Sukses

Maskot Lucu dari Taiwan untuk Lawan Penyebaran Corona

Liputan6.com, Jakarta - Virus corona menjadi momok menakutkan belakang ini, terlebih sudah ribuan korban tewas karenanya. Banyak cara ditempuh pemerintah berbagai negara, khususnya mencegah agar wabah tidak semakin meluas.

Dilansir dari Asiaone.com, Selasa, 18 Februari 2020, pemerintah di Cina menyebarkan slogan-slogan komunis sebagai bentuk perlawanan dan semangat untuk melawan virus corona. Tetapi di Taiwan, pemerintah setempat memakai cara yang lebih ramah. Sebuah maskot yang lucu digunakan untuk meredakan kecemasan publik dan mendidik masyarakat untuk mencegah penyebaran virus corona.

Kementerian Kesehatan setempat meluncurkan maskot dalam bentuk kartun juru bicara yang diberi nama Zongchai. Kehadiran Zongchai disambut hangat masyarakat Taiwan. Tagar namanya yang menjadi viral dan tulisan tentang Zongchai dibagikan ratusan ribu kali.

Pemerintah Taiwan turut memperbarui media sosial mereka setiap hari. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari berita yang simpang siur terkait virus corona dan mencegah penyebaran infeksi.

Pemakaian masker jadi hal yang belakangan terakhir digemborkan sebagai saran pencegahan virus. "Tinggalkan masker untuk orang-orang yang membutuhkannya, sering cuci tangan dengan sabun, kurangi menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan," demikian isi pesan yang dikutip AFP.

Pada Hari Valentine 14 Februari lalu, Zongchai bahkan memberikan tips agar tetap bisa berkencan selama wabah virus corona, mulai dari mencuci tangan hingga memperhatikan kebersihan dalam berhubungan seks. Unggahan tersebut diakhiri dengan sindiran yang agak nyeleneh, "Bagaimana jika saya lajang?"

Selain maskot, Kementerian Luar Negeri Taiwan juga meluncurkan masker khusus untuk menandakan orang-orang yang belum lama punya riwayat perjalanan ke Tiongkok.

2 dari 3 halaman

Langkah Cepat Taiwan

Terlepas dari keterkaitan budaya dan kedekatannya dengan Cina, Taiwan cepat mengambil langkah melawan virus corona. Taiwan bahkan membatasi dan melarang kedatangan dari daratan Cina.

Pulau yang diakui Beijing sebagai wilayahnya itu mengonfirmasi kasus kematian pertama akibat corona pada Minggu, 16 Februari 2020. Hingga kini, otoritas setempat menyatakan 20 orang terinfeksi virus tersebut.

Sementara, kepanikan pada masyarakat yang tidak terkena wabah virus tetap terjadi lantaran isu pihak berwenang akan membatasi pemakaian jumlah masker pada setiap orang. Setiap orang hanya dibolehkan punya dua masker wajah untuk tujuh hari dan dianjurkan untuk memiliki kartu asuransi kesehatan.

Pulau itu juga membatasi jumlah masker wajah yang bisa dibawa seseorang ke luar negeri menjadi 250 buah. Pekan lalu, penjaga pantai menghentikan kapal nelayan karena berusaha menyelundupkan 71.000 masker. (Adhita Diansyavira)

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Dukungan Gadis Kecil untuk Sahabatnya ini Bikin Haru
Loading