Sukses

Mengenal Umbul Jumprit, Tempat Mengambil Air Berkah untuk Perayaan Waisak

Liputan6.com, Jakarta - Setiap perayaan Waisak, nama Umbul Jumprit selalu disebut. Lokasi tersebut tempat pengambilan air berkah untuk perayaan Waisak yang kemudian disemayamkan di Candi Mendut dan Borobudur. 

Air tersebut juga digunakan untuk ritual pentirtaan dalam peringatan Waisak 2022. Lalu, apa itu Umbul Jumprit?

Umbul Jumprit terletak di lereng Gunung Sindoro, Desa Tegalrejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs ini terletak sekitar 26 kilometer di sebelah barat laut Kota Temanggung.

Dikutip dari Merdeka, mata air itu berada di bawah sebuah gua, dinaungi pohon besar yang teduh. Mata air ini tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.

Mata air yang terletak di lereng Gunung Sindoro menjadi sumber air bagi Sungai Progo. Letaknya yang berada di ketinggian 2.100 meter dpl membuat mata air ini tetap dingin meski saat siang hari.

Situs Umbul Jumprit merupakan situs suci bagi aliran kepercayaan maupun agama Buddha. Situs ini merupakan salah satu tempat semedi bagi biksu ataupun umat. Banyak peziarah makam Ki Jumprit yang letaknya dekat dengan Umbul Jumprit melanjutkan bermeditasi dan mandi kungkum.

Kawasan Jumprit berada di jalur strategis, yaitu jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng, serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, maupun Yogyakarta. Perjalanan juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari ibu kota Kecamatan Ngadirejo, dikutip dari temanggungkab.go.id.

Wisatawan juga akan lebih leluasa dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jalan menuju lokasi sudah diaspal, sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Dalam perjalanan menuju Jumprit, wisatawan juga bisa menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Ki Jumprit

Ki Jumprit disebut sebagai seorang ahli nujum kerajaan Majapahit. Namanya muncul dalam Serat Centhini. Lokasi ini disebut sebagai tempat petilasan Ki Jumprit. Ia meninggalkan keraton untuk bertapa dengan ditemani seekor monyet bernama Ki Dipo.

Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit. Dia meninggalkan kerajaan agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas. Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.

Awalnya, keberadaan Umbul Jumprit hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja. Tetapi sejak awal 1980-an, jumlah pengunjung terus meningkat, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit.

Beberapa tokoh masyarakat meyakini Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Namun, hal ini masih memerlukan kajian mendalam, terutama dari aspek kesejarahan, dikutip dari laman Temanggungkab.go.id.

 

 

3 dari 4 halaman

Kawasan Wanawisata

Terlepas dari mitos yang beredar, yang jelas Umbul Jumprit adalah sumber mata air sungai Progo yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Kawasan Umbul Jumprit ditetapkan sebagai kawasan wanawisata atau wisata hutan, khususnya hutan pinus, oleh Pemkab Temanggung pada 18 Januari 1987. 

Setahun kemudian, kawasan itu diresmikan Gubernur Jawa Tengah saat itu HM Ismail. Kawasan ini menawarkan agrowisata, perkemahan, dan atraksi kera liar yang mendiami kawasan itu.

Jalan masuk menuju Umbul Jumprit ditandai oleh gerbang dengan arsitektur Jawa kuno. Sekitar 30 meter di dalamnya terdapat gerbang kedua dan sebuah patung Hanoman.

Jika berkunjung ke Umbul Jumprit, pelancong akan melihat kera. Kera di kawasan ini dipercaya sebagai keturunan Ki Dipo, yaitu monyet yang menemani Ki Jumprit bertapa, dengan seekor kera betina dari Pegunungan Pleret.

Jika ingin menginap di kawasan ini juga tersedia wisma Perhutani atau bisa juga mendirikan tenda di bumi perkemahan. Wisatawan bisa menikmati udara segar dan indahnya pemandangan saat matahari terbit.

 

4 dari 4 halaman

Buang Sial

Karena berada di lereng Sindoro, hawa di tempat ini cukup dingin. Airnya juga dingin, jernih, dan menyegarkan. Wisatawan yang bermalam dianjurkan membawa jaket.

Pemandangan alamnya pun indah, dengan hutan pinus yang membentang dan udara segar yang baik untuk kesehatan. Belantara pepohonan dan letaknya yang berada di lereng Sindoro membuat hawa panas sepertinya enggan menyapa tempat tersebut. 

Puncak keramaian perziarah biasanya terjadi pada dua hari keramat “Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon”. Apalagi, jika waktu sudah meninggalkan pukul 24.00 WIB. Seusai kungkum, mereka membuang pakaian dalam sebagai simbol membuang sial, sekaligus berharap rezeki baru bakal datang.

Momen Malam 1 Suro juga sangat ramai, didukung atraksi wisata di Sendang Sidukun, yaitu tradisi Suran Traji dengan aneka ritual menebar Jimat Pengantin Lurah Traji. Upacara ini sudah dilakukan ratusan tahun lalu, yaitu berupa kirab lurah. Selain Umbul Jumprit, Temanggung masih memiliki destinasi wisata yang indah lainnya.