Sukses

Cerita Akhir Pekan: Maaf Aku Tidak Pulang Lebaran Tahun Ini

Liputan6.com, Jakarta - Lebaran kian lekat dengan momen kumpul keluarga. Beratus, bahkan beribu kilometer rela ditempuh banyak orang demi pulang. Ruas-ruas jalan padat, bahkan berdesakan di trasportasi umum semua dilalui untuk bertemu wajah-wajah familiar di rumah.

Sayang, seperti tahun-tahun sebelumnya, hak istimewa ini tak didapatkan semua orang pada Lebaran kali ini. Di tengah deras arus pemudik menuju kampung halaman, ada juga mereka yang menahan pilu nan rindu karena tak bisa pulang tahun ini.

Reza Fakhrurrozi, salah satunya. Lelaki yang tengah bekerja sebagai barista di salah satu kedai kopi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, ini tak bisa kembali ke Tanah Air di momen Lebaran. "Kalah cepat ambil jatah cuti, keduluan sama partner kerja," katanya lewat pesan singkat pada Liputan6.com, Senin, 27 Mei 2019.

Ketika menyampaikan pada keluarga di Jakarta, Reza mengatakan, mereka cenderung memaklumi kondisi ini. Sebagai ganti, Reza akan tetap bekerja mengerjakan pesanan di momen Lebaran.

"Bos gue perempuan, panggilnya madam. Jadi adiknya madam mau nikah, gue sama partner kerja yang lain disuruh bikin signature coffee-nya. Coffee shop tempat gue kerja sebanyak 500 botol," paparnya.

Sedih tak bisa pulang di Lebaran tahun ini dikatakan Reza akan ditebus oleh pertemuan di bulan Oktober. "Pas di bulan (di mana) kedua orangtua ulang tahun," katanya.

2 dari 4 halaman

Tetap Kerja di Momen Lebaran

Gempita Lebaran di Tanah Air tahun ini juga tak akan dirasakan Dreses Putranama, lelaki asal Indonesia yang tengah sementara menetap di Sydney, Australia. Harga tiket pesawat tak semata jadi alasan lelaki kelahiran Jawa Timur ini tak pulang.

"Selain tiket mahal, bakal nggak efektif. Waktuku di Australia terbatas. Aku nggak mau menyia-nyiakan. Aku juga mau ngumpulin uang di sini karena ada aku punya keinginan," paparnya lewat pesan singkat pada Liputan6.com, Selasa, 28 Mei 2019.

Demi 'meniadakan jarak', Dreses berencana video call dengan keluarga di rumah saat momen Lebaran. "Tahun ini aku paling bakal kumpul sesama orang Indonesia saja, walau banyak juga yang pulang," ujarnya.

"Paling nanti cari tempat salat ied di Sydney. Mungkin bakal ada acara ngumpul komunitas orang Indonesia. Tapi, yang pasti tetap kerja karena di Aussie, Idul Fitri bukan termasuk public holiday," Dreses menambahkan.

Soal rencana kepulangan ke Indonesia demi menembus momen Lebaran yang terlewat tahun ini, ia mengatakan, belum bisa memastikan. "Rencana pulang paling tahun depan, tapi belum tahu pasti," katanya.

3 dari 4 halaman

Pengalaman Puasa di Negeri Orang

Kendati tak bisa pulang ke Indonesia saat Lebaran, baik Reza maupun Dreses, keduanya mendapat pengalaman berkesan ketika harus menjalani Ramadan di negeri orang. Reza, misalnya yang harus kuat berpuasa dengan waktu makin lama makin harinya.

"Terus jamnya lagi puasa sepi banget kayak kota (di film) Silent Hills. Orang-orangnya jadi makhluk nokturnal semua," Reza bercerita. Sementara, Dreses mendapat pengalaman seru ketika bertandang ke pasar malam di bulan Ramadan.

"Dua minggu lalu aku pergi ke suburb namanya Lakemba. Di sana ada Ramadan night market. Karena di daerah sana dan sekitarnya banyak muslim, jadi satu deret jalan ditutup dan banyak orang jualan makanan," tuturnya.

Makanan yang dijual didominasi kuliner India, Pakistan, dan Timur Tengah. Acaranya, kata Dreses, bakal berlangsung selama Ramadan tiap malam hari full.

"Nggak cuma muslim, orang non-muslin juga datang karena penasaran sama suasana dan makanannya. Temanku bahkan ada yang diwawancara sama student yang bikin laporan buat tugas kampusnya," tutupnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Amalan Sebelum Idul Fitri untuk Sambut Hari Kemenangan
Artikel Selanjutnya
Robocar Poli Siap Hadir di Tengah-Tengah Pengunjung Ancol saat Lebaran