Liputan6.com, Jakarta - Bulan suci yang penuh ampunan kini semakin dekat dan dinantikan seluruh muslim di berbagai belahan dunia. Bagi dai, Ramadhan adalah waktunya memaksimalkan syiar. Banyak yang kini mulai mencari contoh ceramah jelang Ramadhan sebagai referensi materi dakwah yang akan disampaikan kepada masyarakat.
Persiapan yang matang tentu akan membuat pesan agama tersampaikan dengan lebih baik. Persiapan spiritual, ilmu, dan mental sangat dibutuhkan oleh setiap muslim agar rangkaian ibadah puasa dapat berjalan maksimal sejak malam pertama.
Di sisi lain, pendakwah perlu mempersiapkan materi yang relevan, aktual, serta mampu menggugah hati jamaah untuk bersiap menyambut Ramadhan. Terlebih, terdapat berbagai keutamaan agung Ramadhan.
Advertisement
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menjelaskan tujuan utama ibadah puasa melalui Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni membentuk pribadi bertakwa. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim menerangkan bahwa puasa merupakan sarana mendidik jiwa agar mampu meninggalkan perkara yang disukai demi menjalankan ketaatan kepada Allah. Karena itu, persiapan Ramadhan tidak cukup hanya dengan menyiapkan kebutuhan fisik, tetapi juga memperbaiki hati dan perilaku.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa para ulama salaf berdoa selama enam bulan penuh agar dipertemukan dengan Ramadhan. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan bulan tersebut di mata para pendahulu kita yang saleh.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah contoh ceramah jelang Ramadhan yang relevan dengan konteks kekinian dan tema-tema pilihan.
7 Contoh Ceramah Jelang Ramadhan
1. Menyambut Ramadhan dengan Hati Bersih
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang tak terhingga nilainya.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah SWT.
Tidak terasa, sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci yang penuh dengan keberkahan dan ampunan dari Allah.
Tema ceramah kita pada kesempatan kali ini adalah pentingnya menyambut bulan suci dengan kebersihan hati dan jiwa.
Syarat utama menyambut bulan suci adalah dengan memastikan hati kita bersih dari penyakit-penyakit batin seperti sombong, dengki, dan iri hati.
Allah SWT berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: "(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa keselamatan sejati di hadapan Allah sangat bergantung pada kondisi kebersihan hati hamba-Nya.
Hati yang bersih dari sifat dengki akan membuat ibadah puasa kita terasa ringan, khusyuk, dan penuh ketenangan.
Mari kita saling memaafkan antar sesama, meminta maaf kepada orang tua, pasangan, kerabat, serta tetangga sebelum puasa tiba.
Persiapan batin ini sama pentingnya dengan persiapan fisik, karena puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan hawa nafsu.
Kesimpulannya, bersihkan hati sebelum memasuki madrasah Ramadhan agar kita lulus menjadi insan yang bertakwa.
Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan mulia ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Mari kita berdoa, ‘Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya'bana wa ballighna Ramadhan.’ (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Melunasi Hutang Puasa Tahun Lalu
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah rabbil 'alamin, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Shalawat beriring salam mari kita sanjungkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa cahaya kebenaran Islam.
Kaum muslimin wal muslimat, jamaah sekalian yang senantiasa dirahmati Allah.
Hitungan hari terus berjalan, dan aroma wangi bulan puasa sudah mulai tercium di tengah-tengah kita.
Tema kultum kita kali ini membahas tentang kewajiban melunasi atau mengqadha hutang puasa sebelum waktu berganti.
Seringkali, karena kesibukan atau kelalaian, sebagian dari kita lupa bahwa masih ada tanggungan puasa dari tahun sebelumnya.
Allah berfirman:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Artinya: "Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184).
Dalil ini sangat jelas memberikan keringanan sekaligus kewajiban mutlak untuk mengganti puasa di hari di luar Ramadhan.
Bunda Aisyah RA pernah mencontohkan bahwa beliau terkadang baru bisa melunasi hutang puasanya di bulan Sya'ban karena kesibukan melayani Nabi.
Oleh karena itu, mari kita segera memeriksa kembali catatan amal dan ingatan kita, apakah masih ada hutang puasa yang belum terbayar.
Menunda-nunda qadha puasa tanpa udzur syar'i hingga masuk Ramadhan berikutnya adalah sebuah kelalaian yang bisa mendatangkan dosa.
Bagi jamaah wanita yang terhalang haid atau nifas tahun lalu, bulan Sya'ban ini adalah batas akhir untuk menyempurnakan ibadah Anda.
Demikian peringatan singkat ini saya sampaikan, semoga kita terhindar dari sifat menunda-nunda kebaikan.
Berdoa kita kepada Allah: ‘Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina 'adzabannar.’ (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
3. Persiapan Ilmu Fikih Puasa
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah pencipta semesta alam yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya.
Shalawat dan salam tidak lupa kita haturkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW, teladan terbaik umat manusia.
Hadirin jamaah shalat yang berbahagia dan dirahmati Allah.
Kehadiran bulan yang ditunggu-tunggu tinggal menghitung hari, menuntut kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Pada kesempatan kali ini, kultum yang akan saya sampaikan bertema pentingnya persiapan ilmu fikih ibadah puasa.
Beribadah tanpa ilmu bagaikan berjalan di kegelapan malam tanpa membawa lentera penerang jalan.
Rasulullah SAW bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah).
Hadits yang mulia ini mewajibkan kita untuk mempelajari ilmu syariat, termasuk ilmu yang berkaitan dengan rukun dan syarat puasa.
Kita harus mengetahui secara pasti apa saja yang membatalkan puasa, niat yang benar, serta sunnah-sunnah saat sahur dan berbuka.
Jangan sampai kita menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, namun puasa kita tidak sah karena ketidaktahuan.
Mari buka kembali buku-buku fikih, datangi majelis taklim, dan bertanyalah kepada para alim ulama mengenai keraguan ibadah kita.
Dengan bekal ilmu yang cukup, insya Allah kualitas ibadah kita di bulan yang suci ini akan meningkat tajam dan diterima Allah.
Sekian yang dapat saya sampaikan pada perjumpaan kali ini, kurang lebihnya mohon dibukakan pintu maaf.
Mari kita bermunajat: Allahumma inni as-aluka 'ilman nafi'an, wa rizqan thayyiban, wa 'amalan mutaqabbalan. (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
4. Memaksimalkan Ibadah di Bulan Sya'ban
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah, puji syukur milik Allah semata.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada penutup para nabi, Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah yang dirahmati oleh Allah.
Saat ini kita sedang berada di bulan Sya'ban, sebuah bulan yang seringkali dilalaikan oleh kebanyakan manusia.
Tema penyampaian materi saya kali ini adalah tentang pentingnya memaksimalkan ibadah di bulan Sya'ban sebagai pemanasan.
Bulan Sya'ban ibarat masa tanam dan perawatan sebelum kita memanen pahala besar di bulan puasa nanti.
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah tentang puasa beliau di bulan Sya'ban, lalu Nabi menjawab:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amal-amal kepada Rabb semesta alam." (HR. An-Nasa'i).
Makna dari hadits tersebut adalah sebuah anjuran agar kita tidak terlena dan justru memperbanyak amal ketika orang lain sedang lengah.
Banyaknya puasa sunnah Nabi di bulan Sya'ban adalah bentuk pengondisian fisik dan ruhani agar tidak kaget saat puasa wajib tiba.
Mari kita hidupkan hari-hari ini dengan memperbanyak tilawah Al-Qur'an, sedekah, dan puasa sunnah sesuai kemampuan kita.
Jika kita sudah terbiasa beribadah sejak Sya'ban, maka saat Ramadhan tiba, ibadah kita akan melesat ibarat kendaraan yang sudah dipanaskan mesinnya.
Demikian nasehat singkat ini, semoga menjadi pengingat bagi diri saya pribadi dan jamaah sekalian.
Mari kita tutup dengan doa, Rabbighfirli wa tub 'alayya innaka antat-tawwabur-rahim. (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
5. Menjaga Lisan Sebelum dan Saat Ramadhan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur kepada Dzat pencipta alam semesta, Allah Yang Maha Kuasa.
Shalawat bertabur salam mari kita hadiahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang telah mendidik umat dengan akhlak mulia.
Bapak, ibu, saudara-saudari jamaah sekalian yang senantiasa dilindungi Allah.
Waktu bergulir dengan cepat, menghantarkan kita ke gerbang bulan suci yang penuh dengan limpahan pahala.
Materi kultum kita pada hari ini berfokus pada pentingnya menjaga lisan, sebuah organ kecil yang bisa menghancurkan pahala puasa.
Banyak orang yang sukses menahan lapar dan dahaga, namun gagal menahan lisannya dari ghibah, dusta, dan adu domba.
Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan keras:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh kepada puasanya dari makan dan minum." (HR. Bukhari).
Hadits ini menjadi pukulan telak bagi kita yang masih suka menggosip atau menyebarkan berita hoaks di media sosial.
Puasa pada hakikatnya adalah menahan seluruh anggota tubuh dari maksiat, dan lisan adalah anggota tubuh yang paling sulit dijaga.
Mulai hari ini, mari kita latih lisan kita untuk lebih banyak berdzikir, membaca Al-Qur'an, atau diam jika tidak ada hal baik yang bisa diucapkan.
Menjaga lisan adalah kunci untuk meraih predikat takwa yang merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah puasa.
Hanya ini yang bisa saya tuturkan dalam waktu yang singkat ini, mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan.
Kita akhiri dengan doa kafaratul majelis, Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. (Maha Suci Engkau ya Allah, aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
6. Merancang Target Ibadah Ramadhan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala bentuk puji dan syukur kita kembalikan kepada Allah Pemilik segala kebesaran di langit dan bumi.
Shalawat serta salam abadi kita sampaikan kepada pemimpin para nabi, Muhammad SAW, keluarga dan seluruh umatnya.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah SWT di mana pun berada.
Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu agung yang durasinya sangat singkat, yakni hanya 29 atau 30 hari saja.
Tema bahasan kita kali ini adalah pentingnya menyusun strategi dan merancang target ibadah selama bulan suci.
Seorang muslim yang cerdas tidak akan membiarkan waktu berharga ini berlalu begitu saja tanpa pencapaian amal yang jelas.
Allah SWT berfirman mengingatkan tentang waktu:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133).
Bersegera menuju ampunan Allah berarti kita harus proaktif merencanakan ibadah, mulai dari target khatam Al-Qur'an hingga shalat tarawih berjamaah.
Buatlah jadwal harian yang terstruktur; misalnya target membaca satu juz per hari agar bisa khatam di akhir bulan.
Siapkan juga alokasi dana khusus sejak sekarang untuk memperbanyak sedekah dan memberi makan orang yang berbuka puasa.
Tanpa target yang tertulis dan niat yang kuat, hari-hari puasa kita biasanya akan dihabiskan hanya untuk tidur dan bermalas-malasan.
Demikianlah pemaparan singkat mengenai manajemen ibadah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan berbahagia ini.
Mari kita angkat tangan berdoa, Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. (Ya Allah, tolonglah kami dalam berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
7. Taubat Nasuha Sebelum Ramadhan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, syukur tak terhingga kita panjatkan kepada Allah atas nafas kehidupan dan hidayah Islam yang melekat di dada.
Shalawat dan salam mari kita lantunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang syafaatnya selalu kita nantikan di hari kiamat.
Para hadirin, bapak-bapak dan ibu-ibu jamaah rahimakumullah.
Waktu terus bergulir membawa kita selangkah lebih dekat dengan gerbang bulan kemuliaan, bulan diturunkannya rahmat.
Fokus pembicaraan kita pada pertemuan mulia ini adalah urgensi melakukan taubat nasuha sebelum memasuki arena puasa.
Kita semua adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari salah dan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar yang disengaja.
Allah Yang Maha Pengampun berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)." (QS. At-Tahrim: 8).
Perintah bertaubat dalam ayat ini menuntut kita untuk menyesali dosa, berhenti seketika, dan bertekad kuat tidak mengulanginya.
Memasuki bulan suci dengan tumpukan dosa bagaikan memasuki tempat yang sangat bersih dengan pakaian yang dipenuhi lumpur.
Air mata penyesalan yang kita teteskan malam ini akan menjadi pelebur dosa dan pembersih jiwa dalam menyambut keberkahan Allah.
Mari kita jadikan momen menjelang bulan puasa ini sebagai titik balik untuk kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT.
Inilah pesan moral singkat yang bisa saya sampaikan sebagai pengingat bagi diri saya sendiri dan hadirin sekalian.
Mari sejenak menundukkan hati berdoa: Allahumma anta rabbi la ilaha illa anta khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau, Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu...).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pertanyaan Seputar Ceramah Menjelang Ramadhan
1. Apa tema ceramah yang bagus menjelang Ramadhan?
Tema yang sangat dianjurkan adalah persiapan ilmu fikih puasa, penyucian hati dari sifat iri dan dengki, pelunasan qadha puasa, serta pentingnya menetapkan target ibadah harian.
2. Bagaimana cara menyambut Ramadhan menurut sunnah?
Sesuai sunnah Nabi SAW, penyambutan dilakukan dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, melunasi hutang puasa, bertaubat, dan memperbanyak doa memohon umur panjang agar bertemu bulan suci.
3. Apa dalil tentang keutamaan ibadah puasa Ramadhan?
Dalil utamanya adalah Surah Al-Baqarah ayat 183 yang berisi panggilan kepada orang beriman untuk berpuasa agar meraih derajat takwa, serta ayat 185 tentang bulan diturunkannya Al-Qur'an.
4. Siapa ulama yang banyak membahas persiapan Ramadhan?
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali adalah salah satu ulama klasik yang membahas secara rinci keutamaan bulan-bulan hijriyah, termasuk persiapan jelang bulan suci dalam karyanya Latha'if Al-Ma'arif.
5. Berapa lama idealnya durasi kultum Ramadhan?
Durasi ideal untuk kultum (kuliah tujuh menit) adalah berkisar antara 5 hingga 10 menit agar materi dapat tersampaikan dengan padat, jelas, dan jamaah tidak merasa jenuh.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499207/original/032366000_1770779753-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-11T101208.314.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389747/original/012986700_1793772599-Screenshot_2026-11-04_130915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6126278/original/025631900_1779010300-Tugas__13_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4749999/original/079429500_1708587393-masjid-pogung-raya-owQ3N7FZgIM-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391590/original/041022200_1793941711-IMG-20261106-WA0028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1796751/original/067677100_1540537945-pisau.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391534/original/093212500_1793938168-IMG-20261106-WA0020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389019/original/066902500_1793693209-masjid-maba-QhzQfD0ihnI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391464/original/022595400_1793934639-1001824817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391447/original/059427300_1793933258-20261105_144007.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5305290/original/014138100_1754303316-d9Sdhenm5U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391417/original/037073200_1793929915-IMG-20261105-WA0077.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)