Sukses

Sumbang Suara, Gerakan Solidaritas untuk Bantu Pekerja Informal di Masa Pandemi

Liputan6.com, Jakarta - Rantai kebaikan terus disambung demi saling bantu di masa pandemi corona COVID-19. Konsenterasi bantuan ini kian meluas hingga akhirnya lampu sorot sampai pada para pekerja informal lewat Sumbang Suara.

Gerakan solidaritas ini merupakan inisiasi Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) dari Gojek bekerja sama dengan Kitabisa dan Slank.

"Selain meringankan beban mereka yang terdampak situasi sulit seperti sekarang, kami juga mau ajak publik kasih semangat buat perkerja informal yang masih harus berada di jalanan untuk menyambung hidup, menafkahi keluarga mereka," kata Ketua Yayasan Anak Bangsa Bisa Monica Oudang saat konferensi pers secara daring, Rabu (29/4/2020).

YABB yang notabene berdiri di masa pendemi, Monica menjelaskan, merupakan perpanjangan tangan Gojek untuk menjangkau komunitas lebih luas. "Kami sangat terinspirasi dengan mereka yang tetap semangat bekerja, tidak mengeluh, bahkan tidak mengemis di masa sulit seperti sekarang," imbuhnya.

Maka itu, di samping dukungan materiil yang nantinya dikonversi dalam bentuk sembako, lewat gerakan Sumbang Suara, Monica mengajak publik turut serta menuliskan kata-kata penyemangat. Setiap harinya akan ada kata penyemangat yang dikurasi dan ditayangkan di aplikasi Gojek.

Selain pembagian sembako bagi pekerja informal, YABB punya dua program lain, yakni makanan gratis ramadan bagi mereka yang berada dalam ekosistem Gojek, serta makanan gratis bagi tenaga kesehatan.

"Dalam menjalankan dua program itu, kami juga gerakan sirkular ekonomi dengan memanfaatkan mitra-mitra pilihan di GoFood yang notabene merupakan UMKM," ucap Monica.

2 dari 4 halaman

Keikutsertaan Slank

Keikutsertaan Slank dalam gerakan ini, dijelaskan sang vocalist, Kaka, awalnya karena melihat salah seorang mitra pengemudi Gojek, sekaligus Slanker, yang menyanyikan lagu Ku Tak Bisa, sembari memperlihatkan mitra lainnya tengah berbagi di masa sulit.

"Dari situ, aku lihat ini Gojek punya komunitas yang kuat. Padahal mereka lagi susah, tapi masih cari cara bagaimana bantuin orang lain," katanya di kesempatan yang sama.

Lewat gerakan Sumbang Suara, drummer Slank Bimbim menuturkan, lewat kata-kata penyemangat yang dituliskan, ia berharap para pekerja sektor informal bisa bangga pada diri mereka sendiri. "Karena biarpun hidup sederhana, mereka banyak bantu orang lain," ujarnya.

Bassis Slank, Ivanka menambahkan, momen Ramadan dinilai makin pas menujukkan solidaritas sosial pada mereka yang terkena langsung dampak penyebaran corona COVID-19.

"Slanker sebetulnya sudah sempat bergerak, bagi-bagi masker dan segala macam. Tapi, sekali kali kami mau ajak karena momentumnya pas, Ramadan, berkahnya bisa berlipat ganda," tuturnya.

"Saya sendiri sudah sangat bergantung sama Gojek. Transportasi, pesanan makanan, kebutuhan bisnis, apalagi di masa-masa susah kayak sekarang. Makanya sekarang mau kasih balik apa yang kita bisa buat mereka yang sudah bantu kita sehari-hari," timpal gitaris Slank, Ridho.

3 dari 4 halaman

Sebarkan Pesan Positif

Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI Arifin Purwakananta sepakat dengan pernyataan para personel Slank. Ia berganggapan, yang tak kalah penting sekarang adalah menyebar pesan positif di tengah situasi tak pasti. "Makanya saya nilai pas banget gerakan ini kerja sama bareng Slank," ucapnya.

Penggalangan dana dan seruan menuliskan pesan positif lewat gerakan Sumbang Suara berlangsung pada 29 Aprl--30 Juni 2020. "Targetnya semoga bisa terkumpul sampai Rp15 miliar," ucap Monica.

Publik dapat berpastisipasi dengan mengkases Kitabisa (kitabisa.com/sumbangsuara), laman Slank di Kitabisa (kitabisa.com/slanksumbangsuara), atau klik banner Sumbang Suara di aplikasi Gojek.

"Nanti di tengah jalan mungkin ada teman-teman musisi lain, vlogger, influencer yang juga mau jadi fundraiser bisa banget supaya kita bisa bantu lebih banyak orang," imbuh Kaka.

Dalam penyaluran paket sembako senilai Rp100 ribu, gerakan #SumbangSuara juga melibatkan berbagai lembaga swadaya dan organisasi masyarakat yan gtersebar di berbagai kota di Indonesia.

"Targetnya siapapun pekerja informal terdampak COVID-19, mulai dari pedagang asongan, musisi jalanan, pemulung, tukang parkir, hingga supir angkot, taksi, ojek pangkalan dan online dari berbagai aplikator," jelas Monica.

“Kitabisa percaya Indonesia tak pernah kehilangan orang baik. Bahkan, di masa sulit seperti sekarang, kebaikan ini justru berlipat ganda. Karena kita tahu, situasi ini harus dilalui bareng-bareng. Selesai pandemi, harapannya masyarakat kita akan lebih solider, makin komunal, karena sudah melalui masa sulit bersama,” kata CEO Kitabisa.com, Alfatih Timur.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: