Sukses

Mendaki Papandayan, Gunung dengan Sejuta Pesona

Liputan6.com, Jakarta Cuaca pagi itu cukup mendung saat kami tiba di Camp David, awal pendakian Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, pada Sabtu (24/9/2016). Namun, pesona keindahan gunung dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut itu tak mematahkan semangat kami untuk mendakinya.

Dari Camp David, kami mulai mendaki gunung yang terakhir meletus tahun 2002 itu. Di awal-awal pendakian, kami menemui trek berbatu yang cukup landai.

Banyak pendaki mengatakan trek di Gunung Papandayan cukup baik untuk pendaki pemula. Sebab, treknya cenderung tidak terlalu sulit untuk ditaklukkan. Untuk pendakian sendiri, setiap orang perlu membeli tiket masuk Rp 20 ribu per orang untuk hari kerja dan Rp 30 ribu untuk hari libur. 

Terbukti di awal pendakian meskipun terasa menanjak, tetapi jalur pendakian berbatu itu lebih banyak "bonus"-nya. Bonus yang dimaksud adalah trek datar, sehingga usaha menaiki gunung pun lebih ringan.

Jalur pendakian Gunung Papandayan. Sumber: Liputan6.com/Unoviana Kartika

Pos demi pos kami lewati. Pemandangan sekitar kami sungguh membantu menjaga semangat. Tebing-tebing dan hamparan gunung hijau kontras dengan trek berbatu yang kami lewati. Sementara langit semakin gelap dan berkabut di atas kami.

Setelah melewati trek seperti tangga, indra penciuman kami mulai terganggu dengan bau belerang. Lama-kelamaan, bau makin menyengat, menandakan kami telah dekat dengan kawah belerang.

Panorama Gunung Papandayan memang sanggup buat kamu terpana.

Kawah belerang memang merupakan salah satu daya tarik Gunung Papandayan. Di gunung ini, terdapat 14 kawah aktif yang mengeluarkan asap.

Selanjutnya, kami menjumpai tempat yang disebut Bundaran oleh warga sekitar. Di sini terdapat sejumlah percabangan. Kami pun memilih satu jalur yang terlihat lebih terjal tetapi lebih pendek. Sementara jalur lainnya lebih landai, tetapi melewati aliran sungai yang cukup deras ketika hujan.

Kedua trek itu sebenarnya berupa hutan. Meskipun dikelilingi pepohonan yang sejuk, sebelah kami adalah jurang. Sehingga, pendaki perlu berhati-hati. Apalagi, hujan mulai turun ketika kami melewatinya.

Setelah melewati trek yang cukup terjal, kami menjumpai hutan mati. Pepohonan yang terkena erupsi Gunung Papandayan 2002 silam telah mengering. Berdiri di lumpur putih, pepohonan yang telah menghitam itu pun tampak sangat kontras. Ditambah kabut dari puncak, pemandangan pun terasa begitu dramatis.

Hutan mati di Gunung Papandayan. Sumber: Liputan6.com/Unoviana Kartika

Tak jauh dari hutan mati, kami tiba di Pondok Salada. Tempat ini merupakan lokasi kemah para pendaki. Jika pendaki ingin berkemah, maka lokasi ini sangat cocok. Sekitarnya terdapat warung yang menjual makanan dan minuman.

Jika ingin memasak, maka tak perlu khawatir dengan sumber air. Terdapat mata air yang sudah dipasangi instalasi bambu yang membuat air lebih mudah mengalir. Peristirahatan di Pondok Salada terasa lebih menyenangkan, dengan banyaknya tumbuhan edelweis yang juga menjadi satu lagi daya tarik dari Gunung Papandayan.

Setelah melepas lelah di Pondok Salada usai sekitar 3 jam mendaki, Anda dapat memilih ingin melanjutkan ke puncak atau turun lagi.