Sukses

Cara Melindungi Privasi di Media Sosial Agar Terhindar dari Kekerasan Berbasis Gender Online

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pandemi COVID-19, di saat banyak kegiatan dilakukan secara daring, tapi ternyata risiko kekerasan berbasis gender di dunia maya meningkat. Salah satunya adalah kasus-kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO).

Semakin luasnya jangkauan internet, canggihnya perkembangan dan penyebaran teknologi informasi, serta populernya penggunaan media sosial, menghadirkan bentuk-bentuk baru kejahatan, termasuk kekerasan berbasis gender, yang kian meluas.  Menurut Nenden Sekar Arum dari organisasi SAFEnet, KBGO merupakan bentuk kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi, dengan muatan atau maksud melecehkan korban berdasarkan gender atau seksualitas.

"Yang perlu diingat adalah, dalam kasus KBGO, korban diserang karena gender dan identitas seksualnya. Kalau unsur tersebut tidak ada, kasusnya hanya masuk ke ranah kekerasan online," terang Nenden dalam webinar Campus Online Talkshow terakhir dengan tema 'Cybersafety: Online Tanpa Kekerasan', Jumat, 5 Maret 2021.

Webinar yang dipersembahkan oleh Magdalene, bermitra dengan The Body Shop dan Yayasan Pulih ini mengajak komunitas kampus turut serta menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan seksual, dan mendorong advokasi pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) di Indonesia.

Nenden menambahkan, di dunia maya, data pribadi sangat dianjurkan untuk tidak diumbar, terutama oleh diri sendiri saat menggunakan menggunakan media sosial. Lalu, bagaimana cara kita melindungi privasi di media soisal maupun di aplikasi percakapan? Setidaknya ada delapant langkah yang bisa dilakukan yang panduannya dibuat oleh SAFEnet.

1. Pisahkan akun pribadi dengan akun publik. Menggunakan beberapa akun untuk memisahkan hal-hal bersifat pribadi dan hal-hal yang bisa dibagi ke publik bisa jadi alternatif untuk melindungi diri di dunia maya.

2. Cek dan atur ulang pengaturan privasi. Sesuaikan pengaturan privasi dengan level kenyamanan diri dalam berbagi data pribadi, seperti nama, foto, nomor ponsel, lokasi (geo-tag atau location sharing), aplikasi yang kamu berikan akses atas akun media sosial atau aplikasi percakapan yang kamu miliki. Kendalikan sendiri siapa atau apa saja yang bisa mengakses data pribadimu.

3. Ciptakan password yang kuat dan nyalakan verifikasi login. Hindari peretasan akun media sosial kamu dengan menciptakan password login yang kuat (panjang dan mengandung unsur huruf, angka, dan simbol) dan aktifkan verifikasi login.

Dalam beberapa platform media sosial atau aplikasi percakapan verifikasi login disebut dengan istilah 2-Step Verification atau 2-Factor Authentication. Hal ini juga bisa dipakai untuk e-mail pribadi. 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Jangan Sembarang Percaya

4. Jangan sembarang percaya aplikasi pihak ketiga. Aplikasi pihak ketiga, misalnya yang mengadakan kuis di Facebook, biasanya meminta akses akun media sosialmu.

Aplikasi pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab bisa saja menggunakan informasi atau data pribadi yang mereka dapat dari akses tersebut secara tidak bertanggung jawab dan bisa jadi berdampak pada kehidupanmu, baik online maupun offline.

5. Hindari berbagi lokasi pada waktu nyata (real time location sharing). Lokasi pada waktu nyata atau lokasi tempat seseorang sering kali lewati atau kunjungi dapat menjadi informasi yang berharga bagi orang-orang yang ingin berniat jahat, misalnya penguntit.

6. Berhati-hati dengan URL yang dipendekkan. Ada potensi bahaya ketika mengklik URL yang dipendekkan. Kalau berasal dari akun yang mencurigakan, bisa saja URL tersebut mengarahkan kita ke situs-situs berbahaya atau jahat yang dapat mencuri data pribadi kita.

7. Lakukan data detox Tactical Tech dan Mozilla telah menyusun data detoks untuk mengecek keberadaan data diri pribadi di internet. Silakan coba data detox agar dapat menjadi pribadi yang lebih mempunyai kendali atas data diri di ranah online dengan mengakses https://datadetox.myshadow.org.

8. Jaga kerahasiaan PIN atau password pada ponsel atau laptop pribadi. Seringkali, pelaku kekerasan berbasis gender online dan offline adalah orang-orang terdekat. Untuk itu, perlu untuk memasang dan menjaga kerahasiaan PIN atau password pada gawai /perangkat elektronik pribadi lainnya, terutama yang menyimpan data-data pribadi.

3 dari 4 halaman

Tarik Ulur RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: