Sukses

Memulai Bisnis Syariah Lewat Komunitas Tajir

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai negara yang mayoritas warganya muslim, masalah pekerjaan sering jadi bahasan. Tak sedikit orang yang meninggalkan pekerjaan kantoran dan mulai merintis bisnis sendiri dengan alasan menjalankan syariat agama.

Membangun bisnis dari nol tentu bukan langkah yang mudah, tapi bukan berarti tak mungkin. Hal ini menggerakan Tito Maulana, Co-Founder Tajir membangun komunitas untuk merangkul dan membangun para muslim untuk membangun bisnis sendiri.

Tito mengungkapkan, komunitas ini juga merupakan wadah untuk berbagi ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu berbisnis. Nama komunitas ini sendiri memiliki makna jauh berbeda dari yang dikenal orang banyak.

"Tajir itu kalau dalam bahasa Arab artinya pedagang, kan kalau di kita tajir itu kepanjangannya harta banjir, gitu. Jadi kita ambil nama komunitas ini untuk sekaligus mengembalikan makna aslinya," ujar Tito dalam acara Tablig Akbar Tajir 2020 di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Minggu (19/1/ 2020).

Dengan tagline 'Tidak Bergaji Bukan Berarti Tidak Punya Rejeki' Tito yang juga berprofesi sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Keuangan Kadin DKI Jakarta membuka peluang bagi siapa saja yang ingin menjalankan bisnis syariah.

Hal yang sama dibenarkan Ustaz Syafiq Riza Basamalah yang juga menjadi salah satu pembicara di acara tersebut.

"Kita berjuang sesuai kemampuan kita masing-masing. Siapapun yang ingin menyumbangkan keahliannya, ilmunya, Insy Allah kita siap menerimanya. Yang ustaz menyumbang ilmu agamanya, yang pedagang mungkin dengan ilmu dagang dan bisnisnya, yang kaya dengan uangnya, yang penting dengan apa yang kita miliki," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Kemudahan Bergabung

Komunitas ini disambut baik oleh masyarakat. Terhitung satu minggu lalu sejak diluncurkan, sudah sekitar 1000 orang mendaftarkan diri menjadi anggota komunitas Tajir. melalui laman mereka

"Untuk database belum kita rekap, yang jelas sudah ada 1000 data masuk dalam waktu satu minggu," jelas Tito. Tito juga menerangkan untuk promosi komunitas yang dibangunnya ia hanya menggunakan sosial media.

Tito juga menggandeng beberapa sponsor untuk komunitas ini, seperti produk make-up halal, Wardah dan Bank BNI Syariah. 

Sementara itu, para pembicara dalam acara tersebut merasa sangat terbantu dengan adanya komunitas berbisnis yang satu napas dengan minat dan prinsip seperti Tajir.

Selain itu, komunitas juga penting untuk saling berbagi pengalaman dalam menentukan sikap, di tengah segala perkembangan teknologi pengelolaan bisnis dan keuangan.   (Adhita Diansyavira)

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Social Enterpreneurship, Konsep Bisnis yang Ramah Disabilitas
Artikel Selanjutnya
Bisnis Penjualan Langsung Mampu Dorong Ekonomi Indonesia