Saat Kepedulian Generasi Muda Jadi Solusi Sosial

Simak kisah inspiratif dua Impact Leaders MAF yang mengubah kepedulian sosial generasi muda menjadi aksi nyata melalui inklusi dan inovasi pendidikan.

Diterbitkan 08 September 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Generasi muda memiliki peran penting dalam menghadirkan perubahan, terutama ketika kepedulian terhadap persoalan sosial diwujudkan melalui aksi nyata. Berangkat dari perhatian pada isu di sekitar mereka, sejumlah inisiatif kemudian tumbuh menjadi gerakan yang memberi dampak lebih luas.

Hal tersebut tercermin dari perjalanan Carys Mihardja dan Gaizzka Metsu Wilsensa, dua Impact Leaders dari Maudi Ayunda Foundation (MAF) Impact Leaders Program Cohort III. Keduanya membawa perhatian pada isu yang berbeda dan menerjemahkannya ke dalam inisiatif yang mendorong perubahan nyata.

Carys, lulusan Yale University sekaligus social entrepreneur, berfokus pada inklusi individu dengan down syndrome melalui organisasi nirlabanya, Carys Cares. Ia mengembangkan berbagai upaya melalui kreativitas, advokasi, dan membuka akses terhadap peluang karier.

Salah satu pencapaiannya terlihat ketika karya seniman dengan down syndrome ditampilkan bersama Alleira Batik di New York Fashion Week 2022. Pengalaman bersama MAF kemudian membuat Carys kembali melihat sejauh mana sebuah inisiatif sosial mampu menghasilkan dampak.

"Niat baik belum tentu menghasilkan dampak yang benar-benar dirasakan," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

Pemikiran tersebut mendorong Carys mendengarkan kebutuhan komunitas secara lebih dekat sebelum menentukan bentuk pemberdayaan. Carys Cares pun berkembang dari upaya meningkatkan kesadaran publik menuju dukungan yang membuka akses pada pekerjaan dan pengembangan karier.

Bagi Carys, inklusi bukan sekadar menyediakan ruang untuk menunjukkan kemampuan. Lebih dari itu, inklusi perlu menghadirkan kesempatan nyata agar individu dengan down syndrome dapat hidup mandiri dan berkontribusi bagi keluarga maupun lingkungan mereka.

Dari Gagasan Menjadi Perubahan yang Berkelanjutan

Perhatian terhadap persoalan sosial juga mengantarkan Gaizzka Metsu Wilsensa pada pendekatan berbeda. Lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran ini mendirikan KIRANA, platform Visual Novel Game yang memanfaatkan interactive storytelling untuk memperkenalkan budaya Indonesia pada siswa sekolah dasar.

KIRANA telah menghadirkan dua cerita edukatif, "Congklak Persahabatan" dan "Membuat Papeda Bersama Boaz" yang diuji coba pada lebih dari 800 siswa di Jawa Barat. Dalam perkembangannya, Gaizzka turut melibatkan guru agar pengalaman belajar melalui permainan dapat berkelanjutan.

"Sebelum mengikuti program ini, fokus saya selalu pada bagaimana menjangkau sebanyak mungkin siswa. Setelah bergabung, saya belajar untuk mengambil langkah mundur dan memikirkan keberlanjutannya, termasuk bagaimana mendengarkan guru," ujarnya.

Kini, KIRANA tak hanya mengejar pertumbuhan pengguna, tapi juga membangun keterhubungan dengan guru agar kontennya dapat terus digunakan dalam kegiatan belajar.

Inspirasi dari Komunitas yang Saling Menguatkan

Program yang sama dapat membawa pengalaman berbeda bagi setiap pesertanya. Carys dan Gaizzka datang dengan latar belakang, serta inisiatif yang beragam, tapi keduanya menemukan perspektif baru melalui pertemuan dengan anak muda yang sama-sama peduli terhadap persoalan di sekitar mereka.

Bagi Carys, keberagaman latar belakang peserta menjadi pengingat bahwa perubahan dapat lahir dari berbagai bidang. Bertemu dengan mereka yang bergerak di isu kesehatan, lingkungan, teknologi, dan seni turut memperluas pandangannya mengenai cara menciptakan dampak.

Sementara itu, Gaizzka sempat ragu mengikuti program karena saat itu belum memiliki organisasi atau proyek sendiri. Keputusannya membangun KIRANA kemudian mempertemukannya dengan komunitas yang mendorong anak muda untuk mengembangkan gagasan sekaligus memikirkan manfaatnya.

"Di sini saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki ide dan ambisi yang sama, bukan hanya untuk mengembangkan diri, namun juga untuk berdampak," kata Gaizzka.

Ketika Dukungan Membuka Jalan bagi Dampak

Perjalanan para Impact Leaders menjadi bagian dari ekosistem yang dibangun Maudy Ayunda Foundation (MAF) sejak 2018. Bagi MAF, pendidikan bukan sekadar akses terhadap pembelajaran formal, tapi juga pintu menuju kesempatan, dukungan, mentorship, dan ruang untuk mengembangkan inisiatif.

Ekosistem tersebut dijalankan melalui empat pilar utama, yakni Professional Development, Tuition Scholarship & Project Grant, Student & Teacher Support, serta Education Infrastructure. Melalui MAF Impact Leaders Program, peserta mendapat kesempatan mengembangkan kapasitas sekaligus mewujudkan gagasan sosial dengan dukungan mentorship dan project grant.

Maudy Ayunda, Founder MAF, mengatakan, "Kami percaya pendidikan bukan hanya tentang apa yang seseorang pelajari, tapi juga tentang kesempatan yang mereka miliki untuk tumbuh, memimpin, dan menciptakan perubahan."

Hingga kini, program mentorship MAF telah menerima lebih dari 3.000 pendaftar dan melahirkan 91 Impact Leaders, termasuk 16 penerima academic dan project grants. Memasuki Cohort IV, program kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa berusia 18–22 tahun.