Sukses

Cerita Akhir Pekan: Yakin Anda Tidak Masuk dalam Kategori Kecanduan Media Sosial?

Liputan6.com, Jakarta - Tak lagi bisa dipungkiri bahwa di samping dunia nyata, realm di internet lewat media sosial sudah jadi bagian hidup tak sedikit orang. Realita dunia maya lewat deretan akun social network ini pun bermunculan seiring popularitas kian menanjak dari tahun ke tahun,

Dengan gempuran intensitas kian rapat nan membebat, apakah Anda yakin bahwa Anda bukanlah salah satu orang yang sudah masuk dalam ketegori kecanduan media sosial (medsos)? Ada baiknya mengenali bagaimana sebenarnya ciri orang yang sudah mendapat dampak negatif medsos.

Identifikasinya, pertama, menurut Psikolog Marcelina Melisa, jika frekuensi, durasi, dan intensitas makin sering dalam menggunakan medsos sehingga pekerjaan terbengkalai, tugas tidak selesai, atau bagi yang masih bersekolah, terjadi penurunan nilai cukup signifikan.

"Prioritas yang penting digeser untuk waktu menggunakan media sosial. Misal, pakaian di rumah banyak tertumpuk karena waktu menyetrika digunakan untuk melihat media sosial," terangnya lewat pesan elektronik pada Liputan6.com, Jumat, 3 Mei 2019.

Juga, kurang menyadari munculnya dampak negatif dari perilaku tersebut. "Atau meski sudah menyadari, tapi merasa tidak memiliki kontrol untuk mengatasinya. Perilaku demikian tetap ada, bahkan semakin sering dilakukan," tambah Marcelina.

Marcelina mengegaskan, mengacu pada diagnosa gaming addiction yang dibuat WHO (2011) dalam International Classification of Disease 11, ciri-ciri kecanduan media sosial di atas minimal dimiliki selama 12 bulan.

2 dari 4 halaman

Alasan Orang 'Memindahkan' Hidup ke Media Sosial

Kecanduan media sosial tentu terjadi bukan tanpa sebab. Berdasarkan pandangan psikologi yang dijelaskan Marcelina Melisa, fenomena ini berlangsung lantaran medsos merupakan platform yang memungkinkan orang menciptakan image sesuai kehendak mereka.

Melalui media sosial, kata Marcelina, orang ingin diakui keberadaannya, disukai hasil karyanya, mendapatkan komentar positif atau sesuai keinginannya. Pengakuan diri sangatlah penting bagi setiap individu.

"Media sosial memudahkan orang yang memiliki keterbatasan berinteraksi, baik karena waktu maupun jarak. Menjalin pertemanan di media sosial lebih mudah dibandingkan realita," jelas Marcelina.

"Jika di media sosial hanya dibutuhkan komunikasi berbentuk tulisan atau audio, pada realitanya menjalin pertemanan cukup kompleks dan membutuhkan keterampilan tertentu sehingga kedua belah pihak berkeinginan melakukan interaksi dua arah," tambahnya.

3 dari 4 halaman

Mengatasi Kencanduan Media Sosial

Marcelina memaparkan, detoksifikasi bertitik berat pada mengembalikan dan membangun kontrol diri untuk menahan diri ketika penggunaan media sosial sudah berlebihan.

"Biasanya dirancang program untuk mengurangi frekuensi, durasi, intensitas, serta mendapatkan reward berupa perasaan berhasil karena memiliki kontrol atas diri sendiri. Jika ada persepsi yang keliru, maka dapat diberikan treatment cognitive behavioral therapy," tuturnya.

Puasa media sosial juga disarankan jadi tahap pertama dalam mengatasi kecanduan media sosial. "Hal ini juga perlu untuk meningkatkan interaksi dan komunikasi langsung dengan orang di sekitar kita," kata Marcelina,

"Karena jika banyak menggunakan social media, kemungkinan kita juga sering melakukan phubbing dan membuat orang di sekitar kita kurang terkoneksi," sambungnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Tagar Ramadhan Kareem Jadi Trending Topic di Twitter
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Masihkah Mau Bersosialisasi Tanpa Media Sosial?