Sukses

Kisah Warisan Pengusaha Kopi Belanda di Antara 5 Gunung Tinggi Magelang

Liputan6.com, Magelang - Bicara tentang kopi tak bisa hanya satu dimensi. Banyak kisah yang berkembang karena tanaman yang pernah diharamkan oleh Vatikan itu. Begitu pula dengan cerita yang satu ini, seorang Belanda yang mendirikan kebun kopi Karangrejo seluas 22 hektare di dataran tinggi Magelang.

Tak banyak dokumentasi tertulis tentang sosok pemilik kebun kopi bernama Gustav van der Swan itu. Hanya secuplik informasi didapat Liputan6.com saat berbincang dengan salah satu staf MesaStila Resort and Spa, hotel bintang lima yang kini mengelola 'warisannya'.

Gustav membuka kebun kopinya pada 1928, saat Nusantara sedang ramai menggaungkan Sumpah Pemuda. Dari Wiwid, nama staf hotel itu diketahui bila lelaki itu beristri dua, satu perempuan Belanda dan seorang perempuan pribumi.

Di kebun kopi itu ditanam jenis Robusta yang memang cocok dengan kondisi iklim Magelang yang dingin karena dikelilingi lima gunung tinggi, yakni Telomoyo, Andong, Sindoro, Merapi, dan Merbabu. Kebun kopi itu masih beroperasi hingga kini, hidup berdampingan dengan puluhan bangunan vila yang berdiri. Bahkan, Anda bisa mengikuti trip khusus ke kebun kopi sambil mendengarkan cerita dengan dikenakan biaya Rp200 ribu ++.

Usaha kopi Gustav berjalan mulus hingga Perang Dunia II meletus. Menurut Wiwid, ia lalu memutuskan untuk menjual kebunnya kepada bangsawan Solo bernama Pak Tjokro, sebelum akhirnya kembali ke Belanda bersama salah satu istri dan anak-anaknya.

"Istri yang orang Indonesia tetap tinggal di sini dengan anak-anaknya," kata Wiwid dalam media gathering bersama Kementerian Pariwisata RI pada Rabu sore, 10 Juli 2019.

2 dari 4 halaman

Sentuhan Perempuan Italia

Setelah berpindah tangan, kebun kopi Gustav tak benar-benar terawat. Bahkan, bangunan utama dibiarkan terbengkalai hingga berpuluh-puluh tahun ditemukan seorang perempuan Italia bernama Gabriella Tegia.

Wiwid menyebut ia membeli bekas rumah mewah Gustav beserta kebun kopi di sekelilingnya untuk dijadikan hotel pada 1991. Menurut Wiwid, Gabriella tak asing dengan industri hospitality karena sebelumnya pernah terlibat dalam proyek Amankila, sebuah resor mewah di Bali.

Penyesuaian pun dimulai agar layak menerima tamu, seperti membangun vila, restoran, memindahkan bangunan stasiun tua, hingga merenovasi gudang kopi.Namun, ia tetap mempertahankan bentuk asli bangunan bekas rumah mewah Gustav dengan hanya sedikit meninggikan atap.

Bagian lainnya masih sama, hanya dipoles agar lebih terawat. Bangunan berpilar bulat besar itu kini berfungsi sebagai resepsionis sekaligus perpustakaan.

"Ini semuanya masih asli. Bisa lihat di langit-langitnya, kayu ini dibuat tanpa sambungan. Terbayang bagaimana besarnya kayu itu saat dibawa ke sini," katanya.

3 dari 4 halaman

Bangunan Menangis

Tak hanya memanfaatkan bangunan yang telah ada, Gabriella juga mengadopsi bangunan tua lain dari Jepara. Itulah bangunan Stasiun Mayong beserta hanggar keretanya. "Ibu (Gabriella) bilang, saya mendengar bangunan itu menangis seolah meminta untuk dibawa. Jadilah bangunan itu dipindahkan," ujar Wiwid.

Bangunan Stasiun Mayong kini difungsikan menjadi concierge. Lokasinya yang berada di pintu masuk menjadi salah satu spot foto paling ikonik di MesaStila yang pernah bernama Losari Coffee Plantation itu.

Pada 2010, Gabriella menjual resor tersebut kepada Recapital yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Sandiaga Uno. Namanya pun diubah menjadi MesaStila dan dikelola langsung dari Magelang.

"Dulu kita ada representatif di Eropa, tapi sekarang kita kelola sendiri langsung di Magelang. Meski begitu, kita masih bisa datangkan wisatawan dari wilayah Eropa, seperti Prancis, Italia, Inggris," kata Sales Manager MesaStila, Laila Purnamasari.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Iqbaal Ramadhan, dari Kopi hingga Impian Membuat Yayasan
Artikel Selanjutnya
Sandiaga Uno ke Belitung, dari Ikut Triathlon hingga Membuat Kopi