Sukses

Trik Anak Belajar Bersosialisasi dengan Sebayanya di Masa Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana mengungkapkan kekhawatiran terbesar orangtua terkait kondisi anak-anak mereka di masa pandemi Covid-19. Hal yang tercetus adalah gangguan bersosialisasi lantaran mobilitas dibatasi demi menekan infeksi di masyarakat.

"Banyak curhatan orangtua yang datang ke saya. Kekhawatiran yang banyak dicurhatin adalah bagaimana anak sosialisasinya. Mereka di rumah terus, enggak ketemu teman," kata Vera dalam peringatan Hari Bermain Sedunia 2021 yang digelar Paddle Pop secara virtual, Jumat, 28 Mei 2021.

Menghadapi situasi ini, orangtua dituntut lebih kreatif dan bersikap tenang. Menurut Vera, keterampilan bersosialisasi masih bisa dikembangkan meski anak menghabiskan waktu sebagian besar di rumah saja. Salah satunya dengan memanfaatkan keberadaan orang-orang di rumah untuk belajar sopan santun.

"Di rumah kan ada ayah, ibu, kakak, dan orang lain yang tinggal di situ, misal embak, kakek dan neneknya. Kemampuan sosialnya bisa dilatih, seperti gantian kalau mau pakai remote TV, tetap jaga sopan santun satu sama lain," ujar dia.

Tentu, anak juga perlu bersosialisasi dengan sebayanya. Vera menyarankan agar orangtua membuat virtual playdate. Cara itu bisa memfasilitasi anak bermain dengan teman-temannya secara online. Mereka bisa mengembangkan kemampuan komunikasi lewat permainan yang ditentukan bersama. "Bisa ngobrol, bikin challenge bareng," imbuhnya.

Alternatif lain untuk bersosialisasi dengan teman sebaya di masa pandemi adalah dengan bermain dengan anak-anak tetangga. Tapi, pastikan lingkungan sekitar Anda aman dan terus memperhatikan protokol kesehatan.

"Beberapa orangtua klien saya, karena mereka yakin aman karena tinggal di klaster yang sama dan tidak ke mana-mana, anak boleh main keluar bareng. Tetap pakai masker," ia menjelaskan.

2 dari 4 halaman

Rilis Stres Bersama

Di luar itu, orangtua sebenarnya bisa memanfaatkan momen lebih banyak di rumah untuk bermain bersama anak-anak. Bermain di sini, kata Vera, tidak terbatas pada bermain dengan mainan, tetapi segala aktivitas sehari-hari di rumah. Asal dilakukan bersama dengan menyenangkan, hal itu bisa dikategorikan bermain.

"Bermain itu apa sih? Aktivitas yang menyenangkan, momen yang menyenangkan, didominasi oleh emosi positif, ada unsur bebas, sesuai aturan dia atau aturan yang disepakati bersama. Misalnya, yuk bikin es krim bareng-bareng. Saat mengolah makanan, dilakukan sambil nyanyi-nyanyi, bermain warna, itu sudah bisa dikatakan bermain," Vera menjelaskan.

Maka, ia mengaku sulit menentukan batasan waktu bermain. Yang terpenting, aktivitas permainannya harus variatif, yakni kombinasi main tenang, aktif di luar rumah, hingga playdate. Orangtua pun bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melegakan stres bersama anak.

"Aktivitas bermain itu bukan untuk anak semata. Ini bisa buat orangtua stress release, kalau ikut terlibat," ucapnya.

Tapi, tidak semua orangtua punya kreativitas mengembangkan permainan anak yang seru. Untuk itu, PaddlePop meluncurkan misi #MainYuk dengan meluncurkan laman paddlepopmainyuk.com. Tema permainan beragam dan berbeda-beda untuk setiap periode.

Di bulan Juni ini, PaddlePop mengangkat tema Seaventure untuk mengajak anak mengenal lebih banyak tentang dunia bawah laut. Jenis permainannya beragam, mulai dari kuis hingga membuat DIY. Sedangkan, bulan berikutnya akan mengangkat tema berpetualang ke Planet Mochi yang mempelajari tentang ruang angkasa.

"Berangkat dari kepercayaan bahwa banyak hal baik dimulai dari bermain, maka kita luncurkan brand purpose baru Main Yuk! itu yang mengajak para orangtua untuk menghadirkan pilihan aktivitas bermain di rumah aja yang tidak hanya menyenangkan, tapi juga bermanfaat untuk tumbuh kembang anak," kata Memoria Dwi Prasita, Head of Marketing Ice Cream Unilever Indonesia.

3 dari 4 halaman

Cara Sehat Main Video Game

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: