Sukses

Cerita Akhir Pekan: Mengatasi Kehilangan Saat Pasangan Mendadak Pergi

Liputan6.com, Jakarta -  Bagaimana menjalani kehidupan setelah pasangan meninggalkan Anda selamanya? Apa yang dialami Bunga Citra Lestari yang suaminya, Ashraf Sinclair, meninggal secara mendadak karena serangan jantung, beberapa hari lalu, juga bisa terjadi pada siapa saja.

Satu hal yang paling ditakutkan seorang istri ialah kehilangan orang paling dicintainya, yaitu sang suami. Dengan kepergian pasangan hidupnya tersebut, hidup seorang istri akan terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Berduka itu pasti, bersedih juga boleh tapi tentunya jangan sampai berlarut-larut. Dunia masih belum kiamat dan hidup masih dapat diperjuangkan jika Anda pantang menyerah. Bagi Anda yang membayangkan kehidupan saat suami atau pasangan hidup meninggal itu terlalu berat, itu mungkin karena Anda belum tahu bagaimana Anda harus menjalani hidup setelah meninggalnya suami dan bagaimana menyikapinya.

Pengalaman seorang wanita yang juga orangtua tunggal bernama Wendi mungkin bisa jadi inspirasi bagi Anda.  Meski suaminya telah tiada, Wendi tak surut berjuang menghidupi seorang anaknya yang masih kecil. 

"Suami saya sudah meninggal sudah lama, sudah sekitar delapan tahun lalu. Saya single fighter mengurus anak saya yang masih kecil. Anak saya laki-laki, usianya di tahun ini sudah 11 tahun," ungkapnya pada Liputan6.com melalui sambungan telepon, Jumat, 21 Februari 2020.

Ia mengaku sangat berat kehilangan suami. Bukan hanya berat harus mencari penghasilan sendiri tapi lebih pada kehilangan sosok pendamping hidup yang bisa diajak berdiskusi, mengobrol, bercanda dan yang tak kalah penting, sebagai sosok ayah bagi putranya.

"Untuk perekonomian, Alhamdulillah tidak terasa begitu berat karena saya dan almarhum suami kebetulan menjalankan usaha keluarga, kita juga masih tinggal di rumah ibu saya. Kita menerusan usaha yang sudah lama dirintis sama almarhum ayah saya, dan masih saya jalani sampai sekarang," tutur perempuan kelahiran 44 tahun lalu itu.

Tinggal bersama keluarga, membuat beban Wendi sedikit berkurang. Saat ia sibuk bekerja, ada ibu dan adik perempuannya yang menjaga anaknya. Sedangkan sosok ayah bagi putranya dijalani oleh abang iparnya yaitu suami dari kakaknya yang tidak tinggal serumah dengannya.

"Kakak saya sudah punya rumah sendiri, sudah punya anak dua, tapi kadang-kadang suka datang dan menginap di rumah. Kadang saya yang minta supaya anak saya bisa dekat sama abang ipar saya," ucap Wendi.

"Dengan begitu, saya berharap dia punya sosok ayah selain ayahnya yang sudah meninggal. Dan Alhamdulillah hubungan mereka sangat dekat sampai sekarang, dan anak saya juga dekat sama keponakan saya, jadi dia merasa punya kakak," lanjutnya.

2 dari 4 halaman

Dukungan Keluarga

Meski semuanya berjalan dengan lancar sampai saat ini, Wendi mengakui periode awal kehilangan suami terasa sangat berat dan sempat membuatnya sangat down.

"Ya waktu itu suami saya sakit, sempat masuk rumah sakit beberapa hari tapi penyakitnya sudah parah dan sulit disembuhkan lalu akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. Ya, memang bukan mendadak meninggal tapi tetap terasa berat, karena kita nggak pernah merasa siap kehilangan pasangan kita," ujar Wendi.

Di sisi lain, Wendi merasa beruntung karena punya keluarga yang sangat peduli dan mendukung dirinya serta memberi semangat pada dirinya untuk tetap kuat menghadapi berbagai masalah.

"Mungkin kalau bukan karena dukungan keluarga saya bisa sedih terus-terusan, nggak bisa move on. Tapi untungnya banyak dukungan dari keluarga, dan tentunya dari diri saya sendiri yang bertekad bisa membesarkan anak saya dengan baik sampai dia dewasa nanti," harapnya.

Apa yang dialami Wendi memang belum tentu pernah dialami banyak orang, tapi setidaknya bisa menjadi contoh dan inspirasi tentang cara menghadapi musibah ditinggal pasangan hidup secara mendadak.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Roslina Verauli, sikap dan cara tiap orang dalam menghadapi tragedi seperti itu akan berbeda. Ada yang bisa cepat melupakan kesedihan dan lebih tegar menjalani hidup, tapi ada juga yang sulit menerima, terus menyangkal dan jadi terlalu lama larut dalam kesedihan.

3 dari 4 halaman

Cepat Bangkit atau Sebaliknya

"Itu bisa bergantung dari karakter orang itu sendiri, atau juga faktor keluarga dan lingkungan. Kadar keimanan seseorang biasanya juga bisa berpengaruh dalam menghadapi kejadian seperti itu. Kalau dia terus sedih berlarut-larut itu bisa jadi depresi dan butuh waktu lama untuk membuat kondisi jiwanya kembali seperti biasa," terang wanita yang biasa disapa mbak Vera ini saat dihubungi Liputan6.com melalui saluran telepon, Jumat, 21 Februari 2020.

Vera menambahkan, dukungan orang sekitar seperti keluarga dan sahabat juga penting, karena itu bisa menbuat seseorang bisa lebih cepat bangkit atau justru sebaliknya.

Hal itu sangat penting, apalagi kalau mereka yang ditinggal pasangan sudah punya anak. Ia bukan hanya harus bisa menguatkan diri sendiri tapi juga anaknya.

Menurut Vera, secara umum reaksi orang yang ditinggal pasangan secara tiba-tiba ada lima tahap yang dikenal dengan istilah Kubler Ross. Teori ini dibuat oleh seorang psikiater asal Swiss dan Amerika Serikat, Elizabeth Kubler Ross dalam bukunya ‘On Death and Dying’. Ia menemukan lima tahapan dalam sebuah kesedihan.

Yang pertama adalah penyangkalan, lalu rasa marah, yang ketiga proses tawar-menawar, keempat depresi dan kelima adalah tahap penerimaan.

"Kalau sejak awal kurang bisa menerima, biasanya bisa timbul depresi. Ada juga yang tidak melalui tahapan seperti itu dan langsung bisa menerima. Jadi memang tiap orang berbeda, harus dilihat dan tahu dulu apa masalah yang dihadapinya, setelah itu baru bisa ditentukan jalan keluar yang dianggap terbaik," ujar Vera sambil menutup pembicaraan.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Seniman Tekstil Ubah Sampah jadi Aksesoris Selama 5 Dekade
Loading