Sukses

Kontroversi Motif Batik di Koleksi Tas Louis Vuitton dan Busana Dior

Liputan6.com, Jakarta - Batik dengan segala filosofi, nilai, dan pesan di baliknya merupakan warisan kekayaan budaya yang sudah seharusnya dilanggengkan. Rasa memiliki ini tak jarang berujung argumen bila mendapati visual dinilai mirip motif batik dimanfaatkan pihak lain.

Ya, beberapa waktu lalu, publik mendapati desain dari rumah mode dunia, Louis Vuitton dan Christian Dior, dinilai mirip motif batik. Menanggapi ini, desainer Musa Widyatmodjo menjelaskan, perancang di balik busana Dior, Maria Grazia Chiuri, memang ditunjuk untuk menghadirkan kreasi baru di koleksi label asal Prancis tersebut.

"Ia membawa aura etnis. Kita bisa lihat di koleksinya ada yang punya sentuhan meksiko, ada Spanyol juga," katanya dalam Fashion Talk yang dipandu Amy Wirabudi lewat Instagram Live, Sabtu (1/8/2020).

Yang harus digarisbawahi, sambung Musa, pihak Dior untuk koleksi yang dirilis pada Mei 2019 itu tak pernah menyebut batik, melainkan wax print Afrika.

"Harus dipahami bahwa istilah batik memang dari Indonesia, namun proses menggambar motif di atas kain putih pakai malam itu ada di mana-mana. China, Mesir, India, Jepang, banyak yang pakai teknik ini," Musa menjelaskan.

Kendati, antropologi yang bekerja sama denga Dior menjelaskan, wax print Afrika memang dibawa industriawan Belanda di masa kolonial berkuasa di Indonesia. Pihaknya disebut menciptakan motif yang menurut orang Indonesia aneh, lalu dibawa ke Afrika.

"Itu (motif di koleksi Dior) bukan batik. Kita harus memisahkan antara motif dan teknik batik, itu berbeda. Sekali lagi, teknik menggambar dengan lilin di atas kain putih tak hanya dipraktikkan di Indonesia," ucapnya.

 

2 dari 3 halaman

Jadikan Kesempatan

Hingga yang terbaru, Louis Vuitton mengeluarkan crafty collection dengan desain tas juga dinilai mirip motif batik. "Pihak Louis Vuitton sendiri tak memberi penyaatan bahwa itu batik atau terinsprasi dari batik," kata Musa.

Bila dilihat secara teliti, imbuh Musa, itu bukanlah batik. "Mirip, betul. Tapi, itu bukan batik," tegasnya. Musa mengatakan, masyarakat Indonesia harusnya bangga bila ada pihak yang membuat produk menyerupai batik.

"Harus lihat positifnya. Siapa lagi mampu menginternasionalkan motif batik ke dunia? Izin atau tanpa izin, harusnya bangga. Jadikan kesempatan ini untuk membuat branding di mata dunia," tuturnya.

Setelah berhasil menarik perhatian, kata Musa, orang biasanya akan mencari akar desain tersebut, dan dalam kasus ini, jadi mengarah ke Indonesia. "Karena dalam perjuangannya, kita tak boleh cuma bisa baper, mau nangis, dan complain," ucapnya.

Musa beranggapan, dengan begini, berbagai pihak harusnya memanfaatkan momen lewat kreasi motif batik baru yang bisa diterima masyarakat dunia. "Makanya saya bilang setop pengulangan motif masa lalu. Pasar jadi lesu. Para pembatik harus fokus melakukan dobrakan," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: