Puasa Nabi Idris AS: Pengertian, Hukum, Tata Cara dan Hikmahnya

Puasa Nabi Idris AS merupakan salah satu bentuk ibadah puasa sunnah yang dinisbatkan kepada Idris AS

Diterbitkan 06 November 2026, 13:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Puasa Nabi Idris AS merupakan salah satu bentuk ibadah puasa sunnah yang dinisbatkan kepada Idris AS, nabi yang dikenal memiliki ketekunan luar biasa dalam beribadah. Praktik ini secara historis dan terminologis erat kaitannya dengan shaum dahr, yaitu puasa yang dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang diharamkan.

Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya menjelaskan bahwa Nabi Idris AS beserta istrinya kerap melaksanakan puasa dahr sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT. Dalam literatur lain, seperti Arwa' Al-Qashash fi Luthfillahi bi Ibadihi karya Sayyid Uthwah, dikisahkan bahwa Nabi Idris AS menjalankan puasa secara terus-menerus, dan setelah berbuka beliau melanjutkan malamnya dengan salat hingga terbit fajar.

Mengutip Buku Amaliyah Ramadhan karya Prof. H. M. Hasballah Thaib dan Dr. H. Zamakhsyari Hasballah, dijelaskan bahwa puasa dahr adalah puasa sepanjang tahun kecuali pada hari-hari yang diharamkan, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Tasyrik.

Puasa Nabi Idris AS merupakan bagian dari tradisi panjang shaum dahr yang telah dipraktikkan oleh para nabi terdahulu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melatih pengendalian hawa nafsu. Merangkum berbagai sumber, berikut ini ulasan lengkap mengenai pengertian puasa Nabi Idris, hukum, niat dan tata caranya.

Apa Itu Puasa Nabi Idris AS?

Puasa Nabi Idris AS adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada praktik puasa sunnah yang dilakukan setiap hari sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang dilarang dalam syariat Islam. Praktik ini merupakan bentuk teladan dari ketekunan Nabi Idris AS dalam beribadah, yang dicatat dalam berbagai literatur klasik.

Dalam kitab Qashash al-Anbiya karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Nabi Idris AS menjalankan puasa dahr, yaitu puasa sepanjang tahun kecuali pada hari-hari yang diharamkan, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Definisi ini juga dikuatkan oleh penjelasan dalam Buku Amaliyah Ramadhan yang menyatakan bahwa puasa dahr adalah puasa terus-menerus sepanjang tahun, dengan pengecualian pada hari-hari yang diharamkan.

Dari sini dapat dipahami bahwa puasa Nabi Idris AS bukanlah puasa yang diwajibkan, melainkan sebuah amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin meneladani kesalehan Nabi Idris AS, dengan catatan tetap memperhatikan batasan-batasan syariat dan kemampuan fisik.

Hukum Puasa Nabi Idris AS

Hukum puasa Nabi Idris AS adalah sunnah. Artinya, apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa. Dasar hukumnya tidak tertulis secara eksplisit dalam Al-Qur'an maupun hadis Nabi Muhammad SAW sebagai perintah langsung, melainkan sebagai bentuk teladan dari kisah para nabi terdahulu, khususnya Nabi Idris AS. Meskipun demikian, para ulama memberikan catatan penting terkait pelaksanaannya.

Dalam perspektif fikih, puasa dahr (puasa sepanjang tahun) tidak dianjurkan untuk diamalkan secara umum oleh umat Islam. Ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Shiyam menjelaskan bahwa puasa dahr dimakruhkan karena dapat memberatkan jasmani dan mengabaikan keseimbangan hak tubuh.

Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Amr, di mana beliau bersabda, "Tidak ada puasa bagi orang yang puasa selamanya, tidak ada puasa bagi orang yang puasa selamanya."

Nabi juga menasihati agar tidak memaksakan diri dalam beribadah puasa, karena tubuh, mata, keluarga, dan tamu memiliki hak yang harus dipenuhi.

Oleh karena itu, meskipun hukum asalnya sunnah, pelaksanaan puasa Nabi Idris AS sebaiknya dilakukan dengan pemahaman yang matang, kesiapan fisik, dan tetap mengindahkan prinsip keseimbangan dalam beribadah.

Bacaan Niat dan Tata Cara Puasa Nabi Idris AS

Secara umum, tidak ada niat khusus yang secara spesifik diajarkan untuk puasa Nabi Idris AS. Niat yang digunakan adalah niat puasa sunnah pada umumnya, yang diucapkan di dalam hati pada malam hari sebelum berpuasa. Berikut adalah bacaan niat yang dapat dilafalkan:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghodin sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah esok hari karena Allah Ta'ala."

Adapun tata cara pelaksanaan puasa Nabi Idris AS tidak berbeda dengan puasa sunnah pada umumnya. Seorang muslim berpuasa mulai dari terbitnya fajar (waktu Subuh) hingga terbenamnya matahari (waktu Magrib).

Selama berpuasa, ia wajib menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri. Waktu berbuka puasa adalah ketika azan Magrib berkumandang.

Puasa ini dapat dikerjakan sepanjang tahun, namun tidak boleh dilakukan pada hari-hari yang diharamkan, yaitu Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Selain itu, dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amalan kebaikan lainnya selama menjalankan puasa ini, seperti salat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.

Hikmah Melaksanakan Puasa Nabi Idris AS

Pelaksanaan puasa Nabi Idris AS mengandung sejumlah hikmah dan keutamaan yang mendalam bagi kehidupan spiritual seorang muslim. Berikut di antaranya:

1. Meneladani Kesalehan dan Ketakwaan Nabi Idris AS

Puasa ini merupakan bentuk nyata dalam meneladani kesalehan, ketaatan, dan ketekunan Nabi Idris AS dalam beribadah kepada Allah SWT. Dengan mengamalkannya, seorang muslim berupaya meningkatkan ketakwaan dan kedekatannya kepada Allah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Idris AS.

2. Melatih Pengendalian Hawa Nafsu

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Insan Pilihan Tuhan: Meneladani 25 Nabi dan Rasul karya M. Arief Hakim, Nabi Idris AS menganjurkan kaumnya untuk berpuasa sebagai latihan mengendalikan hawa nafsu manusia yang cenderung tidak baik dan merusak.

Puasa Nabi Idris AS menjadi sarana untuk melatih diri agar mampu menahan diri dari segala godaan dan hawa nafsu, sehingga dapat mencapai ketenangan batin dan merasa lebih dekat dengan Allah SWT.

3. Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Spiritualitas

Ketekunan Nabi Idris AS dalam berpuasa dan salat sepanjang malam menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadahnya.

Dalam Buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Nabi Idris AS adalah sosok yang sangat tekun beribadah, termasuk dalam hal berpuasa. Hal ini dapat dijadikan contoh dalam menjalankan puasa-puasa sunnah yang lain.

4. Menjaga Kesehatan Jasmani dan Rohani

Meskipun puasa dahr memiliki catatan dalam fikih, puasa secara umum memiliki manfaat bagi kesehatan.

Dalam Jurnal Puasa Dalail Al-Quran Dalam Keseimbangan Teologis dan Kesehatan karya Baiti Al Ami dan Lutfiyah, dijelaskan bahwa puasa dapat memberikan manfaat positif bagi tubuh, seperti meningkatkan metabolisme dan detoksifikasi alami, serta memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dengan meningkatkan kesadaran spiritual dan mengurangi stres.

Dengan niat yang benar dan pelaksanaan yang seimbang, puasa Nabi Idris AS dapat menjadi sarana untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani.

 

Pertanyaan Seputar Puasa Nabi Idris AS

1. Apakah puasa Nabi Idris AS sama dengan puasa Dahr?

Ya, puasa Nabi Idris AS pada dasarnya adalah praktik shaum dahr, yaitu puasa yang dilakukan sepanjang tahun kecuali pada hari-hari yang diharamkan. Istilah "puasa Nabi Idris" merujuk pada keteladanan Nabi Idris AS yang dikenal sangat tekun menjalankan puasa ini.

2. Apakah boleh berniat puasa Nabi Idris AS hanya pada hari Senin dan Kamis saja?

Boleh. Karena puasa Nabi Idris AS adalah puasa sunnah, seorang muslim dapat memulainya kapan saja dan tidak harus dilakukan sepanjang tahun. Jika belum mampu berpuasa penuh, dianjurkan untuk menjalankan puasa sunnah yang lebih moderat seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud.

3. Apa hukum puasa Nabi Idris AS menurut madzhab Syafi'i?

Secara umum, ulama Syafi'iyah membolehkan puasa dahr (puasa sepanjang tahun) asalkan tidak menimbulkan mudarat (bahaya) bagi pelakunya. Namun, jika dikhawatirkan memberatkan jasmani atau mengabaikan hak tubuh, maka hukumnya menjadi makruh.

4. Apakah puasa Nabi Idris AS boleh dilakukan pada hari Jumat?

Puasa Nabi Idris AS mengikuti aturan puasa sunnah pada umumnya. Puasa pada hari Jumat saja (tanpa diiringi hari sebelum atau sesudahnya) dimakruhkan dalam Islam, kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan puasa seseorang atau puasa nadzar. Oleh karena itu, sebaiknya hindari berpuasa hanya pada hari Jumat secara khusus.

5. Apa bacaan niat puasa Nabi Idris AS?

Bacaan niatnya adalah: Nawaitu shauma ghodin sunnatan lillahi ta'ala (نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى), yang artinya: "Saya niat berpuasa sunnah esok hari karena Allah Ta'ala.".