Sukses

Afrika Selatan Tidak Menerima Wisatawan Asing sampai 2021

Liputan6.com, Jakarta - Kalau banyak negara berharap bisa segera membuka kembali wisatanya jelang liburan musim panas, berbeda dengan Afrika Selatan. Negarai ini dikabarkan akan menutup diri dari turis asing sampai 2021.

Hal tersebut dikarenakan mereka masih fokus mengatasi pandemi corona Covid-19 di negaranya. Memasuki Juni 2020, Afrika Selatan mulai menurunkan level lockdown mereka menjadi level tiga.

Saat ini negara tersebut sudah memperbolehkan kegiatan bisnis yang terkait dengan pariwisata untuk buka kembali. Meski begitu, Afrika Selatan belum ingin menggerakkan pariwisata domestik dan internasional secara masif dalam waktu dekat.

Dilansir dari laman Telegraph, Selasa, 2 Juni 2020, berdasarkan hasil pertemuan dari sejumlah badan, termasuk Departemen Pariwisata Afrika Selatan, negara itu memutuskan bahwa pariwisata domestik belum akan dibuka sampai Desember 2020.

Sedangkan untuk mancanegara tidak akan dibuka sampai Februari 2021. Wisatawan pun harus bersabar dulu untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata terkenal Afrika Selatan seperti Taman Nasional Kruger dan Mineral World.

Saat ini Komite Portofolio Pariwisata sedang menyusun Rencana Pemulihan Pariwisata. Tujuannya untuk membantu ekonomi lokal menghadapi musim panas dan musim gugur tanpa pariwisata.

2 dari 3 halaman

Liburan Musim Panas

Sementara Afrika Selatan baru akan membuka diri tahun depan, sejumlah negara di Eropa sudah bersiap untuk menggerakkan kembali pariwisata mereka untuk memanfaatkan momen liburan musim panas yang ramai wisatawan.

Beberapa di antaranya seperti Yunani yang akan menyambut lagi wisatawan pada 15 Juni. Lalu Portugal yang memperbolehkan wisatawan dari Schengen Area (kecuali Spanyol dan Italia) serta Amerika Serikat, Kanada dan Brazil mulai Juni.

Islandia juga akan menerima kunjungan wisatawan mulai 15 Juni dengan menggratiskan biaya tes COVID-19. Sampai Rabu (3/6/2020), Afrika Selatan masih berjuang untuk menyembuhkan pasien COVID-19.

Jumlah kasus di negara itu mencapai lebih dari 35 ribu kasus dengan jumlah kematian sebanyak 705 orang. Negara ini termasuk memiliki tingkat kesembuhan tinggi yaitu 17.291 orang.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: