Sukses

Machu Picchu Nyaris Rusak karena Kebakaran Hutan

Liputan6.com, Jakarta - Seolah ancaman pariwisata berlebihan belum cukup, Machu Picchu di Peru nyaris rusak karena kebakaran hutan. Menurut laporan, yang dilansir dari Express, Sabtu (2/7/2022), kobaran api di dekat salah satu situs arkeologi paling terkenal di dunia itu terjadi pada Selasa, 28 Juni 2022.

Kebakaran itu telah menghancurkan sekitar 100 hektare lahan, setara sekitar 50 lapangan sepak bola. Pada Rabu, 29 Juni 2022, sekitar 20 hektare telah tedampak kebakaran, kata wali kota kota terdekat Cusco. Lokasinya yang terpencil menghambat upaya menahan kobaran api.

Machu Picchu, sebuah kompleks struktur batu yang terletak di atas gunung, dibangun lebih dari 500 tahun lalu oleh suku Inca. Kekaisaran suku kuno itu menguasai sebagian besar Amerika Selatan, dari yang sekarang disebut Ekuador selatan hingga Chili tengah.

Kebakaran, yang menurut Kementerian Kebudayaan Peru menelan daerah terpencil berjarak sekitar 10 km dari Machu Picchu, dilaporkan dipicu para petani yang telah membuka lahan untuk bercocok tanam. Kamis malam, 30 Juni 2022, waktu setempat, pihak berwenang Peru mengumumkan bahwa api telah 90 persen dijinakkan puluhan petugas pemadam kebakaran dan polisi.

Mereka mengklaim Machu Picchu sendiri tidak terpengaruh peristiwa tersebut. Wali kota distrik Machupicchu, Darwin Baca León, mengatakan pada stasiun radio Peru RPP, "Syukurlah, (api) dapat dipadamkan.”

Wali kota mengakui petugas pemadam kebakaran masih bekerja untuk mengendalikan beberapa "kobaran kecil api" di pegunungan yang tetap aktif. Kebakaran itu terjadi ketika tujuan wisata Amerika Selatan itu mencoba pulih dari dampak buruk pandemi COVID-19, yang merenggut lebih dari 200 ribu nyawa orang Peru.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kota Hilang di Atas Awan

Destinasi pariwisata Peru, termasuk Machu Picchu, ditutup pada awal 2020 ketika COVID-19 melanda seluruh dunia, merenggut jutaan nyawa dan mendatangkan malapetaka pada ekonomi. Pada Kamis, 30 Juni 2022, Kementerian Budaya Peru bersikeras bahwa kegiatan wisata di Machu Picchu tidak terpengaruh kebakaran minggu ini, sementara tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Machu Picchu jadi terkenal di dunia sekitar seabad lalu setelah seorang akademisi dan penjelajah Amerika mengumumkan "penemuan kota hilang di atas awan." Menulis di New York Times, Hiram Bingham mengatakan bangunan batu yang menakjubkan dan banyaknya tempat tinggal batu membuatnya curiga kota Andes "mungkin terbukti jadi reruntuhan terbesar dan terpenting yang ditemukan di Amerika Selatan sejak zaman penaklukan Spanyol."

Bingham menawarkan nama "Machu Picchu" untuk daerah yang telah ia temukan kembali dan membawa perhatian global. Namun, sebuah makalah akademis baru-baru ini mempertanyakan kebenaran gagasan nama tersebut.

Penulisnya mengatakan, situs warisan dunia UNESCO itu sebenarnya telah dikenal sebagai Huayna Picchu, mengambil nama puncak gunung di atas reruntuhan, atau hanya Picchu.

3 dari 4 halaman

Ancaman Kebakaran Hutan

Sebelum Machu Picchu, kebakaran hutan sudah lebih dulu mengancam pohon terbesar di dunia, yang akhirnya dibungkus aluminium tahan api untuk melindunginya dari kebakaran hutan di California, Amerika Serikat (AS), tahun lalu. Melansir The Sun, spesies pohon General Sherman setinggi 84 meter ini adalah yang terbesar berdasarkan volume dan berusia sekitar 2,5 ribu tahun.

Kebakaran yang melanda Taman Nasional Sequoia di California berjarak hanya 1,6 kilometer (km) dari Giant Forest, sebuah area berisi dua ribu sequoia raksasa. Rebecca Paterson dari dinas pemadam kebakaran setempat mengatakan, "Kami mengantisipasi kebakaran akan terus meluas, semoga tidak terlalu cepat."

Sequoia sejatinya beradaptasi dengan api saat mereka melepaskan biji dari kerucutnya ke tempat terbuka yang terbakar untuk pohon baru. Tapi kekeringan, yang terkait perubahan iklim, membuat kobaran api begitu dahsyat hingga melahap habis pepohonan.

Kebakaran hutan ini telah berlangsung sejak Juli 2021. Kebakaran hutan di lima wilayah di California Utara telah berkembang jadi yang terbesar sepanjang tahun ini di AS, dan yang terbesar kedua dalam sejarah California, lapor SCMP.

4 dari 4 halaman

Korban Luka-Luka

Saat itu, dilaporkan ada lebih dari 24 titik kebakaran di hutan California. Hampir 4,2 ribu personel dan lebih dari 24 helikopter penjatuh air telah ditugaskan menangani kebakaran yang penyebabnya masih diselidiki tersebut.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, tapi beberapa petugas pemadam kebakaran dan warga sipil terluka dalam beberapa hari terakhir. Tim petugas keselamatan setempat memperingatkan bahwa kelelahan bisa saja terjadi, mendorong petugas agar bergerak cepat untuk pertempuran panjang dan memakan banyak tenaga.

Kebakaran besar lain di California Utara, Caldor Fire, telah menghanguskan sekitar 877 km persegi wilayah hutan tersebut. Kobaran api mulai terjadi pada 14 Agustus 2021, dan telah menghancurkan hampir seribu bangunan di dekat Danau Tahoe, serta mendorong evakuasi massal di kota South Lake Tahoe, pekan lalu.

Presiden AS Joe Biden sudah melakukan survei terkait peristiwa kebakaran hutan di California. Biden mengatakan, kebakaran sepanjang tahun dan cuaca ekstrem lain merupakan realita krisis iklim yang tidak lagi dapat diabaikan. Ia menggarisbawahi perlunya tindakan tegas, serta mendesak untuk memerangi pemanasan global.

Biden juga melihat langsung kerusakan yang terjadi di California. Saat itu, helikopter yang dinaikinya, Marine One, terbang di atas lanskap kering yang berkabut akibat asap dari kebakaran hutan.