Alasan Cowok Gen Z dan Milenial Tidak Lagi Mendekati Cewek Duluan

Kenapa para pria milenial dan Gen Z merasa ngeri untuk sekadar memulai percakapan secara langsung dengan seorang perempuan yang menarik perhatian mereka?

Diterbitkan 15 Januari 2026, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena pria lajang yang enggan mendekati wanita duluan tengah berkembang di Amerika Serikat (AS). Ryan Kessler, seorang analis keamanan siber berusia 28 tahun asal Manhattan, New York, merepresentasikan ketakutan banyak pria di generasinya yang merasa ngeri untuk sekadar memulai percakapan secara langsung.

Alasan di balik ini bukanlah kurangnya kecerdasan atau gaya, melainkan ketakutan mendalam akan dicap sebagai pria maskulin yang toksik atau dianggap sebagai pengganggu yang menyeramkan. Kessler menjelaskan bahwa saat mencoba memenangkan hati seseorang, hal terakhir yang ia inginkan adalah dianggap sebagai pria brengsek yang membuat wanita merasa risih, alih-alih terpesona.

Melansir New York Post, Rabu, 8 Januari 2026, ketakutan tersebut membuat interaksi fisik menjadi sangat terbatas. "Saya tidak pernah ingin membuat orang lain merasa tidak nyaman, dan saya ingin bersikap hormat," ujar Kessler.

"Beberapa gadis tidak ingin didekati sama sekali. Jadi, saya selalu mencoba untuk lebih berhati-hati,” imbuhnya. Akibatnya, Kessler mengakui, saat ini, "interaksi saya dengan wanita sangat sedikit dan jarang terjadi," meski ia sedang mencari pasangan.

"Saya ingin menemukan 'sosok yang tepat,'" tambahnya. Kehati-hatian yang berlebihan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma kencan, di mana batasan antara kesopanan dan ketakutan akan stigma negatif menjadi sangat tipis bagi pria muda saat ini.

Kondisi sosial saat ini membuat pria seperti Kessler lebih memilih berlindung di balik layar ponsel. Ia mengaku merasa lebih berani saat mengambil "langkah pertama di aplikasi kencan," karena menganggap para lajang di sana memang bertujuan untuk didekati secara digital.

Ruang Digital vs Realitas, Perubahan Cara Pria Mendekati Wanita

Namun, ia merasa situasinya sangat berbeda di dunia nyata. Kessler mengatakan, "Sering kali, secara langsung, (wanita) tidak berada di sana untuk didekati, jadi rasanya agak aneh." Keengganan ini muncul dari rasa takut dianggap memaksa, sebuah kekhawatiran yang ternyata dirasakan hampir separuh pria lajang di Amerika Serikat.

Laporan tahun 2025 menyebutkan bahwa "kecemasan dalam mendekati" ini secara signifikan dipengaruhi persepsi publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 44 persen dari 1.000 pria melaporkan ketakutan akan dilabeli sebagai pria "menyeramkan," padahal data menunjukkan kontradiksi yang menarik.

Tercatat bahwa 77 persen wanita berusia 18 hingga 30 tahun justru berharap mereka "lebih banyak didekati." Meski ada keinginan dari pihak wanita, trauma masa lalu tetap membayangi.

Konten kreator Viv memberi perspektif mengenai risiko yang ada. "Masalahnya adalah, banyak pria mengejar wanita meski tahu bahwa wanita tersebut tidak tertarik pada mereka," ujarnya.

Etika Pendekatan, Antara Rasa Hormat dan Kepemimpinan Kencan

Menanggapi ketakutan pria dan kekhawatiran wanita, pelatih kencan Connell Barrett memberi pandangan profesionalnya. Ia berpendapat bahwa meski rasa hormat adalah prioritas, pria tidak seharusnya berhenti sepenuhnya dalam berinteraksi.

"Rasa hormat bukan berarti mundur. Pria heteroseksual lajang seharusnya tetap memimpin alur kencan dalam fase pendekatan sampai batas tertentu," ujarnya.

Menurutnya, pesan yang disampaikan wanita selama ini sering disalahartikan oleh para pria. "Para wanita tidak mengatakan, 'Jangan bicara pada kami.' Mereka mengatakan, 'Jangan mengobjektifikasi, melecehkan, atau tidak menghormati kami,'" tegasnya.

Barrett menekankan pentingnya mengubah pola pikir agar pria tidak terjebak dalam kecemasan yang melumpuhkan. Ia menyarankan, "Adopsilah pola pikir baru. Anda sedang mencari cinta, yang merupakan hal yang sangat manusiawi."

Namun, transisi dari kecemasan menuju kepercayaan diri ini terhambat realitas pahit di lapangan. Banyak pria merasa bahwa upaya mereka bersikap manis dan menawan tetap tidak membuahkan hasil, bahkan sering kali berakhir dengan perlakuan yang tidak menyenangkan dari pihak yang didekati.

 

Penolakan Sosial dan Tuntutan Kesetaraan dalam Inisiatif Kencan

Bagi sebagian pria, rasa lelah terhadap penolakan telah mencapai puncaknya. Grant Greenly, seorang pria berusia 24 tahun, memutuskan berhenti total dari usaha merayu wanita. Pengalaman ditolak dengan kasar membuatnya merasa bahwa upaya tersebut tidak lagi sepadan.

"Saya tidak akan pernah melakukannya lagi, dan saya sungguh-sungguh. Saya tidak peduli bagaimana hal itu berdampak pada kehidupan asmara saya," ujarnya. "Mendekati wanita saat ini tidak sebanding dengan kesulitannya."

Ia juga menyoroti peran teknologi dalam memperburuk situasi. "Kencan tidak lagi seperti dulu. Ayah kita tidak perlu khawatir tentang ponsel dan komputer yang merusak pikiran orang," keluhnya.

Ia menutup dengan keyakinan bahwa jika seorang wanita tertarik, ia akan menunjukkan tanda-tandanya. "Saya diajarkan bahwa jika saya berjalan ke ruangan berisi 100 wanita, 99 orang tidak akan tertarik pada saya. Tapi satu dari mereka akan tertarik, dan dia akan memberitahu saya. Yang harus saya lakukan adalah tidak mengacaukan hal itu," tandasnya.