Sukses

Kreasi Mi Instan Pakai Jus dan Potongan Buah Mangga, Bikin Warganet Bergidik

Liputan6.com, Jakarta - Publik telah melihat banyak kreasi mi instan selama bertahun-tahun. Beberapa ada yang dianggap berhasil, sementara tidak sedikit juga yang membuat bergidik. Dalam kategori kedua, "Mangga Maggi" jadi kreasi terbaru yang menambah panjang daftar tersebut.

Hidangan ini pada dasarnya menggabungkan mi instan dengan buah mangga, melansir NDTV, Selasa, 17 Mei 2022. Dalam video yang dibagikan akun Instagram The Great Indian Foodie, beberapa waktu lalu, seorang penjual wanita asal India bersiap membuat kreasi mi instan tidak biasa itu di wajan besar.

Pertama-tama, ia memanaskan ghee, semacam butter India, dan menambahkan beberapa masala, remah asal negara itu. Ia kemudian menambahkan air dan mi instan yang dibagi jadi beberapa bagian. Sejauh ini baik-baik saja sampai wanita itu menambahkan jus mangga ke wajan.

Tidak berhenti di situ saja, setelah mi yang dimasak sampai ke wadah penyajian, wanita itu mulai mengupas mangga yang sudah matang. Ia menambahkan potongan mangga segar ke atas mi yang sudah matang tersebut. Sambil menyajikan mi, wanita itu juga menuangkan jus mangga ke wadah saji.

Video tersebut jadi viral di media sosial. Di bagian komentar, beberapa pengguna mengungkap betapa ngeri mereka melihat resep mi instan tersebut. "Tuhan, tolong pindahkan saya ke planet lain," tulis salah satunya, sementara yang lain berkomentar, "Mohon tambahkan lokasinya, sehingga seseorang dapat pergi ke sana dan menawarkan konseling (pada penjual)."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Prediksi Kenaikan Harga Mi Instan

Viralnya konten kreasi mi instan itu berbarengan dengan peringatan bahwa harga makanan itu akan naik di Indonesia. Pasalnya, India menangguhkan sementara ekspor gandum ke luar negeri guna melindungi kebutuhan dalam negeri negara itu yang saat ini sedang mengalami lonjakan harga.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, menurut laporan kanal Bisnis Liputan6.com, pelarangan gandum oleh India akan berdampak pada pakan ternak yang sebagian menggunakan campuran gandum. Harga gandum naik itu bisa menyebabkan harga daging dan telur juga naik.

"Pengusaha harus segera mencari sumber alternatif gandum dan ini harusnya jadi kesempatan bagi alternatif bahan baku selain gandum, seperti tepung jagung, singkong, dan sorgum yang banyak ditemukan di Indonesia," kata Bhima pada merdeka.com.

India merupakan produsen gandum nomor dua terbesar di dunia setelah China dengan kapasitas produksi 107,5 juta ton. Sementara Indonesia mengimpor gandum sebesar 11,7 juta ton atau setara USD3,45 miliar setiap tahunnya.

3 dari 4 halaman

Bukan Kali Pertama

Sebelumnya, harga mi instan di seluruh dunia lebih diprediksi naik imbas invasi Rusia ke Ukraina, Februari 2022. ABC News melaporkan, Indonesia mengimpor 25 persen gandum, yang merupakan bahan utama mi instan, dari Ukraina pada tahun lalu.

Produksi gandum Ukraina dan Rusia menyumbang sepertiga dari total gandum yang beredar di seluruh dunia. Namun, situasi perang membuat pelabuhan berhenti beroperasi karena dikepung tentara Rusia. Situasi diperparah dengan petani Ukraina yang dipaksa meninggalkan ladang untuk ikut berperang hingga mendisrupsi rantai pasok gandum ke seluruh dunia.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, memprediksi gangguan pasokan itu akan meningkatkan harga mi instan. "Ini harus diantisipasi karena mi ayam atau mi instan yang kita makan itu 100 persen bahan bakunya diimpor," kata Tulus dalam webinar bulan Februari 2022.

Namun, Kepala Divisi Riset Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri, menyebut konflik yang terjadi di Ukraina belum berdampak signifikan terhadap harga gandung maupun mi instan. Saat itu, ia mengaku Indonesia saat ini memiliki cadangan sekitar 1,2 ton gandum yang diprediksi cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga bulan ini.

4 dari 4 halaman

Akibat Pandemi COVID-19

Anthonius Auwyang, juru bicara Mayora di Australia, mengatakan bahwa kenaikan harga mi instan di Australia sudah terjadi sebelum perang. Gangguan rantai pasok selama pandemi mendorong perusahaan tersebut menaikkan harga antara 15 hingga 20 persen.

Dengan adanya perang, ia memprediksi harga mi instan bisa lebih tinggi. Walau Mayora tidak membeli gandum dari Ukraina, perang itu tetap memengaruhi harga mi instan perusahan secara tidak langsung. Hal ini berlaku dengan harga mi instan di Indonesia yang sudah naik.

"Perang menaikan biaya pengiriman yang lebih mahal dan secara tidak langsung bisa meningkatkan harga bahan makanan. Efeknya itu akan terasa dalam jangka panjang karena Australia masih memasok gandum ke Indonesia," ujarnya.

Berbeda dengan Anthonius, CEO Indofood Anthoni Salim, menyebut kenaikan harga mi instan sebagai spekulasi. Ia meyakinkan bahwa pihaknya masih memiliki stok gandum impor dari Ukraina sejak Februari tahun lalu. "Saya sendiri pikir tidak akan ada masalah dengan pasokannya sampai hari ini," tuturnya.