Sukses

Cerita Akhir Pekan: Masker-Masker Mahal yang Hadir Saat Pandemi, Bertabur Berlian dan Mutiara

Liputan6.com, Jakarta - Masker adalah satu dari sekian banyak barang familiar bagi lebih banyak orang di masa pandemi. Bagaimana tidak, pemakaiannya dinilai mampu meminimalisir transmisi COVID-19.

Seiring nyaring gaung pemakaian masker, terutama saat harus keluar rumah, inovasi pun tak luput menghampiri. Sekarang, ragam produk masker bisa dijumpai di pasaran, mulai dari masker kain ragam motif, hingga yang masuk dalam kategori high-end.

Ya, beberapa waktu belakangan, publik dibuat heboh dengan munculnya sejumlah masker dari material-material mewah. Karya desainer asal Jepang, Rieko Kawanishi, misalnya. Melansir laman South China Morning Post, Jumat, 24 Juli 2020, Kawanishi menciptakan masker dari mutiara.

"Saya mau buat produk yang fokus pada pemanfaatan material unggulan Jepang. Karenanya, saya sudah membuat ragam aksesori menggunakan mutiara sebagai material," tuturnya.

Butuh tiga hari bagi sang desainer untuk membuat masker mutiara tersebut. Pasal, ia harus menjahit 310 mutiara dalam empat ukuran berbeda secara manual untuk jadi sebuah masker.

"Material ini biasanya digunakan untuk kalung. Tapi, saat dipakai sebagai masker, kulit terlihat bagus dan halus," imbuhnya. Satu buah masker buatannya dibanderol satu juta yen (Rp137 juta).

2 dari 5 halaman

Masker Berlapis Emas

Sementara, pria asal India bernama Shankar Kurhade rela membayar sekitar empat ribu dolar Amerika (sekitar Rp58 juta) untuk sebuah masker emas. Masker ini ia pesan secara khusus terlebih dulu.

Berlapis logam mulia seberat 60 gram, perajin membutuhkan delapan hari untuk membuat masker tersebut, demikian kata sang pengusaha dari Pune barat, India itu. "Ini adalah masker tipis dan memiliki pori-pori kecil yang membantu saya bernapas," katanya pada AFP.

"Saya tidak yakin apakah itu (masker) akan efektif melindungi saya dari infeksi virus corona. Tapi, saya mengambil tindakan pencegahan lain," tambahnya.

Masih memanfaatkan emas sebagai material, berdasarkan laporan India Times, dengan tambahan perak sebagai benang, pembuat perhiasan juga berasal dari India, Radhakrishnan Sundaram Acharya, menciptakan masker tak biasa.

Masker berbenang emas 18 karat tersebut dihargai sekitar 2,75 lakh atau hampir Rp54 juta per buah, sedangkan harga masker perak tak disebutkan.

Radhakrishnan menggunakan benang emas dengan ketebalan 0,06 milimeter. Benang emas ini harus lebih dulu dibuat jadi halus dan fleksibel menggunakan mesin yang dimilikinya. Setelahnya, baru bisa dirajut dan ditenun jadi masker.

Ia mengklaim masker wajahnya bisa digunakan ulang dan memiliki lapisan kain yang dijahit di bagian dalam. Hal tersebut berbeda dengan masker emas milik Kurhade yang berlubang.

3 dari 5 halaman

Bertabur Berlian

Berdasarkan laporan Vice, sebuah toko perhiasan di Surat, Gujarat, India memperkenalkan masker bertabur berlian. Pemilik toko tersebut, Dipak Choksi, mengaku mendapat ide pembuatan masker ini usai seorang pelanggan yang akan melangsungkan pernikahan meminta dibuatkan masker unik dan mewah. 

Modelnya ada yang tersemat emas kuning bersama berlian Amerika seharga 150 ribu rupee (Rp 28,6 juta). Ada pula masker yang dibuat dengan emas putih dan berlian yang dihargai 400 ribu rupee (Rp 76,4 juta).

Pemilik toko menjelaskan bahwa kain yang digunakan untuk membuat masker dipilih sesuai pedoman perlindungan terhadap virus corona baru yang dikeluarkan pemerintah India.

Choksi mengatakan, berlian dan emas di masker ini dapat disusun sesuai keinginan pelanggan dan boleh digunakan kembali untuk membuat perhiasan lain.

4 dari 5 halaman

Bagaimana dengan di Indonesia?

Menurut desainer, Eggie Jasmine, bagi pelaku industri fesyen, situasi pandemi jadi potensi untuk berkreasi. Para desainer dengan kreatifnya menciptakan gaya berbusana bagi publik yang rindu tampil stylish di era transisi kenormalan baru.

"Tentunya, selain tetap ingin tampil stylish, keamanan dan kesehatan juga jadi pertimbangan utama setiap individu. Pun tak terkecuali dari seorang designer sebagai pecipta karya," tuturnya lewat pesan pada Liputan6.com, Kamis, 23 Juli 2020.

Melihat geliat karya yang dilahirkan para desainer, visualisasi masker dibuat tak hanya polos. Tapi juga memanfaatkan berbagai material, mulai dari katun, leather synthetic, sampai denim. Aksennya pun kian beragam, seperti beads payet, kristal, mutiara, hingga hardware logam,

Masker bermaterial mahal, kata Eggie, sangat mungkin bisa muncul di dalam negeri. "Banyak sekali desainer papan atas yang menggunakan aplikasi tersebut sesuai permintaan. Kembali lagi, penggunaan material mahal itu biasanya tercipta karena ada demand," ungkapnya.

Di sisi lain, mengingat kondisi ekonomi setiap orang tak sama di masa pandemi, masker jenis ini bisa dipasarkan di kalangan tertentu. Dalam mendesain masker, Eggie mengaku kembali ke brand DNA-nya, Eggie Jasmin Artisan.

"Couture dan artistik tetap jadi nilai utama yang saya ke depankan. Dengan desain yang sangat unik dan cita rasa seni berbeda dari desain masker pada umumnya," ungkapnya.

Pertimbangan lain, sambung Eggie, penambahan rasa bangga ketika mengenakan masker yang didesain olehnya.

"Bahan yang saya gunakan sangat bervariasi mulai dari kristal, mutiara, beads, lace, sampai logam. Semuanya private custom by order, pesanan pribadi para klien saya pecinta seni," tandasnya.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: