawah lumbung tempat peti jenazah disemayamkan, isak tangis pun pecah. Sejumlah perempuan tak kuasa menahan tangis dan menutupi wajah dengan selendang hitam. Mereka meratapi kepergian mendiang Ne Ne Lai Sumule. Tak lama berselang, kaum pria bersiap-siap untuk menyiapkan saringa atau tandu jenazah. Dahulu kala, saringa kerap dilambangkan sebagai kendaraan para raja. Tetapi hari ini, saringa digunakan untuk menghormati sekaligus sebagai tempat jasad mendiang Ne Ne Lai Sumule diarak. Hamparan kain merah atau lamba-lamba dibentangkan sepanjang 50 meter. Lamba-lamba ini berfungsi sebagai petunjuk arah perjalanan arak-arakan peti jenazah untuk mencapai Lakean. Para pengusung maupun pengarak saringa umumnya berpakaian warna hitam. Di bawah bentangan lamba-lamba, sejumlah keluarga turut mengiringi jalannya prosesi. Ini sebagai wujud memuliakan orang tua dan leluhur mereka. Sedangkan kerbau yang sudah dihias berjalan di depan mengawal perjalanan arak-arakan mendiang Ne Ne Lai Sumule. Sejumlah warga desa turut dalam arak-arakan ini sembari membawa umbul-umbul. Sementara yang lainnya menarik kain lamba-lamba menuju Lakean. Sepanjang jalan, semangat mereka tak pernah kendur. Beban saringa yang beratnya mencapai 200 kilogram lebih itu diangkat ramai-ramai mengikuti irama teriakan khas masyarakat adat Tana Toraja. Setibanya di Lakean, saringa pun dilepas. Ini untuk memudahkan prosesi memasukkan peti jenazah di atas Lakean yang atapnya menyerupai perahu Cina. Pada prosesi ini, semangat gotong royong dan kecintaan kepada mendiang Ne Ne Lai Sumule diuji kembali. Sekarang, mereka harus memindahkan beban berat peti jenazah untuk ditempatkan ke atas Lakean. Kendati dengan susah payah, sampailah peti jenazah ditempatkan di puncak Lakean, bangunan yang dibuat khusus untuk penghormatan terakhir almarhum Ne Ne Lai Sumule. Selama dua malam, jasad Ne Ne Lai Sumule yang ditempatkan di atas Lakean. Selama itu pula para pelayat terus mengalir dan dijamu di pondokan adat yang telah disediakan. Kedatangan para tamu adat itu selalu disambut teriakan kecil oleh tiga pengawal atau To Maranding. Mereka berpakaian warna oranye dengan hiasan kepala bertanduk kerbau. Ini mengingatkan kepada kebesaran dan kegagahan para pengawal kerajaan tempo dulu. Para tamu adat ini sengaja datang dari berbagai penjuru desa. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Ne Ne Lai Sumule. Seiring dengan itu, suara alunan suling bambu dengan lantunan penyanyinya seakan membangkitkan kembali kesedihan mendalam para keluarga dan handai taulan. Kini, hari terakhir menjelang pemakaman, sebuah ritual kembali digelar. Lima ekor kerbau yang sebelumnya sempat diadu mulai dikumpulkan untuk dikurbankan. Laksana seorang pendekar, para pawang itu memilih kerbau-kerbau yang bakal dikurbankan. Dalam sekejap kerbau-kerbau itu ditebas hingga tersungkur tak bergerak. Masyarakat adat Tana Toraja meyakini, kerbau tidak hanya sebagai lambang kesejahteraan. Namun kerbau juga dimaknai sebagai lambang kekuatan untuk tunggangan arwah menuju nirwana. Dalam prosesi kematian orang Toraja, semakin banyak kerbau yang dikurbankan, maka kian baik kehidupan sang mendiang di alam baka. Hari yang ditunggu pun tiba. Inilah puncak rangkaian prosesi pesta kematian Rambu Solo` selama dua pekan. Di bawah terik matahari, para tetua adat dan kaum muda beriringan menyanyikan lagu leluhur. Seluruh keluarga telah menanti untuk prosesi arak-arakan peti mati ke kuburan. Maka, jenazah Ne Ne Lai Sumule yang ditempatkan di atas Lakean perlahan mulai diangkat untuk diturunkan. Hari terakhir arak-arakan menuju kuburan, tak lagi diwarnai duka lara. Kegembiraan pun terpancar dari para pemuda saat menggotong peti jenazah. Mereka sempat melakukan sejumlah atraksi, seperti menghentakkan peti jenazah ke atas. Memang, konsep ajaran orang Toraja tak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga, asal-muasal leluhur. Dengan kata lain, mereka percaya adanya kehidupan setelah kematian. Berbeda dengan bangsawan Toraja lainnya, Ne Ne Lai Sumule lebih memilih dikuburkan dalam bungker bawah tanah ketimbang di gua tebing-tebing Tana Toraja. Dan, di peristirahatan terakhir inilah, mendiang disandingkan dengan jasad istrinya dalam naungan leluhurnya untuk menemui Sang Pencipta.(ANS/Tim Potret)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6