Sukses

Cara Penularan Corona Covid-19 yang Paling Sering Terjadi

Liputan6.com, Jakarta - Wabah corona Covid-19 melalui virus SARS-CoV-2 sampai saat ini masih terus menyebar dan menginfeksi banyak orang di seluruh dunia. Penyebarannya pun sangat cepat.

Situasi ini membuat WHO (World Health Organization) memperingatkan masyarakat untuk melakukan tidakan pencegahan corona. Yaitu dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air atau hand sanitizer, membersihkan permukaan yang sering tersentuh dengan disinfektan, dan melakukan social distancing atau jarak sosial.

Kenapa cuci tangan dengan sabun sangat penting? Menurut Kirsten Hokeness, profesor dan ketua departemen ilmu pengetahuan dan teknologi di Bryant University dan seorang ahli imunologi, virologi, mikrobiologi dan kesehatan manusia dan penyakit, cara penularan virus SARS-CoV-2 paling umum terjadi adalah melalui kontak langsung dengan cairan pernapasan pasien terinfeksi corona.

Cara penularannya bisa berlangsung saat pasien corona batuk atau bersin, lalu virus dan bakteri tersebut dipindahkan dari tangan ke hidung atau mulut orang orang lainnya. Meski begitu, sampai saat ini penelitian mengenai Covid-19 masih terus berlanjut.

Riset lain juga mengungkapkan kalau Covid-19 dapat hidup beberapa hari di permukaan yang keras dan tidak berpori. Sementara pada permukaan berpori seperti kain atau kardus, virus tersebut hanya akan bertahan selama 24 jam.

Penelitian dalam The New England Journal of Medicine juga menemukan berapa lama virus dapat bertahan pada permukaan dan udara.

Sebagai gas aerosol yang melayang di udara virus bisa bertahan sampai dengan tiga jam, sedangkan pada tetesan pernapasan cenderung akan jatuh lebih cepat ke tanah. Pada plastik dan stainless steel, virus penyebab Covid-19 ini bisa bertahan sampai tiga hari dan pada tembaga sekitar empat jam.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Corona Bertahan di Udara?

Seperti dilansir dari Huffpost, menurut penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, partikel aerosol dapat menyebarkan virus penyebab Covid-19. Jadi, ada kemungkinan penularan penyakit melalui udara dalam beberapa situasi tertentu. Lalu apakah partikel aerosol sama dengan tetesan pernapasan?

S. Wesley Long, direktur medis mikrobiologi diagnostik di Houston Methodist Hospital, menjelaskan bahwa partikel aerosol berbeda dengan tetesan pernapasan atau cairan yang mungkin dikeluarkan saat seseorang bersin atau batuk.

Partikel aerosol mampu bertahan lama di udara dan melakukan perjalanan jarak jauh serta dapat dengan mudah dihirup ke paru-paru. Menurut Long, tetesan pernapasan umumnya 20 kali lebih besar dan hanya mampu berjalan sekitar dua meter sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Namun, Anda tak perlu takut karena partikel aerosol, seperti kabut, hanya bisa ditemukan dalam kondisi tertentu. Selain itu, risiko infeksi dari partikel aerosol sangatlah rendah untuk kebanyakan orang.

Namun bagi pekerja medis, partikel-partikel tersebut bisa mendatangkan risiko yang cukup tinggi. Menurut profesor dan ketua departemen ilmu pengetahuan dan teknologi di Bryant University, Kirsten Hokeness, prosedur lain yang dapat menghasilkan aerosol adalah terapi oksigen, prosedur pelingkupan dan CPR.

Saat berada di udara, partikel tersebut bisa berpindah lewat aliran udara dari ventilasi atau kipas yang akan membantunya untuk bergerak ke ruangan lain. Selain itu, aktivitas manusia seperti berjalan dan membuka pintu juga dapat membantu partikel berpindah.

"Seseorang akan terinfeksi kalau mereka berada dalam jarak dekat, tiga hingga empat kaki, itulah mengapa kita menyarankan enam kaki (2 meter) sebagai ukuran jarak (phsyical distancing-red)," terang Hokeness.

Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui akun Instagramnya @who membagikan informasi menanggapi sebuah pesan yang sempat beredar di media sosial yang menyatakan Corona COVID-19 dapat menular melalui udara dan mampu bertahan selama 8 jam.

Menurut WHO informasi itu tidak benar.  Mereka memberi penjelasan bahwa jalur penyebaran utama dari Virus Corona adalah melalui droplets (tetesan) yang disebarkan ketika seseorang batuk, bersin, maupun bicara.

"Droplets ini terlalu berat untuk bertahan di udara. Mereka dengan cepat jatuh ke lantai maupun permukaan," tegas WHO. Dalam penjelasannya, seseorang bisa terinfeksi ketika ia menghirup udara saat berada sejauh 1 meter dengan orang yang positif COVID-19, atau menyentuh permukaan benda lalu kemudian menyentuh bagian wajah seperti mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

 

3 dari 4 halaman

Alasan Tetap Tinggal di Rumah

Maka dari itu, WHO memberi peringatan untuk tetap melakukan physical distancing, atau menjaga jarak sekurang-kurangnya satu meter dengan orang lain atau dengan permukaan yang paling sering disentuh banyak orang. Tak ketinggalan, WHO juga mengingatkan untuk sering mencuci tangan dan hindari menyentuh bagian wajah.

Yang perlu Anda tahu adalah virus bisa saja tersebar di mana saja. Ada banyak tempat yang berisiko menularkan infeksi. Itulah kenapa saat ini pemerintah meminta semua orang untuk tetap tinggal di rumah untuk menanggulangi penyebaran Covid-19.

Penelitian telah menunjukkan bahwa 'transmisi siluman' di antara orang-orang terinfeksi yang tidak punya gejala yang jelas adalah sumber penyebaran yang umum.

Karena itu, sangat penting untuk melakukan social distancing atau #jagajarakdulu dan menjaga kebersihan dengan mencuci tangan menggunakan air dan sabun setidaknya 20 detik atau gunakan hand sanitizer.

Selain itu, rajin membersihkan permukaan yang sering tersentuh, seperti gagang pintu, remote control atau keran air dengan disinfektan agar terhindar dari paparan corona Covid-19.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Penampakan Bioskop Outdoor Pertama di Yunani