Isu Getok Harga di Pasar Gwangjang Seoul Korea Selatan, Salah Satu Destinasi Wisata Kuliner Populer

Pasar Gwangjang Seoul yang dikenal destinasi wisata kuliner ikonis kini disorot tajam terkait isu getok harga usai sebuah video tentang pengalaman belanja seorang YouTuber jadi viral di media sosial.

Diterbitkan 10 November 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar Gwangjang di Seoul, Korea Selatan, merupakan salah satu magnet bagi wisatawan lokal maupun asing untuk berwisata kuliner. Dengan deretan kios yang menjual makanan jalanan otentik Korea seperti bindaetteok (panekuk kacang hijau) dan tteokbokki (kue beras pedas), tempat ini selalu ramai dan hidup.

Namun, citra pasar tradisional yang ikonis ini belakangan diguncang isu getok harga. Itu dipicu perselisihan sengit antara seorang penjual makanan dan seorang YouTuber populer yang menuding terjadi penggelembungan harga, di samping muncul pertanyaan terkait standar layanan di pasar tersebut.

Melansir Korea Times, Jumat, 7 November 2025, kontroversi ini bermula dari video yang diunggah di kanal YouTube "Weird Sweets Shop," yang memiliki 1,49 juta pelanggan pada Selasa, 3 November 2025. Video yang berjudul 'Ini membuat saya tidak pernah ingin mengunjungi Pasar Gwangjang lagi', dengan cepat menjadi viral, diputar empat juta kali hanya dalam dua hari.

Dalam klip tersebut, pembuat konten menyoroti beberapa pelayanan yang ia anggap bermasalah, termasuk pelayanan yang kasar, perubahan menu yang tidak jelas, dan yang paling mengkhawatirkan, penanganan makanan yang tidak higienis.

Titik awal perselisihan sengit ini berpusat pada pesanan sundae yang disajikan di salah satu kios. YouTuber tersebut mengklaim bahwa ia memesan menu sundae (makanan berbahan perut babi dengan bihun) standar seharga 8.000 won (sekitar Rp92 ribu), tetapi malah dikenakan biaya untuk "sundae campuran" seharga 10.000 won (sekitar Rp 116 ribu).

 

Beda Klaim Penjual dan Pembeli di Pasar Gwangjang

Menurut penuturan YouTuber, porsi yang ia terima sama dengan porsi standar yang dipesan, dan tidak ada yang bertanya apakah ia ingin daging ditambahkan, yang biasanya menjadi alasan perbedaan harga. Namun, respons dari pihak penjual langsung membantah klaim tersebut, menciptakan narasi yang bertolak belakang.

Penjual yang menjadi pusat perselisihan merasa dianiaya dan angkat bicara kepada wartawan Channel A. Ia mengklaim, "Saya bertanya apakah dia ingin daging dicampur, dan dia menjawab ya. Setelah dia selesai makan dan menanyakan harganya, saya mengatakan kepadanya bahwa itu adalah 10.000 won. Dia mulai mengumpat dan mencoba mencabik-cabikku."

Penjual tersebut juga mengklaim ia akhirnya menerima pembayaran 8.000 won setelah YouTuber terus mengeluh. Namun, YouTuber tersebut dengan tegas membantah klaim tersebut, membantah berperilaku agresif, dan menegaskan bahwa ia membayar 10.000 won penuh, mencatat bahwa jumlah tersebut terekam dalam riwayat transfer banknya.

Asosiasi Pedagang Pasar Gwangjang Ikut Campur

Perselisihan antara penjual dan YouTuber ini dengan cepat meluas dari sekadar urusan pribadi menjadi masalah publik yang melibatkan citra Pasar Gwangjang. Asosiasi pedagang Pasar Gwangjang segera mengambil sikap dengan memihak vendor yang bersangkutan, bahkan mengemukakan dugaan serius bahwa YouTuber tersebut telah mendekati kios "dengan niat" tertentu, menyiratkan bahwa video tersebut dibuat dengan tujuan merusak reputasi.

YouTuber tersebut kecewa menanggapi tudingan itu. Ia, menulis, "Jika itu benar-benar sikap resmi mereka, itu sangat mengecewakan."

Ia menjelaskan tujuan utama dari video viralnya. "Video itu tidak dimaksudkan untuk memilih toko individu mana pun. Saya ingin menunjukkan realitas bagaimana pasar yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing dijalankan." Pernyataan ini membawa isu ini melampaui masalah harga dan pelayanan satu kios, ke isu yang lebih luas tentang kualitas pengalaman bagi pengunjung asing.

 

Pemerintah Kota Turun Tangan

Selain masalah harga dan pelayanan, YouTuber itu juga menyoroti isu kebersihan. "Saya melihat juru masak memasukkan sisa mi dari mangkuk pelanggan sebelumnya langsung ke dalam panci berisi air mendidih. Siapa pun akan melihat itu sebagai masalah kebersihan."

Dengan video yang terus menyebar dan memicu perdebatan publik yang intens, otoritas setempat akhirnya turun tangan. Kota Seoul dengan cepat mengumumkan bahwa mereka akan memeriksa para pelaku usaha di Pasar Gwangjang secara menyeluruh. Pemeriksaan ini akan berfokus pada tiga aspek utama yaitu praktik harga, layanan pelanggan, dan kebersihan.

Tidak hanya itu, Kantor Distrik Jongno, tempat Pasar Gwangjang berada, juga mengumumkan rencana konkret untuk meningkatkan akuntabilitas dan membangun kembali kepercayaan publik. Mereka berencana untuk memperkenalkan "sistem label nama vendor" pada akhir tahun.