Sukses

Potensi Larva Lalat Prajurit Hitam Bantu Uraikan Masalah Sampah Popok Sekali Pakai

Liputan6.com, Jakarta - Dari beragam jenis sampah, popok sekali pakai terbilang salah satu yang sulit diurai. Hal ini lantaran komponennya beragam, yakni pulp, plastik, dan polimer. Belum lagi ada unsur organik dari kotoran manusia.

Sebagai salah satu produsen popok sekali pakai terbesar, Unicharm merasa bertanggung jawab untuk mengurai masalah tersebut. Salah satu yang terbaru adalah mensponsori riset yang dilakukan Profesor Ishibashi dari Universitas Prefektur Kumamoto. Riset itu meneliti potensi larva Black Soldier Fly (BSF) alias lalat prajurit hitam untuk mengurai sampah popok.

"Saat ini, pembakaran dan penimbunan jadi cara utama untuk membuang popok sekali pakai di Indonesia. Kami menjalankan kegiatan penelitian untuk menambah opsi pemecahan masalah. Ini salah satu opsi pemecahan masalah sampah yang meluas di Indonesia," kata General Manager PT Uni-Charm Indonesia Tbk, Yashushi Yoshioka, dalam Virtual Conference Ethical Living for SDGs PT. Uni-Charm Indonesia Tbk, Kamis, 28 Juli 2021.

Larva lalat atau juga disebut magot yang digunakan spesiesnya seperti lebah. Menurut Yoshioka, siklus hidup lalat ini hanya 45 hari. Saat masih menjadi larva, panjang tubuhnya hanya 15--25 mm. Dalam 18 hari, larva tersebut berubah menjadi larva dewasa dengan panjang tubuh 20--28 mm.

Ia menerangkan, maggot tersebut memiliki dua keunggulan, yang pertama adalah kemampuan mengurai sampah organik sangat tinggi. Berikutnya, larva lalat yang tumbuh bisa dimanfaatkan sebagai pakan yang baik karena mengandung protein tinggi. Maka, ia beranggapan cara itu dapat menjadi solusi yang efisien, murah, dan ramah lingkungan.

"Ini eksperimen pertama dilakukan perusahaan FMCG. Ini cara mengurai popok sekali pakai tanpa membuangnya untuk mewujudkan daur ulang," klaim Yoshioka.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

3 Juta Sampah Popok

Magot yang digunakan spesifik bertugas mengurai komponen pulp di sampah popok sekali pakai. Itu pun dibantu dulu dengan proses sakarifikasi menggunakan enzim selulase.

Setelah pulp melewati proses itu, larva lalat baru dimasukkan. Menurut Yoshioka, hasilnya maggot yang dimasukkan ke dalamnya bisa bertumbuh lebih baik.

"Pertumbuhannya tersebut dipercepat dengan mencampurkan sampah organik," kata dia.

Hasil riset Ishibashi juga menyatakan maggot bisa memilah bagian plastik, seperti non-woven, polimer, dan lain-lain. Kotoran maggot pun dapat didaur ulang. 

Masalah sampah popok di Indonesia terbilang serius. Denti Nila Purwanti, Corporate Plan Representative PT UniCharm Indonesia, Tbk, menyebut sekitar tiga juta popok bekas dibuang setiap harinya di Indonesia.

Kebanyakan sampah popok tidak dipilah dan menyulitkan proses daur ulang. Selain itu mencemari lingkungan. "Di Jatim, selain sampah plastik, ada juga popok bekas yang ditemukan di sungai," kata dia.

3 dari 5 halaman

Butuh Bantuan

Solusi yang disiapkan dengan maggot bukan tanpa kelemahan. Merujuk temuan riset, Yoshioka menyatakan bahwa proses daur ulang sampah popok tidak bisa dilakukan tanpa pemilahan di rumah. Untuk itu, pihaknya akan lebih intens mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah.

"Kami akan beri pendidikan di sekolah, bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mempenetrasi kebiasaan ini. Dengan memulai ini, kami mencoba menyelesaikan masalah sampah," ujarnya.

Yoshioka menerangkan usulan penuntasan masalah sampah popok sekali pakai merupakan upaya fase kedua dalam Ethical Living for SDGs yang digagas UniCharm Group. Pada fase pertama, Charm meluncurkan masker edisi terbatas yang menggunakan kemasan dari kertas daur ulang.

"Semoga semakin banyak yang sadar tentang lingkungan. Yang paling penting bagaimana ambil langkah konkrit tersebut," imbuh Denti.

4 dari 5 halaman

Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: