Strategi dan Inovasi Berikanesia Lestari untuk Dukung Ekonomi Biru di Pulau Belitung

GoTo Impact Foundation bekerja sama dengan changemakers, pemangku kepentingan, dan masyarakat setempat menghadirkan inovasi "Berikanesia Lestari" untuk mendukung ekonomi biru di Pulau Belitung.

OlehHenry
Diterbitkan 04 Mei 2025, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi nirlaba yang didirikan oleh Grup GoTo, GoTo Impact Foundation (GIF), bekerja sama dengan changemakers, pemangku kepentingan, dan masyarakat setempat.  Mereka menghadirkan inovasi "Berikanesia Lestari" untuk mendukung ekonomi biru di Pulau Belitung.

Inisiatif ini menargetkan pengurangan limbah ikan, penyediaan pakan terjangkau, dan peningkatan pendapatan masyarakat hingga 25 persen. Menurut Monica Oudang selaku Ketua GoTo Impact Foundation, Berikanesia Lestari merupakan konsorsium dari tiga organisasi, yaitu Ikanesia, Berikan Protein, dan Selaras Muba Lestari.

Inisiatif ini lahir dari program unggulan Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0 yang diinisiasi GoTo Impact Foundation untuk mempercepat inovasi akar rumput di berbagai daerah.

"Transformasi butuh keberanian untuk mencoba dan melihat peluang baru di balik setiap tantangan," jelas Monica dalam keterangan tertulis yang diiterima tim Lifestyle Liputan6.com, Sabtu, 3 Mei 2025.

"Sejak empat tahun lalu, dari pengalaman mendampingi 138 changemakers di enam wilayah Indonesia, kami belajar bahwa inovasi dari akar rumput, jika digerakkan oleh lintas sektor—menyumbangkan waktu, keahlian, dan sumber daya—akan menciptakan perubahan yang nyata dan berdampak luas," sambungnya.

Proyek Berikanesia Lestari bekerja sama dengan kecamatan dan desa di Pulau Belitung: Air Seruk, Tanjung Binga, dan Tanjung Pandan untuk bersama-sama mengatasi tantangan lokal dan mendorong solusi berkelanjutan di area masing-masing. Desa Air Seruk, memiliki potensi alam yang besar dalam sektor pertanian dan perikanan, ironisnya, angka stunting di wilayah tersebut mencapai 18,37 persen, salah satu yang tertinggi di Kecamatan Sijuk dan jauh dari target penurunan prevalensi stunting nasional yang diharapkan mencapai 14 persen.

Sementara itu, di Kecamatan Tanjung Pandan dan desa Tanjung Binga yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan, masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah pasar ikan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini berpotensi merusak ekosistem laut dan mendorong kenaikan harga ikan dalam jangka panjang.

 

Pengolahan Limbah Ikan

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, Muhammad Farhan Yusron selaku Perwakilan Konsorsium Berikanesia Lestari, membagikan empat strategi utama yang diharapkan bisa menciptakan multiplier effect (efek berganda) di bidang ketahanan pangan, lingkungan, dan kesehatan di ketiga wilayah tersebut:

1. Pengolahan Limbah Ikan menjadi Pakan Terjangkau

Limbah ikan diolah menjadi pelet ikan berkualitas tinggi dan harganya terjangkau, yang diolah dengan mesin secara higienis dan telah melewati hasil uji proksimat.

2. Rehabilitasi Kulong untuk Budidaya Ikan Air Tawar Bernutrisi

Lahan bekas tambang diubah menjadi ekosistem budidaya ikan air tawar bernutrisi, seperti ikan bandeng, untuk menciptakan alternatif ekonomi bagi mantan penambang.

3. Edukasi Gizi, Pendampingan, dan Pemantauan Anak

Program ini mencakup edukasi gizi untuk ibu balita dan kader kesehatan masyarakat, intervensi makanan tinggi protein menggunakan produk budidaya ikan, serta pemantauan rutin status gizi anak menggunakan indikator berat dan tinggi badan.

4. Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Pelatihan dan pendampingan UMKM untuk mengolah dan memasarkan produk perikanan hasil budidaya ikan di lahan bekas tambang.

Melalui keempat strategi ini, 123 masyarakat yang mendapat pelatihan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan mereka sebesar 15–25 persen di atas Upah Minimum Daerah, sekaligus memperbaiki status gizi balita hingga 30 persen.

Menumbuhkan Perekonomian, Mewujudkan Kelestarian Lingkungan dan Sosial

Berikanesia Lestari juga akan ditopang oleh kolaborasi erat dengan kelompok nelayan dan petani tambak dalam mengolah limbah ikan. Program ini menargetkan produksi 40.000 kg pakan ikan dengan harga jual 53 persen lebih murah dari harga pasar.

Untuk budidaya ikan air tawar bernutrisi di kulong, Berikanesia Lestari akan berkoordinasi dengan dinas setempat untuk memastikan standar keamanan lahan bekas tambang. Menanggapi inovasi tersebut, Wakil Bupati Belitung Syamsir, S.I.Kom., mengapresiasi inisiatif ini yang sejalan dengan rencana ekonomi biru dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045.

"Ekonomi Biru merupakan fokus utama Kepulauan Bangka Belitung karena dapat menumbuhkan perekonomian sekaligus mewujudkan kelestarian lingkungan dan sosial," terang Syamsir.

Dalam mewujudkannya, kolaborasi lintas sektor dari tingkat pusat, daerah, sampai swasta dan masyarakat merupakan hal yang penting. Kehadiran Berikanesia Lestari menjadi langkah awal yang berarti untuk mendorong Bangka Belitung kembali bangkit dan berdaya secara mandiri.

"Berikanesia Lestari ini bukti nyata atas kepedulian anak-anak bangsa mengatasi tantangan di daerahnya dengan kreasi yang solutif dan inovatif. Sudah saatnya kita Berani untuk Berdaya dari cara penyelesaian lama dan hambatan yang menghalangi kolaborasi," tutup Monica.

Â