Sukses

Masih Ada Kesempatan Vaksin Booster Kedua Gratis di Kemenparekraf

Liputan6.com, Jakarta - Meski jumlah kasus Covid-19 sudah menurun, kewaspadaan dan perlindungan tetap harus dikedepankan. Merespons hal itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar sentra vaksin booster kedua di Gedung Sapta Pesona yang berlangsung hingga hari ini, Jumat (3/2/2023).

Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan bahwa momentum kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif harus terus dijaga seiring target kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, yang naik dua kali lipat pada 2023. "Kita butuh kekebalan karena setelah enam bulan biasanya turun lagi," ujarnya di sela pengawasan Sentra Vaksin Booster ke-2 di Jakarta, Rabu, 1 Februari 2023.

Sentra vaksin booster kedua itu menargetkan 2.000 orang, baik dari lingkungan Kemenparekraf maupun masyarakat umum. Pengadaannya itu merupakan hasil kolaborasi dengan sejumlah pihak, yakni Privy, Enesis Group, dan Murnicare. Pelaksanaannya terbagi dua sesi setiap hari, yakni pukul 08.00--11.30 dan pukul 13.00--15.00 WIB. 

Peserta vaksin harus memiliki elektronik tiket vaksin keempat yang terdapat pada PeduliLindungi dan meregistrasi diri di https://s.id/vaksinkemenpar2023. Jika belum memiliki tiket tapi sudah melakukan vaksin booster pertama dalam rentang waktu minimal 6 bulan, tetap bisa hadir dan mendapatkan vaksinasi booster kedua.

Jenis vaksin yang digunakan telah mendapat Persetujuan Penggunaan Dalam Kondisi Darurat atau Emergency Use Authorization(EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memperhatikan vaksin yang ada. Ada dua jenis vaksin Covid-19 yang tersedia untuk vaksinasi booster kedua saat ini, yaitu Pfizer dan Zifivax.

"Hari ini kita perkuat ketahanan dari masyarakat dan memang ada varian baru, tapi Indonesia telah berhasil mengendalikan berkat kolaborasi seperti ini, seluruh pentahelix seperti ini," imbuh Sandiaga.

 

 

2 dari 4 halaman

Antisipasi Lebaran

Berdasarkan data Kemenkes, hingga 31 Januari 2023, 204,24 juta dosis telah diberikan untuk vaksinasi dosis pertama atau sebesar 87,04 persen dari target nasional (234,66 juta dosis). Sebanyak 175,09 juta dosis telah diberikan untuk vaksinasi dosis kedua atau sebesar 74,61 persen dari target nasional dan telah diberikan sebanyak 69,43 juta dosis untuk vaksinasi ketiga (booster pertama) serta 1,27 juta dosis telah diberikan untuk vaksinasi keempat (booster kedua) yang baru dimulai pada akhir Januari 2023 bagi masyarakat umum.

"Kalau lihat survei kemarin, (tingkat kekebalan) naik dari 98 persen menjadi 99 persen karena didukung program vaksin booster ini," imbuh Sandiaga. 

Ia berharap sentra vaksinasi booster kedua itu juga akan digelar di tempat lain mengingat peningkatan kekebalan semakin diperlukan jelang libur lebaran. Dengan vaksinasi, ia berharap agenda mudik massal tahunan di musim Lebaran tidak memicu peningkatan kasus yang signifikan. Apalagi, PPKM sudah ditiadakan oleh pemerintah.

"Kita ingin mudik bisa totalitas, tanpa ada pembatasan," ucapnya. 

Di sisi lain, Sandi berharap kesadaran masyarakat untuk vaksinasi booster meningkat. "Masyarakat lah yang akan menjadi benteng kita menghadapi varian baru," kata dia.

3 dari 4 halaman

Jangan Lengah

Vaksinasi booster kedua untuk masyarakat umum mulai diberlakukan per 24 Januari 2023. Vaksin booster bermanfaat untuk memberikan perlindungan yang mesti dipertahankan di tengah situasi sirkulasi virus SARS-CoV-2 yang tak terprediksi.

"Vaksin booster kedua tetap penting, mengingat kondisi COVID-19 saat ini tidak bisa diprediksi," kata Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Erlina Burhan.

Serupa dengan ajakan Menparekfar, Erlina mengimbau masyarakat untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi COVID-19 agar imun tubuh meningkat. Terlebih, saat ini aktivitas masyarakat sudah kembali seperti sebelum pandemi.

"Jangan lengah di saat tidak ada lagi kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), karena penularan virus tidak bisa diprediksi," katanya.

Erlina menerangkan bahwa tujuan vaksinasi Covid-19 saat ini bukan lagi mencegah infeksi, tetapi menghindarkan masyarakat dari keparahan akibat COVID-19. "Antibodi alami karena terpapar COVID-19 meski diperoleh bukan dari vaksin, tetap akan menurun, jadi kita tidak boleh euforia dan tetap perlu tambahan vaksin," kata dokter spesialis paru ini mengutip Antara

4 dari 4 halaman

Booster Pertama Masih Rendah

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia Mohammad Syahril menyampaikan, pemberian vaksin booster kedua masyarakat umum setelah enam bulan suntik booster pertama. Bila sudah lebih dari enam bulan, dapat langsung ke fasilitas kesehatan (faskes) untuk suntik booster kedua.

"Begitu booster kedua, maka nanti secara serentak kepada masyarakat yang belum booster pertama, ya kita harapkan vaksin booster pertama dulu. Setelah enam bulan, baru bisa dilakukan booster kedua," kata Syahril. 

Ia mengakui cakupan booster pertama secara nasional masih menjadi tantangan bersama. Menurut catatan, cakupan booster pertama hingga per 24 Januari 2023 di angka 29,80 persen. Demi mengejar target 50 persen vaksinasi booster pertama, diperlukan kerja keras dari seluruh pihak.

"Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama dengan ya capaian booster pertama masih 29,80 persen ya. Kalau kita mengejar target sampai 50 persen, kita harus kerja keras dan membutuhkan keterlibatan semua pihak," ujar Syahril. "Bahwa vaksin ini menjadi bagian (penting) dari pengendalian COVID-19."

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.