Sukses

Ledok Sambi, Tempat Wisata Tersembunyi di Yogyakarta

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah tempat wisata di lembah Desa Wisata Sambi, Yogyakarta, baru-baru ini digadang-gadang sebagai salah satu hidden gem. Terletak di aliran sungai, tempat ini sangat alami dan tenang serta menawarkan pemandangan sekitar yang ciamik.

Ledok Sambi namanya. Ledok yang berarti lembah itu memungkinkan wisatawan untuk piknik di pinggir sungai.

Tak disangka, tempat wisata yang bermula dari sebuah warung kecil yang dikelola penyedia jasa outbond itu sudah ada sejak 2004. Namun, Ledok Sambi baru diresmikan sebagai desa wisata pada 1 Juli 2020 lalu.

Desa ini berada di Jalan Kaliurang Km 19,2 Padukuhan Sambi, Desa Pakembinangun, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Destinasi ini buka setiap hari dengan jam operasional mulai pukul 09.00--16.00 WIB, selama PPKM wilayah Yogyakarta berlaku.

"Sebelum pandemi, kami selenggarakan outbound melalui pemesanan. Masuk pandemi jadi kosong, tutup sekitar empat bulan. Inisiatif untuk jalan kembali, kami putuskan untuk buka warung kecil, di tepi sungai," kata Yetti Lutiyan, pengelola Ledok Sambi, kepada Liputan6.com, Selasa, 12 Januari 2021.

Adapun warung kecil tersebut awalnya berada di atas lembah sebelum dipindahkan ke tepi lembah bersungai. Pemindahan lokasi itu dinilai tepat karena wisatawan bisa menikmati paket lengkap pemandangan, mulai dari megahnya Gunung Merapi, persawahan setempat, hingga rumah joglo.

Tak hanya itu, Yetti menerangkan wisatawan dapat menikmati sejumlah atraksi seru di sana. Ada flying fox dan arena paint ball yang bisa dijajal. Tiket flying fox hanya Rp25 ribu per orang, sedangkan paint ball adalah Rp50 ribu per orang dengan jumlah pemain minimal dua orang.

"Paint ball per orang 50 peluru. Dulu paint ball kami bisa terima minimal 20-25 orang, sekarang bisa dua orang saja," tuturnya.

 

2 dari 5 halaman

Piknik di Sungai

Malas mengasah adrenalin, piknik di pinggir sungai saja sambil makan-makan. Tak perlu repot membawa tikar sendiri karena terdapat penyewaannya di sana. Bagi anak-anak yang ingin bermain di sungai, pihak Ledok Sambi meminjamkan ban pelampung seharga Rp10.000 agar mereka bisa main air dengan aman.

Manajemen tempat wisata tersebut juga mengatakan bahwa pengunjung bisa duduk-duduk di meja dan kursi seberang area tenda gazebo. Sementara bagi yang memilih untuk lesehan, pihaknya juga menyediakan meja yang dapat digunakan untuk tatakan makanan.

"Sebelum pandemi kami punya paket berkemah yang banyak peminatnya. Selama pandemi kosong banget, jadi kami manfaatkan (tenda) sebagai tempat duduk," tutur Yetti.

Jika ingin piknik di pinggir sungai, pengunjung bisa membeli beberapa makanan seperti nasi ayam goreng, kentang goreng, tempe mendoan, pisang goreng, nasi sayur, dan mi goreng/rebus dengan kisaran harga antara Rp4 ribu--Rp18 ribu. Sementara, menu minuman yang tersedia di antaranya kopi ledok, kopi merapi, kopi vietnam drip, robusta kopi susu ledok, teh sereh, dan cokelat ledok, dengan harga mulai Rp5 ribu.

Menariknya, pengelolaan tempat wisata ini melibatkan warga sekitar. Ibu-ibu PKK desa tersebut lah yang menyiapkan makanan yang dijual dalam paket outbound. Lalu, bapak-bapak desa tersebut bertugas untuk perawatan, bekerja sebagai operator games seperti flying fox, hingga pengaturan parkir.

"Banyak warga yang kerja di tempat kami. Operator beberapa permainan kayak flying fox juga warga yang sudah kami latih. Kursi banyak yang kami sewa dari warga, selain itu memang lahan parkir kami sebagian disediakan dari warga sekitar," terang Yetti.

 

3 dari 5 halaman

Kesempatan Berkemah

Meski masih sepi peminat, pengelola juga membuka kesempatan wisatawan untuk berkemah di lembah bersungai dengan membayar Rp 35.000 per orang. Jika ingin sewa tenda dengan kapasitas maksimal empat orang, harganya adalah Rp 120.000 per malam.

Untuk keperluan masak dan makanan, wisatatan bisa membawanya sendiri. Namun jika ingin kemah santai, mereka bisa memesan makanan kepada warga Desa Wisata Sambi melalui kontak yang akan diberikan oleh pihak tempat wisata.

"Misal mau nasi goreng atau mi goreng, nanti dimasakin lalu diantar. Lokasi tempat wisata cukup dekat sama rumah warga," ungkapnya.

Apabila ingin menikmati api unggun, peserta kemah dapat membayar Rp100.000. Harga itu sudah termasuk dan terima jadi karena peralatan dan barang-barang yang diperlukan akan ditata oleh pihak tempat wisata.

Sedangkan, kegiatan outbound bisa dinikmati dengan harga Rp160ribu per orang dengan minimal 20 peserta dan maksimal 50 peserta selama pandemi Covid-19. Dengan nominal tersebut, peserta akan mendapatkan makanan berat dan makanan ringan.

"Kami berharap untuk kedepannya akan ada penambahan fasilitas, kemudian pengaturan lahan yang lebih baik lagi," ujar Yetti.

Tetapi, bila hanya untuk menikmati pemandangan segar di Desa Ledok Sambi, pengunjung tak dipatok harga khusus. Pengunjung dapat membayar dengan biaya sukarela dengan mengisi kotak uang di pintu masuk.

"Kami tidak tahu ke depannya bagaimana. Cuma selama pandemi ini, kami maunya sediakan tempat wisata murah tapi enak dan bersih, karena di masa pandemi ini pasti banyak orang-orang yang sedang membutuhkan liburan tapi tidak mahal," sambung dia. 

Pada masa pandemi seperti saat ini, pastikan saat berkunjung tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yaitu dengan mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, serta tidak bepergian jika demam atau suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celsius. Pengelola juga membatasi kapasitas maksimal hanya 25 persen saja karena aturan pembatasan yang berlaku. (Melia Setiawati)

4 dari 5 halaman

Mending Liburan di Rumah Aja

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: