Sukses

Cerita Akhir Pekan: 6 Tokoh Tari yang Wajib Diketahui Publik

Liputan6.com, Jakarta - Seni tari memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Mulai era sebelum adanya kerajaan hingga setelah Indonesia merdeka.

Sebelum era kerajaan, tari dipercaya sebagai memiliki daya magis dan sakral, seperti tari hujan. Tari kemudian berkembang era Hindu Budha. Pada era itu, tari memiliki standardisasi dan patokan.

Tak berhenti di situ, seni tari terus berkembang era penyebaran Islam hingga berdirinya kerajaan Islam di Nusantara. Tari jadi salah satu identitas kerajaan.

Berlanjut pada era penjajahan. Pada masa penjajahan, seni tari diperagakan pada acara-acara penting kerajaan. Saat itu, gerak tari terinspirasi dari perjuangan rakyat, seperti tari prawiroguno.

Usai Indonesia merdeka, tari terus berkembang sehingga tarian dilakukan dalam berbagai acara, seperti acara adat dan keagamaan. Sejumlah anak muda juga banyak yang mempelajari tari hingga saat ini.

Seiring perkembangan tersebut, lahir sejumlah tokoh tari di Indonesia. Berikut beberapa tokoh tari yang wajib Anda ketahui yang dihimpun dari berbagai sumber.

2 dari 3 halaman

6 Tokoh Tari

Bagong Kusudiardjo

Bagong Kusudiardjo merintis karier di dunia seni sebagai penari Jawa klasik, setelah belajar di Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo pimpinan Pangeran Tedjokusumo.Lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1928 dan wafat pada 15 Juni 2004 pada usia 75 tahun.

Bagong sempat belajar koreografi dari legenda tari modern Martha Graham di New York, Amerika Serikat pada 1957. Selain itu, ia menimba ilmu di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 1954. Selain tokoh tari, ia juga dikenal sebagai koreografer dan aktor.

Sasmita Mardawa

Sasmita Mardawa atau Soemardjono dikenal sebagai mpu tari klasik Yogyakarta. Ia lahir di Yogyakarta pada 9 April 1929 dan meninggal dunia pada 26 April 1996.

Ia sudah akrab dengan aktivitas berkesenian di lingkungannya sejak kecil. Ia telah dipercaya menjadi dosen tamu di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Ia juga pernah tampil di Malaysia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa.

Sujana Arja

Sujana Arja dikenal sebagai maestro tari topeng. Ia lahir di Desa Slangit di kawasan Klangenan, Cirebon, Jawa Barat, dari seorang keluarga seniman. Ia wafat pada 10 April 2006.

Selain di Jawa Barat, ia juga sering mengadakan pertunjukan di Jakarta, di Bali, di Yogyakarta, dan di Solo. Ia juga sering mengadakan pertunjukan, antara lain di 16 kota di Amerika Serikat dan Kanada atas undangan Asia Society, serta negara-negara lain.

Retno Maruti

Nama lengkapnya Theodora Retno Maruti atau Retno Maruti. Ia lahir di Solo, Jawa Tengah, 8 Maret 1947. Ia seniman tari dan dikenal juga sebagai maestro tari Jawa klasik gaya Surakarta.

Akademi Jakarta memberikan penghargaan Life Achievement pada 2005. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya yang tinggi dalam bidang kesenian dan humaniora.

Sardono W Kusumo

Sardono W Kusumo adalah seniman tari kontemporer dan menciptakan berbagai karya seni tari. Lahir di Solo, Jawa Tengah, 6 Maret 1945, berjasa memperkenalkan tari-tari tradisi ke dunia internasional.

Ia belajar tari Jawa klasik sejak kecil. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Samgita Pancasona.

Ni Ketut Arini

Ni Ketut Arini merupakan salah satu maestro tari Bali dan sering menjalani misi kebudayaan ke sejumlah negara. Ia lahir di Denpasar, Bali, 15 Maret1943.

Ia resmi menjadi penari Bali saat terpilih menjadi Sang Hyang Dedari di Banjar Pande, Desa Sumerta Kaja, Denpasar pada 1957. Ia sosok yang menghidupkan kembali tari Legong klasik yang nyaris ditinggalkan penerusnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: 6 Mitos Seputar Vegetarian, Bagaimana Faktanya?
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Bersantap di Restoran Vegetarian, Antara Rasa dan Harga