Liputan6.com, Jakarta - Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu spesies tumbuhan dari famili Moringaceae yang dikenal mampu tumbuh dengan baik di daerah tropis kering. Tanaman ini kaya manfaat dengan hampir seluruh bagiannya, mulai dari daun, bunga, hingga akar, dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, baik di bidang kesehatan, pangan, maupun industri.
Melansir Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis, 21 Mei 2026, kelor dikenal sebagai tanaman yang kaya nutrisi karena mengandung berbagai vitamin, mineral, antioksidan, asam amino esensial lengkap, serta senyawa lain yang dibutuhkan tubuh. Kandungan nutrisi yang tinggi ini membuat kelor banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan bergizi, sekaligus berpotensi sebagai bahan baku di sektor kesehatan dan industri.
Kelor juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena mampu tumbuh cepat dan daya tumbuh kembali (regrowth) yang tinggi. Potensi ini menjadikan kelor sebagai salah satu tanaman multifungsi yang bernilai ekonomi.
Advertisement
Di Indonesia, tanaman kelor tersebar di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, salah satu daerah sentra pengembangan kelor berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, masyarakat setempat berhasil memanfaatkan daun kelor dengan mengolah dan mengawetkannya menjadi berbagai produk makanan bernutrisi tinggi. Upaya ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah tanaman kelor, tetapi juga menjadi bagian dari konservasi dan pemanfaatan pangan lokal.
Â
Panduan Menanam Kelor dari Biji dan Stek Batang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6507081/original/003188100_1779365442-IMG-20260521-WA0063.jpg)
Sebelum membudidayakan tanaman kelor, penting untuk memahami syarat tumbuhnya agar tanaman dapat berkembang optimal. Kelor umumnya tumbuh baik pada wilayah tropis maupun subtropis dengan kondisi sebagai berikut :
- Ketinggian: 0–1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl)
- Suhu ideal: 25–35 derajat Celsius
- Curah hujan: 250–2.000 mm per tahun
- Jenis tanah: berpasir atau lempung berpasir yang porous (berpori)
- pH tanah: 5–9
Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lahan kering, kelor menjadi salah satu tanaman potensial untuk dikembangkan sebagai sumber pangan, kesehatan, maupun pakan ternak di berbagai daerah Indonesia. Tanaman kelor dapat dibudidayakan melalui biji maupun stek batang. Kedua metode ini cukup mudah dilakukan, tergantung ketersediaan bahan tanam dan tujuan budidaya.
Â
- Bibit Kelor dari Biji
Perbanyakan kelor melalui biji cocok dilakukan untuk menghasilkan tanaman baru dengan pertumbuhan akar yang kuat. Berikut langkah-langkahnya:
1. Pilih biji berkualitas dari polong kelor yang sudah tua dan matang.
2. Jemur biji selama kurang lebih satu hari di bawah sinar matahari.
3. Siapkan media penyemaian berupa nampan, polybag, atau bedengan tanah dengan campuran tanah dan pupuk kandang.
4. Rendam biji dalam air hangat sebelum ditanam, lalu pilih biji yang tenggelam karena umumnya memiliki kualitas lebih baik.
5. Tanam biji di media semai dan letakkan di tempat yang teduh.
6. Lakukan penyiraman secara teratur untuk menjaga kelembapan media.
7. Biji biasanya akan mulai berkecambah pada hari ke-7 hingga ke-12.
8. Setelah bibit tumbuh hingga mencapai sekitar 15 cm, pindahkan ke polybag yang lebih besar agar pertumbuhannya optimal.
Â
- Bibit Kelor dari Stek Batang
Metode stek batang menjadi teknik yang paling sering digunakan karena prosesnya lebih cepat dan praktis. Berikut cara menanam kelor melalui stek batang:
1. Pilih batang atau cabang kelor yang berumur minimal satu tahun dan memiliki tekstur keras serta berkayu.
2. Potong batang dengan ukuran sekitar 30–50 cm dan diameter 3–5 cm.
3. Buat potongan secara mendatar, lalu tancapkan batang ke dalam polybag yang sudah diisi media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang.
4. Letakkan polybag di area yang teduh.
5. Lakukan penyiraman secara rutin agar media tetap lembap dan stek dapat tumbuh dengan baik.
Metode stek batang umumnya dipilih karena memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan tanaman dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan penanaman dari biji.
Advertisement
Penanaman dan Pemeliharaan Kelor agar Tumbuh Subur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6507083/original/053052000_1779365442-IMG-20260521-WA0061.jpg)
Setelah bibit kelor siap ditanam, tahap berikutnya adalah penanaman dan pemeliharaan yang tepat. Proses penanaman diawali dengan membuat lubang tanam berukuran 40 x 40 cm dengan kedalaman sekitar 30–40 cm. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 1 meter x 1 meter agar setiap tanaman memiliki ruang tumbuh yang cukup.
Lubang tanam kemudian diisi dengan pupuk kandang dan dibiarkan selama kurang lebih satu minggu sebelum bibit ditanam, agar unsur hara meresap dengan baik ke dalam tanah. Setelah itu, bibit kelor dengan tinggi sekitar 30–50 cm dapat dimasukkan ke dalam lubang tanam, lalu ditutup kembali dengan tanah. Setelah ditanam, kelor disiram rutin untuk membantu tanaman beradaptasi dan mendukung pertumbuhannya.
Pemeliharaan tanaman kelor perlu dilakukan secara teratur agar pertumbuhannya optimal. Tanaman ini menyukai kondisi tanah dengan drainase yang baik, sehingga air tidak menggenang di sekitar akar. Penyiraman umumnya dilakukan sekali sehari, namun dapat disesuaikan dengan kondisi kelembapan tanah dan cuaca.
Selain penyiraman, tanaman juga perlu dipangkas untuk merangsang pertumbuhan cabang baru, meningkatkan hasil panen, serta memudahkan proses pemanenan. Pemangkasan pertama biasanya dilakukan saat tanaman berumur 3--5 bulan, dengan memotong tunas apikal (pucuk utama) sekitar 10 cm dari bagian atas ketika tinggi tanaman mencapai 60 cm hingga 1 meter.
Pemangkasan lanjutan dapat dilakukan secara berkala setelah pertumbuhan tanaman mulai teratur, yaitu dengan memangkas cabang sekitar 10 cm saat panjangnya mencapai 20 cm, atau sekitar 30 cm ketika cabang telah tumbuh hingga 60 cm.
Pemupukan dan Panen Kelor untuk Hasil Optimal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6507084/original/029257800_1779365443-IMG-20260521-WA0065.jpg)
Untuk menghemat biaya, pemupukan dapat menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk organik. Cara aplikasinya adalah dengan mengubur pupuk di sekitar tanaman pada jarak 50–80 cm dari batang atau akar utama. Selain pupuk organik, kelor juga dapat diberikan pupuk anorganik sesuai kebutuhan pertumbuhan tanaman.
Pada fase awal atau saat tanaman mulai bertunas, pupuk yang diberikan dapat berupa urea, SP-36, dan KCl dengan dosis masing-masing sekitar 3 gram, 1 gram, dan 1 gram per tanaman. Pemupukan lanjutan dilakukan ketika tanaman berumur sekitar tiga bulan, dengan tambahan pupuk kandang sebanyak 500 gram per pohon untuk membantu menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Setelah perawatan yang baik, tanaman kelor umumnya mulai dapat dipanen pada usia 6 hingga 12 bulan. Bagian yang paling sering dipanen adalah daun kelor, dengan cara memetik tangkai daun dari cabang. Daun yang berada di bagian tengah cabang biasanya bertekstur lebih lembut dan rasa yang tidak terlalu pahit dibandingkan daun yang tumbuh di bagian ujung.
Selain daun, bagian lain dari tanaman kelor juga dapat dimanfaatkan. Bunga kelor, baik dalam kondisi segar maupun kering, dapat diolah menjadi teh kesehatan. Sementara itu, polong muda yang masih hijau, lembut, dan segar dapat diolah menjadi berbagai hidangan, seperti sayuran atau kudapan. Adapun polong tua yang telah berwarna cokelat, kering, dan sehat dapat dimanfaatkan sebagai sumber benih berkualitas untuk penanaman kelor berikutnya.Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292724/original/032902100_1783654519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T102917.054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532976/original/075889100_1773717683-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-17T102114.591.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291655/original/029171400_1783572083-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T113921.353.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6507080/original/045267800_1779365441-IMG-20260521-WA0064.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289370/original/055592900_1783402351-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288262/original/025055100_1783308426-eng5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292649/original/094376400_1783641258-Achraf_Hakimi_dan_Ayyoub_Bouadd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289008/original/052236500_1783385709-sp2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292646/original/028409800_1783639977-Facundo_Tello.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292621/original/094494100_1783638050-fran1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292619/original/010111700_1783634834-000_B9T69X7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292617/original/012709000_1783634462-000_B9T69YH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4261503/original/087816000_1671051714-AP22348707544069.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4261666/original/017552200_1671070721-Manisnya_Bromance_Achraf_Hakimi_dan_Kylian_Mbappe-AP__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6502415/original/043823100_1779358872-IMG-20260521-WA0041.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4935039/original/020594500_1725330687-000_34HX2FX.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5444566/original/076011800_1765781538-Cuci_Berulang_di_Air_Mengalir__Fokus_pada_Rongga_Perut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6187862/original/072095400_1779067929-Gemini_Generated_Image_m29nqkm29nqkm29n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5397794/original/061943700_1761816551-Gemini_Generated_Image_2xdzzd2xdzzd2xdz.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6929745/original/072421100_1779699899-roti_maryam.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570455/original/056766000_1777526387-Kue_Lumpur_Kentang.jpg)