Sukses

Wacana Travel Bubble Penerbangan Singapura dan Hong Kong

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Transportasi Singapura, Ong Ye Kung, telah mengisyaratkan para pelancong dari Hong Kong mungkin segera dapat berkunjung tanpa harus mengikuti rencana perjalanan terkontrol. Juga, tak perlu menghabiskan masa karantina 14 hari.

Melansir laman AsiaOne, Rabu (7/10/2020), selama pidato 30 menit di parlemen, Ong mengatakan, Singapura menanggapi secara positif niat Hong Kong untuk membentuk travel bubble penerbangan.

"Kami berharap dapat memulai diskusi dengan Hong Kong dan mitra lainnya," kata Ong dalam pernyataan tentang rencana pemulihan sektor penerbangan yang babak belur, termasuk dirasakan maskapai nasional, Singapore Airlines.

Hampir 400 ribu pelancong dari Hong Kong memasuki Singapura pada 2018. Negara-negara di seluruh dunia telah bergegas membuat bubble untuk membantu maskapai penerbangan dan sektor pariwisata pulih dari efek pandemi COVID-19. Ong menjelaskan, Singapura akan terus mempertimbangkan pengaturan serupa dengan negara dan kawasan yang dianggap aman.

Risiko dapat dikelola, katanya, dengan menetapkan kuota pelancong dan memastikan praktik protokol untuk pengujian COVID-19. Meski sempat menyebut Hong Kong dua kali, ia tak mengatakan apakah Singapura sedang berdiskusi dengan calon mitra lain.

Terlepas dari rencana travel bubble penerbangan, Bandara Changi Singapura adalah pusat pariwisata regional dan titik transit penerbangan jarak jauh antara Eropa dan Asia. Namun, berkaca pada efek pandemi, rencana mega terminal kelima akan ditunda selama dua tahun.

Terminal kelima akan meningkatkan kapasitas penumpang dari 85 juta jadi 140 juta per tahun. Tapi, bandara saat ini hanya melayani 1,5 persen dari volume penumpang biasa dan enam persen dari jumlah penerbangan biasanya setiap bulan.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Buka Perbatasan Secara Sepihak

Mengenai wacana perbatasan Singapura harus dibuka kembali, Ong mengatakan, status negara sebagai pusat penerbangan adalah penting, bahkan eksistensial, untuk kesehatan ekonomi Negeri Singa. Pengaturan jalur hijau timbal balik Singapura dengan negara-negara, seperti Brunei Darussalam, Cina, Malaysia, dan Korea Selatan, mengharuskan pelancong bisnis dan resmi mematuhi rencana perjalanan yang ketat.

Namun, Ong mengatakan, Singapura dapat membuka kembali perbatasannya secara sepihak tanpa mengharuskan negara lain membalas. Hal ini telah dilakukan pada Selandia Baru, Brunei, Australia, tidak termasuk negara bagian Victoria, dan Vietnam, meski negara-negara tersebut melarang atau membatasi perjalanan untuk warganya.

Membuka kembali perbatasan secara sepihak, sambungnya, berfungsi sebagai undangan tetap bagi negara-negara ekonomi tersebut untuk menerima pelancong dari Singapura begitu mereka siap. Ia mencontohkan Inggris yang mengizinkan warga Singapura bepergian ke sana tanpa menjalani karantina selama 14 hari.

Walau demikian, warga setempat tak disarankan untuk bepergian ke Inggris karena kasus Covid-19 yang terparah di Eropa dengan lebih dari 500 ribu infeksi. Sementara itu, pelancong dari Inggris ke Singapura harus menjalani karantina selama 14 hari di hotel yang ditunjuk.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: