Studi: Tanning Bed Tingkatkan Risiko Kanker Kulit 3 Kali Lipat

Peneliti menemukan bahwa radiasi UV buatan memicu mutasi DNA dan penuaan sel pada pengguna muda, bahkan melampaui kerusakan kulit pada lansia.

Diterbitkan 22 Desember 2025, 11:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Heidi Tarr, seorang peneliti pasar berusia 49 tahun dari Chicago, memiliki pengalaman pahit dengan upaya mendapatkan kulit kecokelatan. Saat remaja, ia rutin menggunakan tanning bed (bilik pemanas untuk menggelapkan kulit) beberapa kali seminggu bersama teman-temannya. 

Motivasi mereka sederhana, ingin terlihat bersinar layaknya selebritas. "Itu hal yang biasa dilakukan, semua orang menginginkan kulit cokelat tua yang bagus itu," ujar Tarr pada AFP, seperti dikutip dari Japan Today, Sabtu, 20 Desember 2025.

Namun, kebiasaan masa mudanya membawa dampak serius. Di usia 30-an, ia menemukan tahi lalat aneh di punggungnya yang ternyata adalah melanoma, bentuk kanker kulit paling mematikan.

Meski beruntung karena mendeteksi penyakitnya sejak dini, Tarr harus menjalani lebih dari selusin biopsi untuk mengangkat tahi lalat lainnya. Kini, kekhawatiranya kembali muncul.

Putrinya yang berusia 15 tahun, Olivia, melihat tren video di TikTok yang memamerkan garis-garis kulit cokelat dan bertanya bagaimana cara mendapatkannya.  Terinspirasi hal ini, Tarr memutuskan memberi sampel kulitnya lagi, kali ini untuk penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances.

Studi terbaru yang melibatkan partisipasi Tarr mengungkap fakta mengejutkan bahwa pengguna tanning bed memiliki risiko hampir tiga kali lipat lebih besar untuk terkena kanker kulit. Pedram Gerami, seorang dokter kulit dan peneliti di Northwestern University, Illinois, memulai penyelidikan ini setelah mengamati banyaknya wanita muda yang datang ke kliniknya dengan berbagai melanoma.

Lokasi Kanker yang Tersembunyi

Tim peneliti membandingkan rekam medis dari 3 ribu orang pengguna tanning bed dengan mereka yang berusia sama, namun tidak pernah menggunakannya. Hasilnya menunjukkan bahwa melanoma didiagnosis pada lima persen pengguna tanning bed, dibandingkan dengan hanya dua persen pada kelompok non-pengguna. 

Setelah disesuaikan dengan faktor lain, seperti usia, riwayat kulit terbakar, dan riwayat keluarga, peneliti memperkirakan risiko pengguna tanning bed meningkat tajam hingga 2,9 kali lipat. Temuan lainnya adalah lokasi munculnya kanker. 

Gerami mencatat, kanker sering kali muncul pada bagian tubuh yang biasanya relatif terlindungi dari sinar matahari secara alami, seperti punggung bagian bawah dan bokong. Area-area ini terekspos cahata UV saat seseorang berbaring di dalam mesin tanning.

Mutasi DNA dan Penuaan Dini pada Sel Kulit

Penelitian ini juga menyorot bagaimana sunbeds menyebabkan mutasi DNA pada kulit yang memicu kanker. Untuk memahami tingkat kerusakannya, para peneliti mengurutkan 182 biopsi, termasuk sampel dari Tarr.

Mereka menggunakan teknologi baru untuk melihat melanosit, sel kulit langka yang menciptakan tahi lalat atau melanoma. Hasil analisis menemukan bahwa melanosit pengguna tanning bed memiliki mutasi hampir dua kali lebih banyak.

Bishal Tandukar, rekan penulis studi tersebut, memberi perbandingan yang mencolok dalam pernyataannya, "Pengguna tanning bed di usia 30-an dan 40-an memiliki lebih banyak mutasi daripada orang dalam populasi umum yang berusia 70-an dan 80-an." 

Kerusakan DNA ini menumpuk seiring waktu. Gerami menambahkan, "Jika sudah setengah jalan (mengalami kerusakan) di banyak bagian kulit Anda, tidak perlu banyak kerusakan tambahan untuk sampai ke melanoma."

Status Bahaya Global dan Saran Para Ahli

Melanoma adalah ancaman global yang serius, telah menewaskan hampir 60 ribu orang di seluruh dunia pada 2022. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengklasifikasikan tanning bed dalam tingkat risiko kanker tertinggi, setara dengan bahaya merokok dan asbes.

Merespons bahaya ini, beberapa negara, seperti Australia dan Brasil, telah memberlakukan larangan total terhadap penggunaan tanning bed. Sementara itu, negara lain, seperti Inggris dan Prancis, melarang penggunaannya bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun. 

Di Amerika Serikat, peraturan bergantung pada kebijakan masing-masing negara bagian. Gerami menegaskan, "Paling minimal, ini harus dilarang untuk anak di bawah umur." 

Ada kekhawatiran bahwa media sosial mendorong generasi baru menuju penggunaan alat berbahaya ini. Tarr merekomendasikan pemeriksaan kulit rutin ke dokter kulit dan menyarankan penggunaan lotion atau semprotan pewarna kulit sebagai alternatif yang lebih aman.