Sukses

Mengenal Kultur Makan Hewan Liar di Tiongkok yang Jadi Sorotan Setelah Virus Corona Menyebar

Liputan6.com, Jakarta - Penyebaran virus corona, ramai disebut berasal dari salah satu pasar hewan liar di Wuhan dan sekarang jadi kondisi darurat kesehatan global berdasarkan deklarasi World Health Organization (WHO), membuat perdagangan hewan liar di Tiongkok jadi sorotan.

Mengutip laman National Geographic, Jumat (31/1/2020), sejak 26 Januari 2020, pemerintah setempat sudah melarang perdagangan hewan liar, setidaknya sampai krisis berakhir. Deretan foto maupun video hewan menderita di pasar dan dimakan hidup-hidup telah menarik perhatian tersendiri, terlebih setelah penyebaran virus corona.

Di tengah arus deras kritik publik dunia, pada realitanya bagi kebanyakan orang Tiongkok, mengonsumsi hewan liar sudah jadi bagian dari kultur. Di Guangzhou, kota dengan jumlah penduduk 14 juta, mengomsumsi hewan liar sudah sangat biasa.

Pemerintah Tiongkok bahkan memperbolehkan 54 spesies hewan untuk dibiakkan dan dijual guna dikonsumsi, termasuk musang dan hamster. "Banyak hewan liar, seperti ular dan burung, yang direbus maupun dijual ke peternakan resmi," kata Sekretaris China Biodiversity Conservation and Green Development Foundation Zhou Jinfeng.

Hingga sekarang, belum diketahui berapa banyak pasar hewan liar di seantero Tiongkoki, kendati para ahli memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan. Beberapa swalayan dan toko besar juga menjual daging hewan liar untuk dikonsumsi.

Sementara untuk para pembeli di pasar tradisional, kodok adalah hewan berharga cukup mahal yang umum didapati. Charles, seorang mahasiswa dari area Guangzhou, tempat konsumsi hewan liar tercatat tinggi, mengatakan bahwa kebiasaan tersebut sudah dinilai biasa saja.

"Tapi sekarang, saya pikir, orang tua lebih banyak membeli (hewan liar) ketimbang anak muda," ucapnya. Ia sendiri mengaku tak begitu sering makan hewan liar. "Hanya di perayaan-perayaan besar saja," imbuhnya.

 

2 dari 3 halaman

Desakan Penutupan Pasar-Pasar Hewan Liar

Charles menambahkan, preferensi perbedaan makanan diduga merupakan output dari tingkat pendidikan. Cordelia, mahasiswa yang tinggal di pusat kota Guangzhou menuturkan, kebiasaan makan hewan liar justru tak sebegitu familiar di keluarganya. "Kami pikir itu (makan hewan liar) menjijikkan," ucapnya.

Ia mengatakan, tindakan itu juga mencerminkan perlakuan tak menghargai keberadaan Ibu Bumi. "Saya harap setelah penyebaran virus corona, makin banyak orang yang percaya bahwa mengonsumsi hewan liar tak memberi manfaat bagi kesehatan," tutur perempuan 18 tahun tersebut.

Desakan untuk menutup pasar-pasar hewan, terlebih setelah penyebaran virus corona, makin santer terdengar. Anggapan ini, dikatakan Charles dan Cordelia, jadi satu topik konstan di media sosial setempat, Weibo.

Kendati, bukan masalah mudah meninggalkan kultur yang sudah bertahan lama walau hewan hidup dihargai lebih tinggi, bisa sampai dua atau tiga kali lipat. "Orang berpkir, makanan jadi lebih bernutrisi bila hidup dan fresh," kata Spesialis Policy China di Humane Society International Peter Li.

Tapi, banyak juga orang yang menilai bahwa pelarangan penjualan sementara hewan liar akan berujung kebijakan permanen. Li mengatakan, keputusan akhir tersebut akan mendapat perlawanan dari pedagang dan peternak.

"Jangan sampai pelarangan ini jadi buru-buru dan kurang matang. Karena bisa saja berujung pada jual-beli ilegal yang membuat perdagangan tersebut jadi makin berbahaya," tuturnya.

"Supaya pelarangan bisa efektif, sangat baik untuk mempertimbangkan persepsi publik terkait. Orang perlu percaya bahwa mengonsumsi hewan liar buruk untuk diri mereka sendiri," ucap Biologis Hong Kong University Caroline Dingle.

Bila pelarangan permanen benar-benar diadopsi, kata Li, sangat penting bagi pemerintah untuk memberi kompensasi pada para pedagang dan peternak supaya mereka bisa memulai lembaran hidup baru. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Restoran dan Cafe Milik WNI di Amerika Dirusak