Sukses

Tarian Api Penutup Malam Minggu di Nusa Dua Bali

Liputan6.com, Nusa Dua -  Cuaca cukup bersahabat pada malam terakhir November 2019 di Nusa Dua, Bali. Angin sepoi-sepoi dan suara ombak menemani para pengunjung Restoran Sateria Beachside Melia Bali yang akan dan sedang bersantap malam.

Saya termasuk di antara para pengunjung restoran yang berlokasi di tepi pantai itu. Tapi bukan hidangan yang saya kejar malam itu, melainkan fire dance alias tarian api yang menjadi fitur spesial restoran setiap malam Minggu.

Berdasarkan jadwal yang tertera dalam kertas petunjuk, semestinya pertunjukan tersebut baru dimulai 19.45 WITA. Namun, tarian tersebut berlangsung lebih cepat dan saya melewatkan sesi pertama.

"Nanti ada lagi jam setengah sembilan," kata pelayan restoran kepada saya, Sabtu, 30 November 2019.

Sementara menunggu, saya diarahkan menuju meja yang berada di dek kayu, di samping jalan setapak. Buku menu disodorkan, mata saya tertuju pada daftar olahan ikan. Sea Bass Fillet alias filet ikan barramundi dengan saus lemon menjadi pilihan saya lantaran direkomendasikan oleh chef. Pendampingnya tentu saja air mineral.

Pelayan pun segera berlalu setelah saya memesan. Sekitar 10 menit kemudian, ia datang membawa nampan kayu berisi roti lengkap dengan saus cocolan yang terbuat dari tomat, bawang putih, dan rosemary.

"Ini untuk pembuka. Namanya pocacia. Cuma di atasnya ditaburi irisan cabai," jelas pelayan itu. 

Rasanya seperti roti tawar biasa dengan tekstur padat dan agak keras di permukaan. Dicocol saus, roti terasa lebih asam dengan aroma rosemary terasa sebagai after taste.

Menu utama akhirnya datang sekitar 20 menit setelah memesan. Sepotong besar ikan barramundi dengan kulit krispi disajikan bersama kentang tumbuk dan beberapa sayur yang dipanggang. Ikannya segar dan lembut, makin segar dengan irisan lemon yang saya peras di atas piring.

Seporsi ikan barramundi dihabiskan dalam 10 menit. Selama itu, saya sesekali menatap ke arah panggung tempat live band beraksi. Tak lama setelah suapan terakhir, saya melihat anggota band turun panggung.

Saat itulah sejumlah anak kecil yang kebanyakan berambut pirang berlari ke depan dari sisi panggung. Dari kejauhan, tongkat api besar terlihat diputar.

2 dari 3 halaman

Singkat tapi Berkesan

Saya segera meninggalkan meja dan mendekat ke tempat pertunjukan. Penampil tarian api pertama adalah seorang pemuda yang hanya mengenakan sarung dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka.

Ia menunjukkan keahliannya memutar tongkat besi panjang yang kedua ujungnya terdapat lingkaran. Bau bensin cukup menyengat tercium meski saya berada sekitar lima meter dari tempat si penampil. Pada masing-masing lingkaran terdapat beberapa sumbu api. Ia memutarkannya selayaknya mayoret dalam marching band.

Selang beberapa menit, gantian temannya yang beraksi. Kali ini, lelaki itu menggunakan tongkat besi pendek dengan ujungnya bercabang dua. Masing-masing ujung cabang terdapat dua sumbu api yang saat diputar-putar terlihat seperti lingkaran api.

Suara decak kagum terlontar dari para penonton anak-anak. Suara makin riuh saat penari api ketiga yang merupakan perempuan beraksi. Ia membawa lingkaran api berbentuk seperti hula hoop.

Ternyata, ia menggunakannya seperti benda itu. Aksinya terbilang berani lantaran ia memutarkan ya di leher dan terus menurun hingga ke betis. Sontak, anak-anak berteriak diiringi tepuk tangan. Begitu pula dengan saya.

Tetapi, puncak pertunjukan adalah saat salah seorang penari lelaki menyemburkan api. "Wow, i can eat the fire too," celoteh salah satu bocah. Pertunjukan tarian api pun selesai dalam sepuluh menit dan menutup makan malam saya dengan penuh kesan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Seharian di Nusa Dua Bali, dari Sepedaan hingga Nonton Tari Legong