5 Tren Perjalanan 2026 Temuan Hilton, dari Whycation hingga Warisan Kebiasaan

Sebagian tren perjalanan 2026 temuan Hilton itu sudah diperkirakan sejak tahun lalu. Bagaimana Indonesia merespons itu?

Diterbitkan 22 Mei 2026, 06:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Grup Hilton, salah satu jaringan hotel internasional, baru saja merilis laporan tren perjalanan 2026 yang disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 14 ribu wisatawan di 14 negara yang dilakukan oleh Ipsos. Mengutip The Thaiger, Jumat (22/5/2026), ada lima tren yang diidentifikasi dalam laporan tersebut.

Lima tren tersebut meliputi whycation, hushpitality, daya tarik kenyamanan rumah saat bepergian, liburan keluarga lintas generasi, hingga warisan kebiasaan perjalanan. Berikut penjelasan detail dari lima tren tersebut:

1. Whycation

Whycation menjadi temuan utama dalam laporan tersebut, yang dimaknai sebagai pergeseran dari merencanakan liburan berdasarkan destinasi menjadi merencanakannya berdasarkan motivasi. Alasan utama yang disebutkan orang untuk bepergian pada 2026 adalah untuk beristirahat dan mengisi ulang energi, yang disebutkan 56 persen responden. Menghabiskan waktu di alam berada di urutan kedua dengan 37 persen, diikuti oleh peningkatan kesehatan mental dengan 36 persen.

Belajar dari Thailand, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) mengampanyekan 'Penyembuhan adalah Kemewahan Baru' pada tahun ini. Kampanye itu memposisikan Thailand sebagai tempat beristirahat, memulihkan diri, dan tempat mendapatkan pengalaman yang bermakna.

Paketnya mencakup wellness tourism yang di Thailand pasarnya mencapai USD 14 miliar pada 2024, naik 36,4 persen dari tahun sebelumnya, menurut Global Wellness Institute. Itu menjadikan Thailand salah satu destinasi kesehatan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sementara, Indonesia memasukkan wellness tourism sebagai salah satu pilar program Pariwisata Naik Kelas, bersama dengan wisata gastronomi dan wisata bahari. Tahun lalu, bekerja sama dengan Yogyakarta dan Solo, Kemenpar menggelar Wonderful Indonesia Wellness 2025 yang menampilkan beragam tradisi kerajaan untuk meningkatkan kebugaran, lahir dan batin.

2. Hushpitality

Berkaitan erat dengan whycation adalah apa yang disebut laporan Hilton sebagai hushpitality: upaya aktif untuk mencari keheningan, ketenangan, dan ketiadaan rangsangan. Lebih dari seperempat wisatawan mengatakan mereka berencana untuk mencari momen tenang bahkan dalam perjalanan kelompok pada 2026.

Perjalanan solo meningkat tajam, dengan Bangkok menempati peringkat kedua sebagai kota solo terpopuler di Asia, menurut laporan perjalanan solo Agoda pada 2025. Daya tariknya adalah sejumlah infrastruktur yang kuat untuk kesendirian tanpa mengorbankan kenyamanan.Di Bangkok misalnya, ada sejumlah kantong-kantong ketenangan yang tak terduga, seperti halaman kuil, kedai kopi di tepi kanal, dan taman-taman lingkungan yang berada pada ritme berbeda dari energi permukaan kota.

Tren itu juga berlanjut ke perjalanan bisnis.  Laporan Hilton menemukan bahwa 27 persen pelancong bisnis secara aktif mencari waktu sendirian selama perjalanan kerja, dan 54 persen mengatakan mereka akan melakukan perjalanan kerja sebagian untuk beristirahat dari kewajiban di rumah. 

 

3. Kenyamanan Rumah Sebagai Barang Bawaan Baru

Tren perjalanan ketiga mungkin yang paling mudah dikenali secara pribadi oleh ekspatriat jangka panjang: keinginan untuk mempertahankan rutinitas yang familiar saat bepergian. Laporan tersebut menemukan bahwa 64 persen pemilik hewan peliharaan memprioritaskan kebutuhan hewan peliharaan mereka saat memesan akomodasi, 79 persen pelancong merasa nyaman dengan makanan yang familiar bahkan jauh dari rumah, dan 77 persen menikmati menjelajahi toko kelontong lokal sebagai bentuk pariwisata tersendiri.

Di Bangkok, terdapat berbagai hotel ramah hewan peliharaan dengan beragam harga. Tersedia pula jaringan supermarket internasional yang berfungsi sebagai sumber kenyamanan bagi ekspatriat dan daya tarik bagi wisatawan, serta budaya makanan yang begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari sehingga garis antara makan untuk kenyamanan dan eksplorasi kuliner hampir tidak ada.

Kelas memasak telah menjadi salah satu aktivitas wisata khas Bangkok karena makanan Thailand sudah menjadi makanan yang nyaman bagi sebagian besar wisatawan dunia bahkan sebelum mereka tiba.

4. Liburan Multi-generasi

Tren perjalanan tersebut tumbuh lebih cepat di seluruh Asia Pasifik daripada di tempat lain di dunia. Riset khusus APAC dari Hilton menemukan bahwa 60 persen keluarga di Asia Pasifik telah melakukan atau merencanakan liburan "lintas generasi", kakek-nenek dan cucu bepergian tanpa generasi tengah, meningkat menjadi 86 persen di China dan 79 persen di India. 

Laporan Hilton juga menemukan bahwa 84 persen wisatawan berencana untuk mencari peluang bagi seluruh keluarga untuk bermain bersama pada 2026, dan 60 persen wisatawan lintas generasi di kawasan Asia Pasifik menyebutkan penguatan ikatan keluarga sebagai motivasi utama mereka.

 

5. Warisan Kebiasaan Perjalanan

Laporan Hilton menemukan bahwa 66 persen wisatawan mengatakan orangtua mereka memengaruhi pilihan hotel mereka, 73 persen mengatakan gaya perjalanan mereka dipengaruhi oleh didikan mereka, dan 58 persen mengatakan orangtua mereka memengaruhi program loyalitas mana yang mereka gunakan. Lebih dari setengah keluarga yang bepergian menyertakan setidaknya satu anak dewasa, dengan orangtua biasanya menanggung biayanya.

Peralihan antar-generasi ini juga meluas ke lanskap visa. Kerangka visa penduduk jangka panjang dan perpanjangan masa pensiun Thailand telah melembagakan kehadiran ekspatriat selama beberapa dekade sedemikian rupa sehingga dinamika pewarisan pariwisata menjadi tak terhindarkan secara struktural.

Anak-anak dari pemegang visa penduduk jangka panjang saat ini adalah pengunjung independen pertama kali ke Thailand di masa mendatang, tiba dengan destinasi yang sudah tertanam dalam persepsi mereka tentang bagaimana rasanya bepergian.