Sukses

Singapura dan Malaysia Lockdown Lagi, Bagaimana Kelanjutan Rencana Travel Corridor Arrangement Juli 2021?

Liputan6.com, Jakarta - Singapura menghadapi peningkatan kasus Covid-19 yang signifikan dan memaksa otoritas memberlakukan kembali lockdown. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia. Situasi tersebut membuat rencana pemberlakuan travel corridor arrangement (TCA) dengan beberapa negara, terutama Singapura, pada Juli 2021, terancam mundur lagi. 

Meski begitu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan pihaknya terus mendorong pembahasan terkait TCA. Tetapi, keputusan pembukaan TCA tetap mengacu pada situasi terkini agar tidak memicu penambahan kasus baru.

"Singapura dan Malaysia lockdown. India juga mengalami peningkatan kasus luar biasa. Kita harus pastikan dan pertimbangkan matang-matang pembukaan TCA agar tidak akan memicu kasus baru. Apalagi, Pak Menkes Budi Gunawan sudah menyampaikan ada varian-varian baru," kata dia dalam Press Weekly Briefing di Jakarta, Selasa, 18 Mei 2021.

Sandi menyatakan jika situasi Covid-19 kondusif, baik di dalam maupun di luar negeri, pihaknya akan membahas persiapan TCA ke tahap akhir. Sebaliknya, jika angka naik, ia akan meninjau ulang semua kebijakan. Semua kebijakan yang akan diambil berbasis pada data yang akurat dan riil. 

"Kami berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk finalisasi," ujar dia.

Selama menunggu keputusan, Sandi menyatakan akan terus memonitor dan mengevaluasi kesiapan para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menerapkan protokol kesehatan sesuai standar WTTC's Global Safe Travels Protocols. Protokol kesehatan berbasis CHSE itu akan diterapkan secara end to end, mulai dari kedatangan tamu hingga tamu kembali ke negerinya.

Di sisi lain, pihaknya juga menyadari bahwa para pelaku sektor parekraf, khususnya yang berada di Batam, Bintan, dan Bali, memiliki ketahanan yang semakin minim dengan kemungkinan mundurnya rencana pembukaan TCA. Untuk itu, Kemenparekraf akan mengirimkan tim khusus ketiga lokasi itu yang akan dipimpin oleh Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf R Kurleni Ukar untuk memperkuat persiapan para pelaku sektor parekraf di tiga kandidat lokasi TCA tersebut.

"TCA bisa dilaksanakan bila situasi prakondisi bisa dilaksanakan dengan baik. Pelaku parekraf di beberapa destinasi, terutama Bali, diharapkan ikut berpartisipasi," ujarnya.

 

2 dari 4 halaman

Dana Hibah Pariwisata

Sandiaga menyebut masa sekarang merupakan situasi genting bagi pelaku sektor parekraf. Ia berharap dana hibah pariwisata yang diusulkan sebesar Rp3,7 triliun untuk tahun ini bisa segera cair dan didistribusikan kepada mereka yang memerlukan. Pada tahun ini, mereka yang berhak mendapatkan bantuan dana hibah diperluas dari hanya hotel dan restoran, juga penyelenggara perjalanan wisata dan operator destinasi wisata.

"Semoga bisa disetujui dan dieksekusi tidak terlalu jauh dari sekarang karena situasinya genting. Mereka melihat ada peluang tapi tantangannya bertahan, khususnya keuangan dan ketangguhan, dalam 2--3 bulan ke depan," ujar dia.

Kemenparekraf juga berjanji untuk memastikan agar dana hibah tersebut bisa sampai tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu. Selain itu, Sandi mengungkapkan akan memobilisasi sebagian besar pelaksanaan MICE skala besar ke Bali untuk membangkitkan kembali ekonomi warga yang terpuruk akibat pandemi.

Salah satunya dengan menggelar Munas Kadin di Nusa Dua Bali sebagai langkah uji coba kesiapan pelaku pariwisata dalam penerapan CHSE sekaligus pembukaan TCA. Ia menyebut 2.000 kamar sudah dipesan.

"Ini latihan kita untuk menangani event hybrid skala besar dalam satu bubble area, yaitu Nusa Dua," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Kondisi Pariwisata Usai Setahun Pandemi Covid-19

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: