Sukses

6 Oleh-Oleh Khas Pekalongan yang Layak Dibeli, dari Camilan hingga Batik

Liputan6.com, Jakarta - Pekalongan merupakan salah satu persinggahan ramai tujuan para pemudik di masa libur Lebaran 2022. Kota/kabupaten di jalur Pantura, Jawa Tengah ini memiliki sederet oleh-oleh menarik yang layak dibeli sebagai buah tangan.

Oleh-olehnya didominasi ragam camilan. Dari sekian banyak pilihan, Liputan6.com merangkum enam di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Kamis, 5 Mei 2022.

1. Kerupuk Gendar

Kerupuk gendar merupakan salah satu camilan tradisional khas Pekalongan berbahan dasar nasi. Kerupuk ini juga bisa ditemukan di wilayah lain dengan modifikasi rasa dan dikenal pula dengan nama kerupuk nasi atau karak.

Teksturnya yang renyah dan gurih pas di lidah pelancong. Biasanya, warga menyantap kerupuk itu sebagai pelengkap makan siang dengan soto tauco khas Pekalongan.

Kerupuk itu terbuat dari bahan nasi bumbu ketumbar yang ditambahkan bawang putih dan tepung sagu. Pelancong bisa menemukannya dengan mudah di warung, pasar, maupun pusat oleh-oleh yang tersebar di pinggir jalan Pekalongan.

2. Capret Pekalongan

Selain kerupuk gendar, Pekalongan juga memiliki capret sebagai camilan yang cocok untuk dikonsumsi bersama keluarga atau kerabat saat kumpul-kumpul. Capret terbuat dari tepung pati yang dibumbui dengan berbagai macam perasa, seperti barbekyu, pedas, dan rasa keju.

Camilan itu ditawarkan dengan harga relatif murah, mulai dari Rp10 ribu per bungkus. Wisawatan bisa langsung membelinya di toko oleh-oleh khas pusat kota, seperti di Toko si Pitung yang terletak di Jl. Gajah Mada Bendan, Kecamatan Pekalongan, Jawa Tengah.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3. Kopi Tjanting

Pekalongan juga menawarkan ragam kopi yang layak dijadikan oleh-oleh. Salah satu yang terkenal adalah Kopi Tjanting yang dibudidayakan di perkebunan kopi Talun.

Perkebunan yang terletak di salah satu kecamatan itu dijuluki sebagai penghasil kopi terbaik sejak zaman VOC. Pangsa pasarnya saat itu bahkan sampai ke Eropa dan Amerika.

Kopi Tjanting dikenal dengan label Tjanting Coffee. Pemiliknya adalah Rizky Robbany. Ia hanya menerima biji kopi 'petik merah' dari para petani lokal. Ia lalu mengolahnya secara natural di daerah Kraton Kidul, Kecamatan Pekalongan Barat, tepatnya Jl. Angkatan 45 Gang 5 Nomor 14, Kota Pekalongan.

Pemilik menawarkan kopi berkualitas premium yang sudah di-roasting dan digiling. Pemasarannya bahkan sudah menjangkau luar pulau, seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Ada tiga varian kopi tersedia, yakni robusta, excelsa, dan arabika. Bagi pemula, varian excelsa direkomendasikan untuk dicicipi karena tidak begitu pahit dan asam dengan after taste fruity.

3 dari 4 halaman

4. Binteng Jahe

Camilan yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh khas Pekalongan selanjutnya yaitu binteng jahe. Sesuai namanya, panganan asal Pekalongan ini berbahan jahe yang diolah bersama gula dan kelapa.

Aroma jahenya kuat. Rasanya perpaduan manis dan pedas. Umumnya, ogak jahe itu disantap saat sedang menghadapi cuaca dingin di daerah Pekalongan karena bisa menghangatkan tenggorokan. 

5. Limun Oriental

Selain makanan, Pekalongan juga menawarkan minuman khas tradisional yang bernama Limun Oriental. Soft drink legendaris ini juga cocok dijadikan oleh-oleh.

Limun Oriental populer sejak awal abad-19 tepatnya pada masa kekuasaan Belanda di Tanah Air. Dulunya, limun hanya dikonsumsi orang Belanda sampai dijuluki Banyu Londho, yang berarti "minuman orang Belanda" pada masanya.

Minuman itu terbuat dari air lemon dan gula, sehingga rasanya perpaduan manis dan segar. Sampai saat ini, minuman limun dibuat tanpa memakai bahan pengawet.

 

4 dari 4 halaman

6. Batik Pekalongan

Sejak lama, batik lekat sebagai identitas Pekalongan. Maka, tak salah bila menjadikan batik khas daerah ini sebagai buah tangan untuk kerabat usai pulang mudik Lebaran.

Dikutip dari kanal Regional Liputan6.com, batik diperkirakan sudah ada di Pekalongan sekitar 1800an. Menurut informasi yang tercatat di Disperindag, pola batik itu ada yang dibuat 1802, seperti pola pohon kecil berupa bahan baju. Perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di Kerajaan Mataram, yang sering disebut dengan Perang Diponegoro atau Perang Jawa.

Akibat peperangan itu, keluarga keraton dan para pengikutnya terpaksa mengungsi dan menyebar ke arah timur serta barat. Di daerah-daerah baru tersebut para keluarga serta pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo serta Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya, serta Madura. Sedangkan ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon serta Pekalongan. 

Seiring waktu, batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota serta daerah Buaran, Pekajangan, serta Wonopringgo (Kabupaten Pekalongan). Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa, seperti Tiongkok, Belanda, Arab, Asia, Melayu serta Jepang pada zaman lampau mampu mewarnai dinamika pada desain dan pola serta tata warna seni batik di Pekalongan.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan serta Kabupaten Pekalongan. Salah satu yang sering dikunjungi wisatawan untuk membeli batik adalah Pasar Setono. (Natalia Adinda)