5 Contoh Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 yang Menyentuh Hati dan Penuh Hikmah

Butuh inspirasi khutbah Jumat 23 Oktober 2026? Simak 5 contoh khutbah yang menyentuh hati, penuh hikmah, dan mengajak jemaah memperbaiki iman serta akhlak.

Liputan6.com, Jakarta - Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 dapat menjadi momentum untuk mengajak jemaah kembali merenungkan perjalanan hidup, memperkuat keimanan, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Pesan yang sederhana, tetapi disampaikan dengan bahasa yang menyentuh hati, sering kali membantu seseorang melihat kembali hal-hal penting yang selama ini terlupakan.

Ada banyak tema yang bisa diangkat dalam khutbah Jumat, mulai dari introspeksi diri, rasa syukur, menjaga lisan, berbakti kepada orang tua, hingga kesabaran menghadapi ujian kehidupan. Tema-tema tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami dan dijadikan bahan renungan oleh jemaah.

Bagi khatib yang sedang mencari referensi materi, berikut lima contoh khutbah Jumat 23 Oktober 2026 yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Setiap contoh dilengkapi pesan utama, uraian khutbah, dan doa penutup yang bisa disesuaikan. Ayat Al-Qur'an yang dicantumkan juga disertai nama surah dan nomor ayat agar mudah diperiksa kembali. Melansir dari berbagai sumber, Kamis (22/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Contoh Khutbah Jumat tentang Introspeksi Diri dan Memperbaiki Amal

Tema: Muhasabah, pertobatan, dan persiapan menghadapi akhirat.

Khutbah pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk kembali menunaikan ibadah salat Jumat. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya terlihat ketika kita berada di masjid, melainkan juga melalui kejujuran, tanggung jawab, dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari.

Isi khutbah

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, pernahkah kita meluangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri tentang perjalanan hidup yang telah kita lalui? Sudahkah waktu yang kita miliki digunakan untuk melakukan kebaikan? Sudahkah lisan kita terjaga dari perkataan yang menyakiti? Sudahkah hak orang lain kita tunaikan dengan sebaik-baiknya?

Sering kali manusia begitu sibuk menilai kekurangan orang lain, tetapi lupa memeriksa dirinya sendiri. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, sementara kekeliruan pribadi terkadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, memperbaiki diri merupakan bagian penting dari perjalanan seorang muslim menuju ketakwaan.

Allah SWT mengingatkan orang-orang beriman agar memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hasyr ayat 18. Ayat tersebut mengajarkan pentingnya bertakwa dan mengevaluasi amal yang telah dilakukan untuk kehidupan akhirat.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai pencapaian akan memiliki nilai yang berbeda apabila tidak disertai keimanan serta amal saleh. Karena itu, jangan sampai kesibukan mengejar urusan dunia membuat kita lupa menunaikan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia.

Muhasabah tidak harus dimulai dari perubahan besar. Kita bisa memulainya dengan mengakui kesalahan, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, mengembalikan hak orang lain, memperbaiki salat, dan membiasakan diri melakukan kebaikan secara konsisten.

Jemaah Jumat rahimakumullah, jangan menunggu menjadi tua untuk bertobat. Jangan pula menunggu datangnya musibah untuk kembali mendekat kepada Allah SWT. Selama masih diberi kesempatan hidup, pintu untuk memperbaiki diri harus kita sambut dengan kesungguhan.

Penutup khutbah pertama

Marilah kita menjadikan hari Jumat ini sebagai pengingat untuk memperbaiki kualitas iman dan amal. Semoga setiap langkah kita senantiasa diarahkan kepada kebaikan dan setiap kesalahan menjadi pelajaran untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Khutbah kedua

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa kaum muslimin serta muslimat. Bimbinglah kami agar mampu memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, menjaga amanah, dan mengakhiri kehidupan dalam keadaan beriman kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan memperbaiki amal sebelum datangnya waktu yang tidak dapat kami tunda.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Walhamdulillahi rabbil 'alamin.

Pesan utama: Jangan sibuk menghakimi orang lain hingga lupa mengevaluasi diri sendiri. Gunakan kesempatan hidup untuk memperbaiki amal dan memohon ampunan Allah SWT.

2. Contoh Khutbah Jumat tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT

Tema: Rasa syukur, kesederhanaan, dan menggunakan nikmat untuk kebaikan.

Khutbah pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita, baik yang kita sadari maupun yang sering luput dari perhatian. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan dalam keimanan, kesabaran, dan akhlak mulia.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu wujud ketakwaan adalah mensyukuri nikmat-Nya melalui hati, lisan, dan perbuatan.

Isi khutbah

Jemaah yang dimuliakan Allah, manusia sering kali baru menyadari besarnya nikmat ketika nikmat tersebut berkurang atau hilang. Kita baru benar-benar menghargai kesehatan ketika jatuh sakit. Kita baru merasakan pentingnya waktu bersama keluarga ketika jarak memisahkan. Bahkan, nikmat sederhana seperti bisa bernapas dengan lega, menikmati makanan, dan beristirahat dengan tenang terkadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, nikmat Allah SWT begitu luas. Ada nikmat yang tampak jelas, seperti rezeki dan tempat tinggal, tetapi ada pula nikmat yang tidak selalu kita sadari, seperti kesempatan untuk bertobat, memiliki orang-orang yang peduli, serta kemampuan untuk kembali beribadah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7 bahwa apabila manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya. Ayat ini menjadi pengingat agar kita tidak terjebak dalam kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain hingga melupakan apa yang sudah dimiliki.

Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Seorang muslim tetap boleh bekerja keras, menuntut ilmu, membangun usaha, dan memperbaiki taraf hidup. Namun, semua ikhtiar tersebut hendaknya dilakukan tanpa mengabaikan kewajiban, melanggar aturan Allah, atau merendahkan orang lain.

Syukur juga bukan hanya ucapan alhamdulillah. Ketika memperoleh rezeki, kita bersyukur dengan mencari nafkah secara halal, menunaikan kewajiban zakat apabila telah memenuhi ketentuannya, bersedekah, dan membantu orang yang membutuhkan. Ketika memperoleh ilmu, kita bersyukur dengan mengamalkannya untuk hal yang bermanfaat. Ketika diberi kesehatan, kita menggunakannya untuk beribadah dan melakukan kebaikan.

Jemaah Jumat rahimakumullah, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki hingga melupakan nikmat yang sudah berada di hadapan kita. Tidak semua orang memiliki perjalanan hidup yang sama. Karena itu, syukur perlu berjalan bersama ikhtiar, kesabaran, dan kerelaan menerima ketetapan Allah.

Mari mulai dari hal kecil. Ucapkan terima kasih kepada orang yang membantu kita, hargai jerih payah keluarga, hindari menyia-nyiakan makanan, dan gunakan rezeki secara bertanggung jawab. Dengan demikian, rasa syukur tidak berhenti di lisan, tetapi terlihat dalam tindakan nyata.

Penutup khutbah pertama

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, tidak mudah mengeluh, dan mampu menggunakan setiap nikmat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Khutbah kedua

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk beribadah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita menjaga ketakwaan dan membiasakan diri mensyukuri nikmat Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Ya Allah, berkahilah rezeki kami, sehatkanlah tubuh kami, tenteramkanlah keluarga kami, dan tuntunlah kami agar mampu menggunakan segala nikmat-Mu di jalan yang Engkau ridai. Jauhkan kami dari sifat kufur nikmat, keserakahan, dan kebiasaan meremehkan pemberian-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan agama. Ampunilah dosa kami dan terimalah amal ibadah kami.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Pesan utama: Kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya hal yang dimiliki, tetapi juga dengan kemampuan mensyukuri nikmat dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

3. Contoh Khutbah Jumat tentang Menjaga Lisan dan Akhlak

Tema: Menghindari fitnah, ghibah, dan perkataan yang menyakiti.

Khutbah pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan manusia kemampuan berbicara dan kesempatan untuk menyampaikan kebaikan. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagi umat manusia dalam perkataan dan perbuatan.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan menjaga hati, lisan, dan perilaku. Jangan sampai perkataan yang kita anggap ringan justru menyakiti orang lain atau menimbulkan permusuhan.

Isi khutbah

Jemaah yang dirahmati Allah, lisan adalah bagian tubuh yang kecil, tetapi perkataan yang keluar darinya dapat membawa pengaruh besar. Satu kalimat yang baik bisa menguatkan orang yang sedang bersedih. Sebaliknya, satu kalimat yang merendahkan dapat meninggalkan luka yang sulit dilupakan.

Di tengah kehidupan modern, menjaga lisan juga berarti berhati-hati ketika menggunakan media sosial. Pesan singkat, komentar, unggahan, dan informasi yang diteruskan kepada orang lain dapat menyebar dengan cepat. Karena itu, seorang muslim perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Qaf ayat 18 bahwa tidak ada suatu kata yang diucapkan melainkan ada pengawas yang selalu siap mencatatnya. Ayat ini mengajarkan bahwa perkataan bukanlah perkara sepele. Apa yang kita sampaikan perlu dipertanggungjawabkan.

Menjaga lisan bukan berarti kita tidak boleh memberikan kritik atau menyampaikan pendapat. Kritik tetap diperlukan ketika ada kesalahan. Namun, kritik sebaiknya disampaikan dengan cara yang benar, berdasarkan fakta, dan bertujuan memperbaiki keadaan, bukan mempermalukan seseorang.

Kita juga perlu menghindari ghibah, fitnah, penghinaan, serta kebiasaan membicarakan kekurangan orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar? Apakah perlu disampaikan? Apakah cara penyampaiannya baik? Apakah ada manfaat yang bisa diperoleh?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita menahan diri dari perkataan yang tidak perlu. Jika tidak mampu menyampaikan sesuatu dengan baik, diam bisa menjadi pilihan yang lebih bijaksana daripada menambah masalah.

Jemaah Jumat rahimakumullah, akhlak mulia tidak hanya terlihat ketika kita berbicara dengan orang yang kita sukai. Akhlak juga terlihat ketika kita menghadapi orang yang berbeda pendapat, seseorang yang pernah mengecewakan kita, atau orang yang kedudukannya lebih rendah secara sosial maupun ekonomi.

Mari jadikan lisan sebagai sarana untuk berdakwah, menghibur, menguatkan, dan mendamaikan. Jika pernah menyakiti orang lain, berusahalah meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Jangan merasa rendah hati untuk mengakui kesalahan, sebab keberanian memperbaiki diri merupakan bagian dari akhlak yang baik.

Penutup khutbah pertama

Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu menjaga lisan, membersihkan hati, dan memperindah perilaku. Semoga setiap perkataan yang keluar dari diri kita membawa manfaat dan tidak menjadi sebab kerugian bagi orang lain.

Khutbah kedua

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita bertakwa kepada Allah dan menjaga perkataan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berbicara langsung maupun ketika menggunakan media sosial.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kebencian, iri hati, dan kesombongan. Jagalah lisan kami dari dusta, fitnah, ghibah, dan perkataan yang menyakiti. Bimbinglah kami agar mampu menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan mendamaikan orang-orang yang berselisih.

Ya Allah, ampunilah kesalahan kami terhadap sesama manusia dan berilah kami kekuatan untuk meminta maaf serta memperbaiki hubungan yang rusak.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Pesan utama: Akhlak seorang muslim tercermin dari perkataannya. Berbicaralah untuk menyampaikan kebaikan, bukan untuk merendahkan atau melukai orang lain.

4. Contoh Khutbah Jumat tentang Berbakti kepada Orang Tua

Tema: Menghormati orang tua, membalas kebaikan, dan mendoakan mereka.

Khutbah pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang memerintahkan manusia untuk beriman, berbuat baik, dan menghormati kedua orang tua. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa berusaha mengikuti petunjuk beliau.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk ketaatan yang memiliki kedudukan penting dalam Islam adalah berbakti kepada kedua orang tua, menghormati mereka, dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.

Isi khutbah

Jemaah yang dimuliakan Allah, ketika kita masih kecil, orang tua berusaha memenuhi kebutuhan kita dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Mereka menjaga kita ketika sakit, mengkhawatirkan keselamatan kita, dan sering kali mengesampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan anak-anaknya.

Namun, ketika kita tumbuh dewasa, kesibukan pekerjaan dan urusan rumah tangga terkadang membuat perhatian kepada orang tua berkurang. Ada yang jarang menelepon, enggan mendengarkan cerita mereka, atau mudah merasa terganggu ketika orang tua mengulang pertanyaan yang sama. Padahal, hal-hal sederhana tersebut bisa berarti besar bagi mereka.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dalam QS. Al-Isra ayat 23–24. Dalam ayat tersebut, Allah melarang manusia mengucapkan perkataan yang menunjukkan kejengkelan kepada orang tua dan memerintahkan agar mereka diperlakukan dengan perkataan yang mulia.

Perintah ini menjadi pengingat bahwa bakti tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian materi yang besar. Menyapa dengan lembut, membantu pekerjaan rumah, memenuhi kebutuhan sesuai kemampuan, menemani ketika sakit, dan mendengarkan dengan sabar juga merupakan bentuk perhatian yang bermakna.

Bagi orang tua yang masih hidup, jangan menunda untuk menunjukkan kasih sayang. Hubungi mereka ketika memiliki kesempatan, tanyakan kabar dan kebutuhan mereka, serta luangkan waktu untuk berkunjung jika memungkinkan. Jika terdapat perbedaan pendapat, usahakan menyampaikannya dengan sopan dan tidak merendahkan.

Sementara itu, bagi orang tua yang telah meninggal dunia, seorang anak tetap dapat berbakti melalui doa, memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka, menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, dan meneruskan kebaikan yang sejalan dengan ajaran Islam.

Jemaah Jumat rahimakumullah, berbakti kepada orang tua bukan berarti menaati setiap permintaan tanpa batas. Apabila orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah, seorang anak tidak boleh mengikuti perintah tersebut. Namun, penolakan tetap harus disampaikan dengan santun dan penuh penghormatan.

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadiran orang tua. Selagi masih ada kesempatan, berikan perhatian terbaik sesuai kemampuan. Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa kepada orang-orang yang pernah berjuang demi kehidupan kita.

Penutup khutbah pertama

Semoga Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang berbakti, lembut dalam perkataan, dan tulus dalam memberikan perhatian kepada kedua orang tua. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka sebagaimana mereka telah merawat kita sejak kecil.

Khutbah kedua

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan menjaga hubungan baik dengan kedua orang tua. Jangan menunggu hari esok untuk menunjukkan kasih sayang jika kita masih memiliki kesempatan hari ini.

Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi dan merawat kami ketika kecil. Jika mereka masih hidup, berikanlah kesehatan, keberkahan usia, ketenangan hati, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Jika mereka telah meninggal dunia, limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu kepada mereka.

Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu membalas kebaikan mereka dengan bakti yang tulus dan perilaku yang Engkau ridai.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Pesan utama: Berbakti kepada orang tua dapat dimulai dari perhatian kecil yang dilakukan dengan tulus. Jangan biarkan kesibukan membuat kita melupakan jasa mereka.

5. Contoh Khutbah Jumat tentang Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Kehidupan

Tema: Keteguhan iman, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT.

Khutbah pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan kekuatan kepada hamba-Nya untuk menghadapi berbagai keadaan kehidupan. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan dalam kesabaran, keteguhan hati, dan tawakal kepada Allah.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam perjalanan hidup, kita tidak selalu mendapatkan keadaan yang sesuai dengan harapan. Ada masa ketika rezeki terasa lapang, tetapi ada pula masa ketika berbagai kesulitan datang secara berurutan. Dalam setiap keadaan, kita perlu menjaga iman dan tetap berusaha melakukan hal yang benar.

Isi khutbah

Jemaah yang dimuliakan Allah, setiap manusia memiliki ujian yang berbeda. Ada yang diuji melalui kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, masalah keluarga, kegagalan dalam pekerjaan, atau harapan yang belum terwujud. Ada pula yang diuji melalui kelapangan rezeki, jabatan, dan keberhasilan yang dapat membuat seseorang lupa diri.

Karena itu, ujian tidak selalu hadir dalam bentuk kesulitan. Keadaan yang menyenangkan pun dapat menjadi ujian tentang bagaimana seseorang menggunakan nikmat dan menjalankan tanggung jawabnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153 agar orang-orang beriman memohon pertolongan melalui kesabaran dan salat. Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim perlu menguatkan hubungan dengan Allah ketika menghadapi persoalan, bukan justru menjauh dari-Nya.

Namun, sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ketika menghadapi masalah ekonomi, kita tetap perlu bekerja, menyusun pengeluaran, dan mencari jalan keluar yang halal. Ketika menghadapi konflik keluarga, kita perlu berkomunikasi dengan baik dan mencari penyelesaian yang adil. Ketika sakit, kita dapat berdoa sekaligus berikhtiar mencari pengobatan yang tepat.

Sabar juga bukan berarti membiarkan diri terus-menerus berada dalam keadaan yang membahayakan. Jika menghadapi kekerasan atau perlakuan yang merugikan, seseorang tetap boleh mencari pertolongan dan perlindungan. Ikhtiar yang benar merupakan bagian dari usaha menghadapi ujian, bukan tanda bahwa seseorang kurang tawakal.

Jemaah Jumat rahimakumullah, terkadang kita merasa bahwa doa belum dikabulkan karena keadaan tidak segera berubah. Dalam situasi seperti itu, jangan tergesa-gesa berputus asa. Teruslah berdoa, memperbaiki ikhtiar, dan meminta nasihat kepada orang yang dapat dipercaya. Kita tidak selalu memahami seluruh hikmah di balik suatu peristiwa, tetapi kita tetap dapat memilih untuk bersikap baik dan menjalani tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.

Kesabaran juga perlu diwujudkan dalam hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai tekanan hidup membuat kita melampiaskan kemarahan kepada keluarga, merugikan orang lain, atau mengambil jalan pintas yang dilarang agama. Ketika hati sedang berat, berusahalah menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.

Ingatlah bahwa tidak semua masalah dapat selesai dalam satu malam. Ada keadaan yang membutuhkan waktu, pertolongan orang lain, dan langkah kecil yang dilakukan berulang kali. Selama jalan yang ditempuh tetap benar, jangan meremehkan kemajuan sekecil apa pun.

Penutup khutbah pertama

Semoga Allah SWT menguatkan hati kita ketika menghadapi kesulitan, menjauhkan kita dari keputusasaan, dan membimbing kita agar tetap berikhtiar serta bertawakal kepada-Nya.

Khutbah kedua

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Jemaah Jumat rahimakumullah, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Apa pun keadaan yang sedang kita hadapi, jangan meninggalkan doa, salat, dan usaha untuk memperbaiki kehidupan.

Ya Allah, kuatkanlah hati kami dalam menghadapi ujian. Berikanlah jalan keluar bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan, lapangkanlah rezeki mereka yang membutuhkan, berikanlah kesembuhan kepada mereka yang sakit, dan anugerahkanlah ketenteraman kepada keluarga yang sedang menghadapi persoalan.

Ya Allah, jauhkan kami dari keputusasaan, bimbinglah langkah kami menuju jalan yang benar, dan jadikanlah kami hamba yang sabar tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.

Ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa kaum muslimin serta muslimat. Terimalah amal ibadah kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman kepada-Mu.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.

Pesan utama: Kesabaran perlu berjalan bersama doa dan ikhtiar. Jangan menyerah pada keadaan, tetapi tetap tempuh jalan yang benar untuk mencari pertolongan dan menyelesaikan masalah.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Khutbah Jumat 23 Oktober 2026

1. Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 cocok membahas tema apa?

Tema yang dapat dipilih antara lain introspeksi diri, rasa syukur, menjaga lisan, berbakti kepada orang tua, dan kesabaran menghadapi ujian kehidupan. Khatib sebaiknya memilih tema yang relevan dengan kebutuhan jemaah.

2. Apakah naskah khutbah Jumat harus panjang?

Tidak harus panjang. Hal yang lebih penting adalah memenuhi ketentuan khutbah yang berlaku, menyampaikan pesan dengan jelas, dan menggunakan dalil yang tepat. Naskah dapat disesuaikan dengan durasi serta kondisi jemaah.

3. Apa saja unsur penting dalam khutbah Jumat?

Secara umum, khutbah Jumat terdiri dari dua khutbah yang dipisahkan dengan duduk di antara keduanya. Rukun dan ketentuannya perlu diperhatikan sesuai mazhab serta pedoman yang dianut. Karena itu, khatib sebaiknya memeriksa kembali persyaratan khutbah kepada ulama atau lembaga keagamaan yang tepercaya.

4. Bolehkah khatib mengembangkan contoh khutbah dari artikel ini?

Boleh dijadikan bahan referensi dan dikembangkan dengan bahasa sendiri. Namun, ayat, hadis, dan keterangan agama harus tetap diperiksa ketepatannya. Khatib juga perlu memastikan naskah akhirnya memenuhi ketentuan khutbah yang berlaku.

5. Bagaimana agar khutbah Jumat lebih menyentuh hati?

Sampaikan pesan secara tulus, gunakan contoh yang dekat dengan kehidupan jemaah, hindari merendahkan pihak tertentu, dan tutup dengan ajakan memperbaiki diri. Tujuannya bukan sekadar membuat jemaah terharu, melainkan membantu mereka memahami dan mengamalkan pesan kebaikan.